Articles
DOI: 10.21070/icecrs2020428

The Importance of Happiness at Work in Shaping the Performance of Insurance Agents at PT. A Surabaya


Pentingnya Kebahagiaan Di Tempat Kerja Dalam Membentuk Kinerja Agen Asuransi Di PT. A Surabaya

Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Indonesia
happiness performance agent insurance

Abstract

Employee performance is the result of employee work based on capabilities that can be measured in quantity or quality to carry out certain tasks or work during a specified period of time in accordance with the demands of work and responsibility given to him. While happiness is a latent construct and advantages of the positive aspects as satisfaction and overall quality of human life. Everything that makes an individual feel better and happy with what they have learned. This study aims to determine the correlation between the performances of the insurance agent with happiness in the workplace. This research was conducted on the insurance company PT. A, Surabaya, with participants (N = 50) is an insurance agent who has worked at least one year, once the training, regular meetings and seminars held firm at least 3 times. Data were collected by purposive sampling method. The data collection was carried out by using Performance Scale Ratings which includes five dimensions of performance appraisal, and Happiness Scale by using Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). Data were analyzed using Pearson Product Moment parametric statistical analysis. The result of data shows that correlation coefficient was 0.802 with sig 0.000 (p <0.05), which means that there is a positive relationship between performance of the agents in the insurance of PT.A,Surabaya with happiness) in the workplace. Based on these results, happiness is proven to contribute effectively to the performance of an insurance agent in PT. A, Surabaya 64.4%. Descriptively, happiness levels of agent  in PT.A,Surabaya  was  classified as moderate to high and most of the agents have a high level of happiness of 58% and most insurance agent in PT.A, Surabaya had high level of performance at 68 %

PENDAHULUAN

Pada era globalisasi ini persaingan semakin ketat, baik persaingan antara tenaga kerja maupun persaingan antar perusahaan. Salah satu bentuk globalisasi secara regional adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA akan dimulai pada akhir tahun 2015 negara – negara ASEAN termasuk Indonesia. Hal ini menyebabkan terjadi persaingan antara perusahaan dalam negeri dan perusahaan asing, Perusahaan dituntut untuk bersaing dalam meningkatkan kualitasnya. Persaingan yang ada membuat perusahaan harus selalu melakukan inovasi, meningkatkan teknologi, kualitas pelayanan dan pemasaran dalam perusahaan tersebut.

Meningkatnya kualitas perusahaan tidak akan terlepas dari instrumen-instrumen yang ada di perusahaan. Instrumen-instrumen perusahaan tersebut meliputi sumber daya alam, teknologi dan modal, serta yang tidak kalah penting adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia menjadi faktor penggerak terpenting bagi suatu perusahaan. Sumber daya manusia yang dalam hal ini pegawai merupakan aset utama perusahaan yang memiliki peran aktif dalam setiap aktifitas perusahaan, baik sebagai perencana, pelaku dan penentu tercapainya tujuan perusahaan. Oleh karena itu kualitas kinerja pegawai sangat diperlukan, agar dapat meningkatkan profit perusahaandan pada akhirnya dapat mengembangkan perusahaan menjadi lebih baik.

Dalam rangka memperbaiki kualitas SDM di Indonesia, pemerintah berupaya memperbaiki kurikulum dalam sektor pendidikan, terutama melalui perguruan tinggi. Namun pada kenyataannya, tingkat kinerja atau kualitas tenaga kerja Indonesia masih tergolong rendah. Survei mengatakan bahwa rendahnya kompetensi pekerja di Indonesia, akan berdampak negatif terhadap perekonomian nasional karena akan menyebabkan daya saing nasional menjadi rendah. World Economic Forum (WEF) dalam surveinya pada 2010 mencatat, peringkat daya saing Indonesia di posisi 44. Posisi itu di bawah sejumlah negara pesaing utama kita di Asia Tenggara, seperti Singapura di peringkat 3, Malaysia (26), dan Thailand (38). Daya saing Indonesia juga di bawah macan ekonomi global Tiongkok di posisi 27 (Suara Pembaruan, 2011).

Salah satu perusahaan yang merasakan dampak sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas dalam negeri adalah perusahaan asuransi. Data dilapangan yang penulis dapatkan bedasarkan hasil wawancara dengan agency director di suatu perusahaan asuransi mengatakan bahwa dalam satu team yang terdiri dari 70 orang terdapat 65% agent yang tidak produktif dalam bekerja dan yang produktif hanya 35%.

Penulis The Happiness Advantage, Shawn Jangkar, menemukan bahwa otak bekerja lebih baik ketika seseorang dipenuhi energi positif. Pada saat tersebut, orang cenderung lebih kreatif dan piawai memecahkan masalah. Penelitian tambahan menunjukkan saat pekerja senang, mereka akan menjadi kolaborator handal sehingga lebih efektif bekerja menuju tujuan bersama [1].

[2] fakor- faktor yang dapat mempengaruhi prestasi kerja antara lain: motivasi, kepuasan kerja, tingkat stres dalam bekerja kondisi fisik pekerjaan, sistem kompensasi, desain pekerjaan dan aspek-aspek ekonomis, teknis serta keperilakuan lainnya. Oleh karena itu seorang karyawan harus memiliki emosi yang positif dalam melakukan pekerjaannya sehingga mereka dapat terhindar dari stres kerja dan dapat bekerja lebih produktif di tempat kerjanya.

Seseorang yang berbahagia menunjukkan bahwa dirinya memiliki emosi yang lebih positif, hidup yang lebih lama, dan kesejahteraan hidup [3]. Bahkan Jauregui [4] menegaskan bahwa tertawa adalah sebuah emosi positif, yang dilukiskan oleh perasaan subjektif dari kebahagian dan dapat dengan mudah diketahui dari ekspresi wajah. Emosi positif ini akan melawan emosi negatif yang dialami saat seseorang mengalami stres seperti kecemasan, kesedihan, dan kemarahan. Hal inilah yang menyebabkan seseorang yang memiliki emosi positif ini akan memandang sebuah masalah tanpa menjadikannya sebagai suatu beban atau stresor yang berarti (Grimett, 2011). Sehingga individu yang berbahagia akan jarang mengalami stresketika bekerja. [5].

Bedasarkan data diatas, kebahagiaan dalam bekerja menjadi salah satu faktor yang penting untuk meningkatkan kinerja pegawai di dalam suatu perusahaan. Berikut ini terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang ditempat kerja antara lain: (1) hubungan positif dengan orang lain (47,2%), (2) prestasi (22,4%), (3) lingkungan kerja fisik (17,0 %), (4) kompensasi (12,0 %), (5) kesehatan (1,5%) [6].

Data di lapangan yang penulis dapatkan bedasarkan hasil wawancara dengan salah satu mantan Senior Agency Manager yang berhenti karena merasa tidak nyaman atau tidak cocok bekerjadi perusahaan asuransi PT.Y adalah hubungan positif dengan rekan kerja dapat mempengaruhi emosi dan kinerja kita.

Bedasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa hubungan (relationship) dengan orang lain sangat menentukan apakah individu merasa bahagia atau tidak bahagia ditempat kerjanya dan hal tersebut dapat mempengaruhi kinerja mereka dalam perusahaan tersebut. Berdasarkan tujuan penilaian kinerja dan fungsi kebahagiaan maka ,peneliti ingin melakukan penelitian yang berjudul “Pentingnya Kebahagiaan di Tempat Kerja dalam membentuk Kinerja Agent Asuransi PT.A Cabang Surabaya”. Penulis memilih perusahaan asuransi PT.A Cabang Surabaya karena disana tampak bahwa kinerja pegawainya kurang produktif dan sering terjadi pertengkaran antar agent dalam team.

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara Kebahagiaan denganKinerja pada Agent di Perusahaan Asuransi PT.A Cabang Surabaya.

METODE

Partisipan Penelitian

Partisipan dalam penelitian adalah agent asuransi di PT. A Cabang Surabaya. Peneliti menggunakan purposive sampling sebagai tehnik pengambilan sampel. Purposive Sampling adalah tehnik penentuan sampel bedasarkan kiteria yang ditentukan oleh peneliti. Adapun kiteria subjek penelitian sebagai berikut:

  1. Bekerja sebagai agent asuransi di PT. A Cabang Surabaya minimal selama 1 tahun
  2. Pernah mengikuti minimal 3 kali training, seminar dan meeting rutin.

Selain menggunakan tehnik purposive sampling, peneliti menentukan jumlah subjek penelitian dengan taraf signifikansi sebesar 10% dengan rumus Slovin yaitu dan di dapatkan 33 orang partisipan dalam penelitian ini.

Alat Ukur

Alat ukur yang digunakan sebagai alat pengumpulan data untuk variabel kinerja dalam penelitian ini menggunakan skala kinerja. Skala ini memiliki 6 alternatif pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju Sekali (SSS), Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS), Sangat Tidak Setuju Sekali (STSS) yang akan memuat 5 aspek kinerja yaitu:

(1). kuantitas pekerjaan dalam penelitian ini adalah hasil produksi yang dicapai agent asuransi.

(2) kualitas pekerjaan dalam penelitian ini adalah pelayanan kepada nasabah pra dan pasca membeli produk, proses dalam mencapai kuantitas tersebut.

(3) ketepatan waktu yaitu ketepatan waktu menghadiri meeting yang diadakan di perusahaan tersebut.

(4) kehadiran yaitu tingkat kehadiran agent dalam menghadiri seminardan meeting di perusahaan tersebut

(5) kemampuan kerja sama adalah kemampuan para agent untuk bekerja sama dalam teamnya sehingga team tersebut dapat semakin berkembang.

Sedangkan alat ukur untuk variabel yang digunakan untuk mengukur variabel kebahagiaan (happiness) dalam penelitian ini menggunakan skala Oxford Happiness Questionnaire (OHQ) yang diterjermahkan. Skala ini bertujuan untuk mengungkap kebahagiaan (Happiness). Oxford Happiness Questionnaire (OHQ) memuat 6 aspek yaitu life satisfaction ,joy, self-esteem, calm, control dan efficacyyang memiliki 6 alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju Sekali (SSS), Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS), Sangat Tidak Setuju Sekali (STSS).

Metode uji validitas dalam peneltian ini adalah validitas isi. Sedangkan metode reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsistensi internal.

Prosedur Penelitian

Prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini adalah peneliti pertama-tama mengurus surat perizinan ke pihak perusahaan. Setelah itu peneliti membuat alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian yaitu Skala Kebahagiaan (Happiness) dan Skala Kinerja. Setelah proses pembuatan alat ukur selesai, peneliti membagikan kuesioner tersebut kepada partisipan penelitian (Agent Asuransi PT. A Cabang Surabaya) sebanyak 50 partisipan dengan tehnik tryout terpakai (30 :20). Kemudian peneliti mengolah dan menganalisis data yang didapatkan menggunakan SPSS.

Tehnik A nalisis D ata

Tehnik analisis data dalam penelitian ini menggunakan tehnik analisis data Parametik Pearson Product Moment menggunakan progam SPSS versi 16. Tehnik analisis data Pearson Product Moment memerlukan uji asumsi yaitu uji normalitas dan uji linieritas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kerangka Teoritis

a. Kinerja

[7] kinerja adalah hasil pekerjaan yang dicapai seseorang bedasarkan persyaratan-persyaratan pekerjaan. Suatu pekerjaan memiliki persyaratan-persyaratan tertentu untuk dapat dilakukan sesuai tujuan. Teori ini diperkuat oleh pendapat [8] mengatakan kinerja atau prestasi kerja adalah hasil kerja secara kuantitas dan kualitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya

Untuk memudahkan penilaian karyawan, standar pekerjaan dapat diukur dan dipahami secara jelas. [7] standar pekerjaan dapat diukur melalui :

1. Jumlah Pekerjaan (Kuantitas)

Dimensi ini menunjukkan jumlah perkerjaan yang dihasikan oleh individu atau kelompok sebagai persyaratan yang menjadi standar suatu pekerjaan. Setiap pekerjaan mempunyai persyaratan yang berbeda-beda sehingga menuntut karyawan harus memenuhi persyaratan tersebut baik pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang sesuai. Bedasarkan persyaratan tersebut maka dalam dimensi ini dapat diukur setiap karyawan mampu menyelesaikan berapa unit pekerjaan.

2. Kualitas Pekerjaan

Setiap karyawan dalam perusahaan harus memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat menghasilkan pekerjaan sesuai dengan kualitas yang dituntut suatu pekerjaan tertentu. Setiap pekerjaan memiliki standar kualitas tertentu yang harus disesuaikan oleh karyawan. Karyawan memiliki kinerja baik apabila dapat menghasilkan pekerjaan sesuai persyaratan kualitas yang dituntut oleh pekerjaan tersebut.

3. Ketepatan Waktu

Setiap pekerjaan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Untuk jenis pekerjaan tertentu harus diselesaikan tepat waktu, karena memiliki ketergantungan dengan pekerjaan lainnya. Pada dimensi ini karyawan dituntut untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.

4. Kehadiran

Suatu pekerjaan tertentu menuntut kehadiran karyawan dalam mengerjakannya sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kinerja karyawan ditentukan oleh tingkat kehadiran karyawan dalam mengerjakan.

5. Kemampuan kerja sama

Tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan satu orang karyawan saja. Untuk jenis pekerjaan tertentu mungkin harus diselesaikan oleh dua karyawan atau lebih. Seehingga kerjasama antarkaryawan dibutuhkan.Kinerja karyawan dapat dinilai dari kemampuannya bekerja sama dengan karyawan lainnya.

b. Kebahagiaan

Kebahagiaan dan kepuasan hidup merupakan salah satu unsur dari kesejahteraan. Dalam teori kebahagiaan autentik, kebahagiaan merupakan pusat dari psikologi positif. Dalam teori kebahagiaan autentik, kekuatan dan keutamaan merupakan penopang bagi keterlibatan [9]. Teori kebahagiaan mengklaim bahwa cara kita membuat pilihan adalah untuk memperkirakan berapa banyak kebahagiaan (kepuasan hidup) yang terjadi, kemudian dapat mengambil keputusan yang dapat memaksimalkan masa depan [10].

Menurut Argyle, Martin & Crossland terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang [11] antara lain :

1. Life Satisfaction (Kepuasan hidup)

Mencakup seperti merasakan kepuasan hidup,mendapat penghargaan atas hidup , merasa nyaman dengan orang lain, tertarik dengan orang lain, merasa optimis, menemukan keindahan dalam segala sesuatu, memiliki kontrol dalam hidup, memiliki makna dan tujuan dalam hidup.

2. Joy (Kebahagiaan)

Mencakup seperti penerimaan diri, mengalami keceriaan dan kegembiraan dengan orang lain, bergairah dalam hidup, banyak tertawa, merasa bahagia, mudah mengambil keputusan.

3. Self- esteem (Harga Diri)

Mencakup seperti merasa dunia itu indah, berkomitmen dan berpengaruh, terlihat energik, merasa hidup itu menyenangkan.

4. Calm (Ketenangan)

Mencakup kewaspadaan secara mental, dapat mengatur waktu, memiliki memori yang menyenangkan.

5. Control (Kontrol Diri)

Mencakup seperti dapat mengontrol diri sendiri, dapat melakukan berbagai macam hal.

6. Efficacy (Kemudahan)

Mencakup seperti kemampuan untuk melihat keindahan dalam beberapa hal..

Argyle, Martin & Crossland mengembangkan teori Ed Dienner untuk membuat alat ukur tentang kebahagiaan yang dikenal dengan nama Oxford Happiness Questionnaire (OHQ).

HASIL PENELITIAN

Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

Hasil uji reliabilitas OHQ menunjukkan nilai koefisien Alpha Cronbach 0,920 dan nilai validitas aitem yang berkisar 0,328 sampai 0,736. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa reabilitas alat ukur skala happiness dalam penelitian ini tergolong tinggi (>0,7) dan memiliki validitas yang baik (>0,3). Sementara itu hasil uji reabilitas skala penilaian kinerja mendapatkan nilai koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,838 dan nilai validitas aitem yang berkisar 0,308 sampai 0,740. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa reliabilitas alat ukur skala penilaian kinerjadalam penelitian ini tergolong tinggi (>0,7) dan memiliki validitas yang baik (>0,3).

Uji Asumsi

Hasil uji asumsi dalam penelitian iniadalah uji normalitas uji linieritas dalam penelitian ini terpenuhi sehingga dapat dilakukan uji hipotesis.

Uji normalitas adalah uji asumsi untuk melihat apakah data terdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini, untuk variabel kebahagiaan didapatkan sig.200 ≥0,05 dan untuk variabel kinerja didapatkan sig.0.077 ≥0,05 sehingga data dikatakan terdistribusi normal. Sehingga uji normalitas dalam penelitian ini terpenuhi.

Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Kebahagiaan .098 50 .200* .970 50 .234
Kinerja .118 50 .077 .980 50 .547
a. Lilliefors Significance Correction*. This is a lower bound of the true significance.
Table 1.Uji Normalitas

Uji linieritas dilakukan untuk melihat apakah model yang dibangun memiliki hubungan linier atau tidak. Uji linieritas terpenuhi bila data yang diperoleh linier (sig. ≤0.05). Dalam penelitian ini uji linieritas dikatakan terpenuhi karena didapatakan nilai sig. = 0.00 ≤ 0.05.

ANOVA Table
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
kinerja * kebahagiaan Between Groups (Combined) 1661.59 30 55.39 4.78 .000
Linearity 1211.78 1 1211.78 104.5 .000
Deviation from Linearity 449.82 29 15.51 1.34 .257
Within Groups 220.33 19 11.596
Total 1881.92 49
Table 2.Uji Linieritas

Uji Hipotesis

happiness Kinerja
Kebahagiaan Pearson Correlation 1 .802**
Sig. (2-tailed) .000
N 50 50
kinerja Pearson Correlation .802** 1
Sig. (2-tailed) .000
N 50 50
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Table 3.Uji Hipotesis

Dalam penelitian ini diperoleh nilai sig. sebesar 0,00 ≤ 0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel kebahagiaan dan kinerja, dengan arah hubungan yang positif dengan nilai pearson correlation sebesar 0,802. Arah kolerasi yang positif ini menunjukkan arah hubungan antara variabel happiness dan kinerja yang positif yaitu semakin tinggi tingkat kebahagiaan yang dimiliki oleh partisipan penelitian (agent asuransi PT. A Cabang Surabaya) maka kinerja yang dimiliki oleh partisipan tersebut akan semakin baik artinya mereka akan semakin produktif dalam bekerja. Dengan demikian maka hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis penelitian. Sumbangan efektif variabel kebahagiaan mempengaruhi variabel kinerja sebesar 64,4%.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menduung hipotesis yang dikemukakan oleh peneliti sebelumnya dengan karakteristik partisipan penelitan yang sama yaitu agen asuransi tetapi di tempat yang berbeda, dalam penelitian yang berjudul Hubungan antara Kebahagiaan (Happiness) dan Kinerja Agent Asuransi PT. S Cabang Jember [12].

Hasil penelitian ini juga mendukung teori yang di kemukakan oleh penulis The Happiness Advantage, Shawn Jangkar [1] dan penelitian yang dilakukan oleh Andrew Oswald [13] yang membuktikan bahwa otak bekerja lebih baik yaitu mengalami peningkatan sebesar 12% saat seseorang merasa berbahagia.

Sumbangan efektif dalam penelitian ini sebesar 64,4 % variabel kebahagiaan mempengaruhi kinerja. Sedangkan sisanya sebesar 35,6% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti motivasi, kepuasan kerja, desain pekerjaan,dan lingkungan kerja [2]. Hal ini sesuai dengan karakteristik populasi penelitian (agent asuransi) yang tidak mendapatkan gaji pokok sehingga kebahagiaan (happiness) menjadi faktor penting yang mempengaruhi kinerjanya.

Hasil penelitian juga mendukung teori yang diungkapkan oleh Boniwel bahwa seseorang yang berbahagia menunjukkan bahwa dirinya memiliki emosi yang lebih positif. [3]. Emosi positif ini akan melawan emosi negatif yang dialami saat seseorang mengalami stress seperti kecemasan, kesedihan, dan kemarahan. Hal inilah yang menyebabkan seseorang yang memiliki emosi positif ini akan memandang sebuah masalah tanpa menjadikannya sebagai suatu beban atau stresor yang berarti (Grimett, 2011). Sehingga individu yang berbahagia akan jarang mengalami stress ketika bekerja [5].

Berdasarkan teori tersebut dapat disimpukan bahwa kebahagiaan itu membutuhkan proses dan tidak bisa terjadi begitu saja, dibutuhkan stimulus-stimulus yang mendukung tumbuhnya emosi positif, sehingga emosi tersebut bisa membuat perasaan bahagia. Hal tersebut dibuktikan pada saat peneliti melakukan preliminary study, peneliti dan agency director melakukan diskusi mengenai pentingnya kebahagiaan terhadap kinerja sehingga Agency Director tersebut melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan kinerja agent, seperti pendekatan dengan anggota timmelalui gathering (misalnya : makan bersama) dan program award dari Agency Director PT. A Cabang Surabaya. Program tersebut terbukti dapat meningkatkan hubungan antara anggota team dan leadernya sehingga mereka menjadi lebih dekat satu sama lain (antara leader dan agent atau para rekan agent). Sehingga tercipta suasana kekeluargaan di antara mereka dan hal tersebut menciptakan emosi positif dalam diri mereka sehingga mereka (agent aktif) merasa nyaman dan bahagia di tempat kerjanya sehingga kinerjanya meningkat (tidak ada lagi turn over). Program-program ini dilakukan oleh Agency Director PT. A Cabang Surabaya sejak bulan November 2015 hingga saat ini. Pada saat pengisian kuesioner dari tanggal 1 Maret hingga 10 Maret 2020, program-program tersebut sudah berjalan kurang lebih sekitar 4 tahun 3bulan. Hal ini menyebabkan pada saat pengisian kuesioner, para agent mengisi kuesioner dengan perasaan yang bahagia dan tingkat kinerjanya saat itu tinggi.

Agency Director PT. A juga mengungkapkan bahwa tujuan dari pembuatan gathering adalah untuk mendekatkan para agen asuransi yang setengah aktif dan yang aktif dengan atasan sehingga mereka lebih terbuka, dan hal ini juga berdampak pada agen-agennya bahwa sebagian besar agen yang setengah aktif lebih sering datang ke kantor untuk melihat info-info mengenai pencapaian target serta termotivasi untuk lebih aktif atau kembali aktif, karena mereka merasa mendapatkan dukungan dan bantuan dari atasannya.

KESIMPULAN

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah berdasarkan hasil penelitian yang maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara variabel kebahagiaan dan kinerja pada agent asuransi PT.A Cabang Surabaya dengan koefisien kolerasi sebesar 0,802 dan sumbangan efektif variabel kebahagiaan mempengaruhi kinerja sebesar 64,4%. Sebesar 35,6% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti motivasi, kepuasan kerja, desain pekerjaan,dan lingkungan kerja [2]. Hal ini sesuai dengan karakteristik populasi penelitian (agent asuransi) yang tidak memperoleh gaji pokok (pendapatan hanya berupa komisi). Arah hubungan yang positif ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kebahagiaan pada agent asuransi di PT. A Cabang Surabaya, maka tingkat kinerja yang dimiliki agent asuransi di PT. A Cabang Surabaya juga semakin tinggi. Sebaliknya, semakin rendah tingkat kebahagiaan yang dimiliki oleh agent asuransi di PT. A Cabang Surabaya maka tingkat kinerjanya juga semakin rendah. Hasil penelitian ini mendukung teori yang diungkapkan oleh The Happiness Advantage, Shawn Jangkar dan Owsland.

UCAPAN TERIMA KASIH

1. Tuhan YME karena atas berkat dan rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan baik.

2. Papa (Rudi Hans Karundeng) dan Mama (Nyana Meliszay) selaku orang tua penulis yang selalu memotivasi, mendukung dan memberikan materi kepada penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan karya tulis ini dengan baik.

3. Daddy (Pdt. Didit Zoe Faith) dan Mom ( Pdt. Tatin Zoe Faith) selaku orang tua rohani penulis yang telah memberikan model kehidupan kepada penulis sehingga penulis dapat menjadi pribadi yang lebih baik, terus bertumbuh didalam Kristus dan dapat menentukan setiap keputusan yang akan diambil dengan baik.

4. Willy dan Victor kedua adik terkasih penulis dan Emak ( Englis ) dan Ai (Sherly) yang senantiasa membantu penulis saat penulis mengalami kesulitan.

5. Kak Eva, Kak Dadang, Ko Steven, Kak Gress, Bryant, Kenneth, Ce Chelsea, Chelly, Vionita dan saudara sedestiny lainnya yang selalu memotivasi dan mendukung penulis untuk terus bertumbuh menjadi lebih baik sehingga penulis bisa menyelesaikan karya tulis dengan baik dan tepat waktu.

6. Sahabat-sahabat penulis, D’arenciel (Indira, Tasya, Lydia, Anin), Lia, Inge, Eunike, yang selalu membantu dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan karya tulis.

7. Seluruh Agent Asuransi di PT. A Cabang Surabaya yang bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi partisipan dalam penelitian yang penulis lakukan

8. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu dalam kesempatan ini.

References