Articles
DOI: 10.21070/icecrs2020440

Relationship Between Gratitude With Well-Being Teens whose Parents Divorced


Hubungan Antara Gratitude Dengan Well-Being Remaja Yang Orangtuanya Bercerai

Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Indonesia
Gratitude psychological well-being remaja yang orangtuanya bercerai

Abstract

Gratitude and psychological well-being are aspects of positive emotions that exist in individuals. Individuals who have a sense of gratitude for being able to realize that he received a lot of goodness, good appreciation from God, others and the surrounding environment. While individuals who have psychological well-being when they are able to accept themselves, form warm relationships, have independence, control the external environment, have meaning in life and realize their potential continuously. The family is the smallest unit in society consisting of father, mother and child. The family can be the base of one's life, a source of care with affection, the first, most important and closest educational park that can be enjoyed because the teachings about the values ​​of life, both religious and socio-cultural are fundamental things that can be obtained in a family.
The purpose of this study is to determine whether there is a relationship between gratitude and psychological well-being in adolescent boys and girls and who experience parental divorce.
Research methods The subjects of this study were adolescents aged 15 to 20 years in two different cities. The sampling technique used is the cluster sampling method. Cluster sampling is sampling based on area or cluster. Clusters referred to in this study are classes in the school. Research subjects numbered 224 people. Whereas in other studies using a sampling technique used is sampling saturation. Samples that will be used in this study are as many populations as there are 33 students who have divorced parents, 20 students in class XI and 13 students in class XII. Data analysis using descriptive statistics with percentage techniques. Before calculating the percentage, a score group is made. Calculation of psychological well-being data for students whose parents are divorced is obtained based on the calculation of the average score (mean). The data generated in this study are descriptive percentage statistical techniques because the research describes the psychological well-being (psychological well-being) of students whose parents are divorced. 33 students.

PENDAHULUAN

Secara konseptual, gratitude terbagi dalam dua tingkat, yaitu state (keadaan) dan trait (sifat). Sebagai sebuah keadaan, gratitude berarti perasaan subjektif berupa kekaguman, berterimakasih dan menghargai segala sesuatu yang diterima. Sedangkan sebagai sifat, gratitude diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk merasakan gratitude dalam hidupnya, meskipun kecenderungan untuk merasakan gratitude itu tidak selalu muncul namun seseorang yang memiliki kecenderungan ini akan lebih sering berterimakasih dalam situasi-situasi tertentu. [1].

Psychological well-being adalah sebagai kemampuan individu untuk menerima diri apa adanya, membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian dalam menghadapi lingkungan sosial, mengontrol lingkungan eksternal, menetapkan tujuan hidupnya, dan merealisasikan potensi dirinya secara kontinu. Kemampuan tersebut dapat diupayakan dengan cara memfokuskan pada realisasi diri, pernyataan diri dan pengaktualisasian potensi dirinya sehingga dapat berfungsi positif secara penuh dan meraih kebahagiaan [2].

Individu yang memiliki rasa syukur dalam dirinya akan menyadari dan senantiasa mengambil hal-hal positif sehingga Ia mampu mempersepsikan dirinya bahwa Ia menerima banyak kebaikan dan pemberian baik dari Tuhan maupun orang di lingkungan sekitarnya sehingga mampu meningkatkan motivasinya untuk berlaku baik dan membalas kebaikan tersebut pada orang lain dalam bentuk perbuatan, perkataan, maupun perasaan dan pada akhirnya akan dapat menciptakan hubungan yang positif dengan orang lain, mandiri, dan mampu berfungsi sepenuhnya dalam lingkungan sosial. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Emmons dan Mishra (2010) yang menyatakan bahwa gratitude adalah dasar kesejahteraan (well-being) dan kesehatan mental sepanjang hidup manusia. Dari masa kanak-kanak hingga usia tua, akumulasi dari keadaan positif secara psikologis, fisik, maupun hubungan relasi dikaitkan dengan gratitude.

Disisi lain ada remaja yang mengalami keluarga yang orangtuanya bercerai padahal keluarga adalah kesatuan terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga dapat menjadi pangkal kehidupan seseorang, sumber perawatan dengan kasih sayang, taman pendidikan pertama, terpenting dan terdekat yang bisa dinikmati karena pe-jaran tentang nilai-nilai kehidupan baik agama maupun sosial budaya merupakan hal-hal fundamental yang bisa diperoleh di dalam sebuah keluarga. Ada kalanya sebuah keluarga dihadapkan pada konflik rumah tangga dimana hal ini menganggu keseimbangan dan mencipta-kan disharmonisasi dalam keluarga. Jika suami istri sebagai orang tua tidak dapat mengatasi konflik rumah tangga yang terjadi maka akan menimbulkan masalah berkepanjangan sehingga salah satu jalan keluar yang diambil untuk keluar dari masalah rumah tangga tersebut adalah bercerai. Perceraian memiliki dampak yang sangat merugi-kan bagi suami, istri, maupun anak-anak.

Penelitian ini ingin mengetahui apakah ada hubungan antar gratitude dengan well-being pada remaja yang memiliki orangtua yang bercerai.

METODE

Rancangan yang digunakan dalam penelitian [3] adalah metode kuantitatif merupakan suatu pendekatan penelitian dimana banyak menggunakan angka mulai dari pengumpulan data, penafsiran data hingga penampilan hasilnya. Adapun jenis metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kuantitatif korelasional dua variabel, yaitu menguji adanya pengaruh anatara variabel independent dan dependen [4].

Subjek penelitian ini adalah remaja Sekolah Menengah Kejuruan Muhmmadiyah di Kota Malang. Remaja yang dimaksud berusia 15- 20 tahun yang tinggal di Kota Malang dan berstatus pelajar. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode cluster sampling. Cluster sampling merupakan pengambilan sample yang didasarkan pada area atau cluster. Cluster yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kelas-kelas yang ada di dalam sekolah. Subjek penelitian berjumlah 224 orang.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Psychological well-being yang dimaksud adalah kondisi individu yang mampu menerima dirinya apa adanya, mampu membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, mampu mengontrol lingkungan eksternal, memiliki arti dalam hidup serta mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala Psychological well-being yang disusun oleh Ryff (1989) yang telah diadaptasi dan dikembangkan oleh peneliti yang terdiri dari 42 item. Skala ini memiliki 6 dimensi yaitu Autonomy (Otonomi), Enviromental mastery (Penguasaan Lingkungan), Personal Growth (Pengembangan Pribadi), Positive Relations with others (hubungan positif dengan orang lain), Purpose in Life (Tujuan Hidup) dan Self-Acceptance (Penerimaan Diri). Jenis skala menggunakan model likert dengan lima pilihan jawaban mulai sangat tidak setuju (1) sampai sangat setuju (6). Skoring dapat dilakukan dengan menjumlah total nilai tiap item. Semakin tinggi nilai maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan psikologis. Kualitas instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas adapun hasilnya adalah skala Psychological well-being berkisar antara 0,316 - 0,613. Sedangkan uji reliabilitas sebesar 0,756, maka dapat disimpulkan bahwa instrument yang dipakai dalam penelitian ini reliabel (Nazir, 2003).

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah adalah gratitude yaitu suatu kondisi dimana individu merasa bersyukur atas segala sesuatu yang diterima atau dialami dalam hidupnya. Metode pengumpulan data gratitude dengan menggunakan The Gratitude Questionnaires Six Item Form (GQ-6) berupa skala likert yang disusun oleh McCullough, et al. (2002) berjumlah 6 aitem. Uji validitas menunjukkan hasil 0,349-0,625 dan reliabilitas sebesar 0.756. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasional untuk menguji hubungan antar-variabel. Proses analisa data menggunakan teknik korelasi product moment dari pearson. Proses ini menggunakan software perhitungan statistik yaitu SPSS for windows versi 21. Sebelum melakukan analisis korelasi, terlebih dahulu peneliti melakukan uji prasyarat korelasi yaitu uji normalitas data.

Sedangkan penelitian [5] menggunakan metode penelitian Teknik sampling yang digunakan yaitu sampling jenuh. Teknik sampling ini merupakan teknik pengambilan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Sampel yang akan di-gunakan pada penelitian ini sebanyak populasi yang ada, yaitu berjumlah 33 orang siswa yang memiliki latar belakang orangtua bercerai, 20 siswa kelas XI dan 13 siswa kelas XII. Pembangunan Jakarta yang memiliki latar belakang orangtuanya bercerai. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dengan teknik presentase. Sebelum perhitungan presentase terlebih dahulu dibuat kelompok skor. Perhitungan data kesejahteraan psikologis (psychological well-being) siswa yang orang-tuanya bercerai didapat-kan berdasarkan perhitungan skor rata-rata (mean). Data yang dihasilkan pada penelitian ini adalah teknik statistik presentase dekriptif karena penelitian mendeskripsikan kesejahteraan psikolo-gis (psychological well-being) siswa yang orang-tuanya bercerai. 33 siswa. Berdasarkan data kesejahteraan psikologis siswa yang didapatkan dengan menggunakan kuesioner kepada siswa yang orangtuanya bercerai di SMK Negeri 26 Pembangunan Jakarta berikut didapatkan rata-ratanya sebesar 160,45, nilai tertinggi yang didapatkan sebesar 209 dan terendah yang didapatkan sebesar 114.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gratitude berasal dari bahasa Latin Gratia yang artinya grace atau gratefulness. Definisi dari gratitude adalah emosi, nilai moral, personality trait dan coping style (Lopez & Snyder, 2003). [6] segala kata yang berasal dari kata Gratia selalu berhubungan dengan kebaikan, kemurahan hati dan keindahan memberi maupun menerima. Suatu bentuk emosi positif dalam mengekspresikan kebahagiaan dan rasa terimakasih terhadap segala kebaikan yang diterima [7]. Ada rasa syukur karena individu menyadari dirinya banyak menerima kebaikan, penghargaan dan pemberian baik dari Tuhan, orang lain, lingkungan sekitarnya sehingga terdorong untuk membalas, menghargai dan berterimakasih atas segala sesuatu yang diterimanya dalam bentuk perasaan, perkataan dan perbuatan. McCullough, et al. (2002) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi gratitude yaitu: Pertama, Emotionality yaitu suatu kecenderungan dimana seseorang merasa emosional dan menilai kepuasan hidupnya. Kedua, Prosociality yaitu kecenderungan seseorang untuk diterima di lingkungan sosial. Ketiga, Religiousness yaitu sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai transendental, keagamaan dan keimanan seseorang. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi Psychological well-being yaitu; pertama adalah usia, hasil penelitian menunjukkan bahwa otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan perkembangan pribadi meningkat seiring dengan meningkatnya usia [8]. Psychological well-being seseorang, dimana wanita cenderung lebih memiliki Psychological well-being dibandingkan laki-laki. Hal ini terkait dengan pola fikir yang berpengaruh terhadap strategi koping dan aktivitas sosial yang dilakukan, dimana wanita lebih cenderung memiliki kemampuan interpersonal yang lebih baik daripada laki-laki (Snyder, 2002). Ketiga adalah dukungan sosial, penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara interaksi sosial dengan Psychological well-being (Nezar, 2009).

World Health Organization (WHO) (2010) menyatakan “no health without mental health”. Kesehatan mental menurut WHO merupakan keadaan sejahtera (psychological well-being) dimana individu menyadari kemampuan yang mereka miliki, dapat menghadapi tekanan-tekanan dalam hidup, dapat bekerja secara produktif, dan dapat memberi kontribusi pada komunitasnya. Keluarga adalah kesatuan terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga dapat menjadi pangkal kehidupan seseorang, sumber perawatan dengan kasih sayang, taman pendidikan pertama, terpenting dan terdekat yang bisa dinikmati karena pengajaran tentang nilai-nilai kehidupan baik agama maupun sosial budaya merupakan hal-hal fundamental yang bisa diperoleh di dalam sebuah keluarga. Ada kalanya keluarga dihadapkan pada konflik antar pasangan yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan dan disharmonis dalam keluarga. Perceraian memiliki dampak yang sangat merugi-kan bagi suami, istri, maupun anak-anak. Perceraian dilakukan karena tidak adanya jalan keluar lain atau adanya masalah yang tidak dapat diselesaikan secara bersama-sama. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga mencatat ada lebih dari 200.000 kasus perceraian di Indonesia setiap tahunnya dan merupakan angka yang tertinggi se Asia-Pasifik. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005-2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70%. Data diatas dapat menggambarkan bahwa ratusan ribu anak di Indonesia harus berpisah dari salah satu orangtuanya bercerai. (Ramadhani, dkk, 2016)

Penelitian ini diambil dari dua penelitian yang dilakukan oleh Prabowo dan Ramadhani dkk. Pada penelitian Prabowo, penelitian ini dilakukan kepada 224 Remaja yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian

_______________________________________________________________________________________

Kategori Frekuensi Prosentase

_______________________________________________________________________________________

Jenis Kelamin

Laki-laki 145 64,7 %

Perempuan 79 35,3 %

Usia

≤ 14 0 0 %

15 – 16 116 52 %

17 – 18 103 46 %

≥ 19 5 2 %

Sekolah

SMK Muhammadiyah 2 Malang 59 26,3 %

SMK Muhammadiyah 1 Malang 22 9,8 %

SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen 59 26,3 %

SMK Muhammadiyah 3 18 8,0 %

SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi 66 29,5 %

Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa dari 224 responden penelitian terdapat jumlah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 145 orang (64,7%) dan responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 79 (35,3%). Kemudian, jika dilihat berdasarkan usia responden, dari 224 subjek penelitian, tidak ada responden yang berada pada rentangan usia ≤ 14 (0%), 116 responden (52 %) berada pada rentangan 15 – 16 tahun, 103 responden (46 %) berada pada rentangan usia 17 – 18 tahun, dan 5 responden (2 %) berada pada rentangan usia ≥ 19.

Tabel 2. Perhitungan Tabulasi Skala Psychological Well-Being dan Gratitude

_______________________________________________________________________________________

Variabel Kategori Frekuensi Prosentase

_______________________________________________________________________________________

Psychological Well-Being Tinggi 103 46 %

Rendah 121 54 %

Gratitude Tinggi 105 46,9 %

Rendah 119 53,1 %

Berdasarkan hasil analisa tabulasi deskripsi data dengan variabel dapat diketahui bahwa dari 224 subjek penelitian, terdapat 103 responden (46 %) yang tergolong memiliki tingkat psychological well-being yang tinggi. Sedangkan sisanya yaitu sejumlah 121 responden (54 %) memiliki psychological well-being yang tergolong masih rendah.

Pada variabel gratitude, dapat diketahui yaitu 105 responden (46,9 %) memiliki tingkat gratitude yang tinggi, dan 119 responden (53,1 %) memiliki tingkat gratitude yang rendah. Berdasarkan hasil uji korelasi diketahui bahwa signifikansi 0,859 ( > 0,05) maka Ho diterima, Ha ditolak. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan positif yang signifikan antara gratitude dan psychological well-being pada remaja. Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan positif yang signifikan antara gratitude dengan psychological well-being pada remaja (p = 0,859). Hal ini menunjukkan bahwa ketika gratitude pada remaja ini tinggi, belum tentu diikuti dengan psychological well-being yang tinggi pula. Sebaliknya, semakin rendah gratitude yang dimiliki oleh remaja, belum tentu diikuti pula dengan rendahnya tingkat psychological well-being individu pada usia remaja.

Sedangkan Penelitian Ramadhani, dkk menggunakan teknik sampling yaitu sampling jenuh. Teknik sampling ini merupakan teknik pengambilan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Sampel yang akan di-gunakan pada penelitian ini sebanyak populasi yang ada, yaitu berjumlah 33 orang siswa yang memiliki latar belakang orangtua bercerai, 20 siswa kelas XI dan 13 siswa kelas XII. Pembangunan Jakarta yang memiliki latar belakang orangtuanya bercerai. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dengan teknik presentase. Sebelum perhitungan presentase terlebih dahulu dibuat kelompok skor. Perhitungan data kesejahteraan psikologis (psychologicalwell-being) siswa yang orang-tuanya bercerai didapat-kan berdasarkan perhitungan skor rata-rata (mean). 33 siswa. Berdasarkan data kesejahteraan psikologis siswa yang didapatkan dengan menggunakan kuesioner kepada siswa yang orangtuanya bercerai di SMK Negeri 26 Pembangunan Jakarta berikut didapatkan rata-ratanya sebesar 160,45, nilai tertinggi yang didapatkan sebesar 209 dan terendah yang didapatkan sebesar 114. Data yang dihasilkan pada penelitian ini adalah teknik statistik presentase dekriptif karena penelitian mendeskripsikan kesejahteraan psikolo-gis (psycholo-gical well-being) siswa yang orang-tuanya bercerai. Secara keseluruhan data responden yang digunakan adalah siswa SMK Negeri 26 Pembangunan Jakarta yang orangtuanya bercerai dengan jumlah responden sebanyak 33 siswa. Berdasarkan data kesejahteraan psikologis siswa yang didapatkan dengan menggunakan kuesioner kepada siswa yang orangtuanya bercerai di SMK Negeri 26 Pembangunan Jakarta berikut didapatkan rata-ratanya sebesar 160,45, nilai tertinggi yang didapatkan sebesar 209 dan terendah yang didapatkan sebesar 114. Data secara keselu-ruhannya dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 3. Skor Kesejahteraan Psikologis

Kelompok Skor f %

_______________________________________________________________________________________

Tinggi 14 42.42

Sedang 2 6.06

Rendah 17 52

Jumlah 33 51.52

Berdasarkan tabel diatas maka didapatkan data yaitu pada kelompok skor tinggi terdapat 14 orang siswa dengan presentase sebesar 42,42%. Sedangkan pada kelompok skor sedang terdapat 2 orang siswa dengan presentas sebesar 6,06%. Pada kelompok skor rendah terdapat 17 orang siswa dengan presentasenya sebesar 51,52%.

Hasil tersebut memperlihatkan bahwa 14 siswa memiliki tingkat kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang tinggi, 2 siswa memiliki tingkat kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang sedang, dan mayoritas siswa yaitu sebanyak 17 siswa memiliki tingkat kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang rendah.

Selanjutnya, variabel kesejahteraan psikologis terdiri dari 6 dimensi. Dimensi tersebut antara lain penguasaan diri, hubungan yang positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi. Berikut merupakan tampilan perolehan presentase per dimensi dalam bentuk tabel.

Tabel 4. Perbandingan Hasil Penelitian Keenam Dimensi Kesejahteraan Psikologis

__________________________________________________________________________________________

Penguasaan Diri 68,16%

Hubungan yang positif dengan orang lain 97,82%

Otonomi 75,31%

Penguasaan lingkungan 66,86%

Tujuan hidup 69,2%

Pertumbuhan pribadi. 70,45%

Hasil penelitian setiap dimensi terlihat bahwa dimensi yang paling tinggi presentasenya adalah dimensi hubungan yang positif dengan orang lain (97,82%), kemudian diikuti oleh dimensi otonomi (75.31%), pertumbuhan pribadi (70,45%), tujuan hidup (69,2%), penerimaan diri (68,16%), dan dimensi yang memiliki presentase paling rendah adalah dimensi penguasaann lingkungan (66,86%). Siswa yang orangtuanya bercerai harus mengalami tekanan ataupun konflik keluarga sehingga muncul rasa rendah diri.

Terbukti dengan nilai skor rerata dimensi penguasaan lingkungan diri siswa menjadi dimensi dengan nilai terendah. Kurang adanya penerimaan diri yang baik, pada peristiwa perceraian orangtua menjadikan skor rerata pada dimensi penerimaan diri siswa menjadi rendah. Hal ini yang kemudian mempengaruhi dimensi pertumbuhan pribadi dan dimensi tujuan hidup yang rendah pula. Berbeda dengan dimensi otonom yang cenderung tinggi, karena secara tidak langsung siswa di jenjang SMK sudah melalui beberapa pergantian situasi lingkungan sosial menuntut siswa untuk mandiri dan beradaptasi menjadi lebih baik dari keadaan yang telah mereka alami. Dalam penelitiannya, Ryff (1989) dan Keyes (2003) juga menemukan bahwa dimensi otonomi dan hubungan positif dengan orang lain mengalami pengingkatan seiring bertambahnya usia.

Ditinjau dari jenis kelamin tidak ditemukan perbedaan skor kesejahteraan psikologis yang signifikan bagi siswa laki-laki dan perempuan. Mayoritas siswa laki-laki maupun perempuan, keduanya memiliki kesejahteraan psikologis yang rendah. Hal ini dikarenakan masalah keluarga yang harus dihadapi sama, sehingga keduanya sama-sama mengalami tekanan psikis yang hampir serupa. Usia yang sama dalam kategori remaja madya mengakibatkan siswa laki-laki dan perempuan memiliki tahap kognitif yang sama sehingga pola pikir dalam menghadapi permasalahan pun cenderung sama. Pada tahap remaja madya seseorang mulai menentukan nilai-nilai tertentu dan melakukan perenungan terhadap pemikiran filosofis dan etis, mulai timbul kemantapan pada diri sendiri, rasa percaya diri yang menimbulkan kesanggupan untuk melakukan penilaian terhadap tingkah laku yang dilakukan, dan penemuan diri sendiri atau jadi dirinya. Kondisi seperti ini merupakan kondisi ideal bagi seorang remaja madya dalam fase perkembangannya.

Namun bagi seorang remaja madya yang memiliki latar belakang keluarga bercerai, fase perkembangan seperti ini menjadi suatu kesulitan tersendiri untuk dicapai. Kesejahteraan psikologis siswa dari orangtua bercerai juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial. Adanya perhatian dari keluarga besar dan teman-teman terdekat dapat membantu siswa dalam mengatasi masalah hidup yang dihadapi. Penelitian ini lebih menekankan pada wali siswa, dimana siswa yang bertempat tinggal bersama ayah kandung, ibu kandung, atau saudara/keluarga angkat tentu akan berbeda dalam hal dukungan sosial yang didapat.

Berdasarkan penelitian, siswa yang tinggal bersama saudara/keluarga angkat sebagai wali pasca perceraian orang tua memiliki kesejahteraan psikologis tertinggi dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan wali ayah atau ibu. Hal ini serupa dengan ungkapan Sarwono bahwa apabila terjadi masalah dengan suami-istri (ada yang meninggal atau ada perceraian) lebih baik anak dipindahkan ke sanak keluarga lain atau kalau perlu dipindahkan ke keluarga lain yang tidak ada hubungan darah (misalnya tidak ada sanak-keluarga atau harus kos) perlu dicarikan hubungan antar anggota keluarganya cukup harmonis.

Dari dua penelitian diatas, yang dilakukan pada remaja usia 15 dan 16 tahun didapatkan bahwa tidak ada hubungan positif yang signifika antara gratitude dengan psychological well-being pada remaja (p = 0,859). Hal ini menunjukkan bahwa ketika gratitude pada remaja ini tinggi, belum tentu diikuti dengan psychological well-being yang tinggi pula. Sebaliknya, semakin rendah gratitude yang dimiliki oleh remaja, belum tentu diikuti pula dengan rendahnya tingkat psychological well-being individu pada usia remaja. Dan pada penelitian kedua tidak ditemukan perbedaan skor kesejahteraan psikologis yang signifikan bagi siwa laki-laki dan perempuan. Usia yang sama dalam kategori remaja madya mengakibatkan siswa laki-laki dan perempuan memiliki tahap kognitif yang sama sehingga pola pikir dalam menghadapi permasalahan pun cenderung sama. Pada tahap remaja madya seseorang mulai menentukan nilai-nilai tertentu dan melakukan perenungan terhadap pemikiran filosofis dan etis, mulai timbul kemantapan pada diri sendiri, rasa percaya diri yang menimbulkan kesanggupan untuk melakukan penilaian terhadap tingkah laku yang dilakukan, dan penemuan diri sendiri atau jadi dirinya. Kondisi seperti ini merupakan kondisi ideal bagi seorang remaja madya dalam fase perkembangannya

KESIMPULAN

Dari penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa psychological well-being itu tidak berbeda antara anak laki-laki maupun perempuan sebab mereka memiliki tingkat kognitif yang sama sehingga pola pikir dalam menghadapi permasalahanpun cenderung sama. Kesejahteraan psikologi pada anak-anak remaja usia 15 tahun hingga dewasa awal tidak memiliki hubungan dengan gratitude. Anak akan mendapat kesejahteraan psikologis tinggi apabila didampingi orangtua dibandingkan dengan anak dengan anak yang orangtuanya bercerai, namun meskipun kesejahteraan psikologisnya rendah karena orangtuanya bercerai, belum tentu anak memiliki gratitude yang rendah.

UCAPAN TERIMA KASIH

  1. Tuhan YME atas berkat dan rahmatnya penulis mampu menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik.
  2. Imory Rebecca, atas bantuan menberikan saran sehingga karya ilmiah ini dapat diseselesaikan dengan baik

References

  1. McCullough, M. E., Emmons, R.A., & Tsang, J. (2002). The grateful disposition: A conceptual and empirical topography. Journal of Personality and Social Psychology, 82, 112-127.
  2. Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? explorations on the meaning of psychological well-being Journal American Psychological Association 57, (6), 1069-1081.
  3. Prabowo. Adhyatman (2017). Gratitude dan psychological Wellbeing Pada Remaja. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. file:///C:/Users/COMPUTER/Downloads/4857-12523-2-PB%20(1).pdf
  4. Sugiyono. (2012). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&B. Bandung: Alfabeta.
  5. Ramadhani,dkk (2016). Kesejahteraan Psikologis (Psychological Wellbeing) Siswa Yang Orangtuanya Bercerai. Study Deskriptif yang dilakukan pada siswa di SMK Negeri 26 Pembangunan Jakarta.
  6. Emmons, R. A. (2007). Thanks! How the new science of gratitude can make you happier. New York: Houghton Mifflin Company.
  7. Seligman, M. E. P. (2002). Authentic happiness: Using the new positive psychology to realize your potential for lasting fulfillment. New York: Free Press.
  8. Keyes, C. L. M., & Waterman, M. B. (2003). Dimensions of well-being and mental health in adulthood. Diakses dari http://psycnet.apa.org/psycinfo/2003-02621-033 pada 3 Agustus 2016