Articles
DOI: 10.21070/icecrs2020445

Child Friendly Education: Application of Child Friendly Schools in Creating School Culture in SDN 3 Pasirtamiang


Pendidikan Ramah Anak : Penerapan Sekolah Ramah Anak dalam Mewujudkan Budaya Sekolah di SDN 3 Pasirtamiang

, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya
Indonesia
Implementation School Friendly Children Culture

Abstract

School is a place that should allow a child to learn and feel comfortable. But until now the school has not been able to be a friendly place for children. Although referred to as an educational institution, but violence actually often occurs in schools. Child Friendly Schools are educational units that are able to guarantee, fulfill, respect the rights of children, and protect children from violence, discrimination, and other mistreatment and support children's participation, especially in planning, policy, learning, and complaints mechanisms. Child Friendly Schools aim to protect and provide services that guarantee and protect children from physical and non-physical abuse. This study aims to determine whether schools have implemented Child Friendly Schools as a whole or are still not optimal. Know the school culture that is the result of Child Friendly Schools. The method used in this research is descriptive qualitative which will describe how the implementation of Child Friendly Schools in SDN 3 Pasirtamiang. Data collection techniques through observation, documentation, interviews and questionnaires. Data analysis method uses descriptive method. The results of research at SDN 3 Pasirtamiang have referred to the classification standards for child-friendly schools that have been declared by the ministry of education and culture based on the facts contained in the field. With the formation of character as a child-friendly school culture equips students to be able to actualize themselves towards Islamic character. To develop and create child-friendly schools, it is better to be able to integrate existing programs & activities and be able to adjust the situation, conditions, and abilities of the school by optimizing all school resources.

PENDAHULUAN

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada sebanyak 21 kasus kekerasan seksual dengan jumlah korban mencapai 123 anak di satuan pendidikan sepanjang 2019. Data KPAI menunjukkan bahwa satu pelaku bisa memperdaya banyak korban, karena dari 21 pelaku kasus kekerasan itu korbannya mencapai hingga 123 anak. Adapun 21 pelaku tersebut terdiri dari 20 laki-laki dan 1 pelaku perempuan. Pelaku mayoritas adalah guru sebanyak 90 persen dan kepala sekolah sebanyak 10 persen. Selain itu, oknum pelaku yang merupakan guru terdiri dari guru olahraha sebanyak 29 persen, guru agama 14 persen, guru kesenian 5 persen, guru komputer 5 persen, guru IPS 5 persen, guru BK 5 persen, guru Bahasa Inggris 5 persen dan guru kelas sebanyak 23 persen. (Bayu Septianto:2019)

Merujuk pada hasil riset dari KPAI tersebut menunjukkan bahwa sekolah hingga detik ini belum bisa menjadi tempat yang ramah bagi anak (siswa). Meskipun disebut sebagai lembaga pendidikan, akan tetapi kekerasan justru sering lahir dari tempat ini. Hal tersebut tentu sangat kontraproduktif dengan makna sekolah itu sendiri, yaitu sebagai tempat untuk belajar, bukan tempat untuk melakukan kekerasan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat begitu menyenangkan bagi anak, karena di lembaga pendidikan inilah anak-anak akan di didik untuk saling mengenal, menyayangi satu dengan yang lain bukan untuk bermusuhan atau saling menindas (Haryanto Alfandi, 2001).

Dari fenomena tersebut maka sangatlah penting untuk melakukan penelitian tentang implementasi Sekolah Ramah Anak di sekolah. Penelitian ini mencoba untuk mengungkap apakah di sekolahan terutama jenjang Sekolah Dasar sudah benar-benar menerapkan Sekolah Ramah Anak atau belum, dan fokus penelitian ini adalah mencari data tentang implementasi Sekolah Ramah Anak dan menemukan budaya sekolah yang dihasilkan dari penerapan program tersebut. Pengkajian sekolah ramah anak sebagai upaya untuk mendeskripsikan atau mengungkapkan kehidupan sekolah.

Dari latar belakang di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya penelitian Sekolah Ramah Anak adalah untuk menciptakan budaya yang berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan untuk mengetahui apakah sekolah telah menerapkan Sekolah Ramah Anak secara keseluruhan atau masih belum maksimal. Maka pada penelitian ini mengangkat judul Implementasi Sekolah Ramah Anak Dalam Membentuk Budaya Sekolah Di SDN 3 Pasirtamiang. Penelitian di lakukan di SDN 3 Pasirtamiang di karenakan SDN 3 Pasirtamiang merupakan salah satu sekolah yang terletak di desa, akan tetapi bukan hanya itu saja, SDN 3 Pasirtamiang juga merupakan sekolah yang telah menerapkan pendidikan ramah anak.

Sekolah Ramah Anak

Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. Prinsip utama adalah non diskriminasi kepentingan, hak hidup serta penghargaan terhadap anak.

Sebagaimana dalam bunyi pasal 4 UU No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, menyebutkan bahwa anak mempunyai hak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Disebutkan di atas salah satunya adalah berpartisipasi yang dijabarkan sebagai hak untuk berpendapat dan didengarkan suaranya. Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang terbuka melibatkan anak untuk berpartisipasi dalam segala kegiatan, kehidupan sosial,serta mendorong tumbuh kembang dan kesejahteraan anak.

Dalam usaha mewujudkan Sekolah Ramah Anak perlu didukung oleh berbagai pihak antara lain keluarga dan masyarakat yang sebenarnya merupakan pusat pendidikan terdekat anak. Lingkungan yang mendukung, melindungi memberi rasa aman dan nyaman bagi anak akan sangat membantu proses mencari jati diri. Kebiasaan anak memiliki kecenderungan meniru, mencoba dan mencari pengakuan akan eksistensinya pada lingkungan tempat mereka tinggal. Berikut adalah peran aktif berbagai unsur pendukung terciptanya Sekolah Ramah Anak.

No Ruang Lingkup Uraian
1 Keluarga Sebagai pusat pendidikan utama dan pertama bagi anak.Sebagai fungsi proteksi ekonomi, sekaligus memberi ruang berekpresi dan berkreasi.
2 Sekolah Melayani kebutuhan anak didik khususnya yang termargin dalam pendidikanPeduli keadaan anak sebelum dan sesudah belajarPeduli kesehatan, gizi, dan membantu belajar hidup sehat.Menghargai hak-hak anak dan kesetaraan gender.Sebagai motivator, fasilitator sekaligus sahabat bagi anak.
3 Masyarakat Sebagai komunitas dan tempat pendidikan setelah keluargaMenjalin kerjasama dengan sekolah. sebagai penerima output sekolah
Table 1.Peran Aktif Berbagai Unsur Pendukung Terciptanya Sekolah Ramah Anak

Sekolah adalah institusi yang memiliki mandat untuk menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran secara sistematis dan berkesinambungan. Para pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah diharapkan menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran yang mampu memfasilitasi peserta didik berperilaku terpelajar. Perilaku terpelajar ditampilkan dalam bentuk pencapaian prestasi akademik, menunjukkan perilaku yang beretika dan berakhlak mulia, memiliki motivasi belajar yang tinggi.

Budaya Sekolah

Budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, pendidik/guru, petugas tenaga kependidikan/administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah.

Willard Waller menyatakan bahwa setiap sekolah memunyai budayanya sendiri, yang berupa serangkaian nilai, norma, aturan moral, dan kebiasaan, yang telah membentuk perilaku dan hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya.(Peterson Kent D and Terrance E Deal, 2009)

Sementara itu, Short dan Greer (1997) mendefinisikan budaya sekolah sebagai keyakinan, kebijakan, norma, dan kebiasaan di dalam sekolah yang dapat dibentuk, diperkuat, dan dipelihara melalui pimpinan dan guru-guru di sekolah (Qosim, 2013). Budaya sekolah, dengan demikian, merupakan konteks di belakang layar sekolah yang menunjukkan keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang telah dibangun dalam waktu yang lama oleh semua warga dalam kerja sama di sekolah. Budaya sekolah berpengaruh tidak hanya pada kegiatan warga sekolah, tetapi juga motivasi dan semangatnya (Syam, 2011).

Landasan Hukum

Pada Pasal 28B (2) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa ―Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.‖ Ketentuan ini, secara operasional diatur dalam Pasal 54 UndangUndang Perlindungan Anak, yang menyatakan ―Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temanya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.

Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 20013 Pasal 1 : “Pemenuhan Hak Pendidikan Anak adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik pada usia anak secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 pasal 4 tentang perlindungan anak: “Menyebutkan bahwa anak mempunyai hak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Disebutkan di atas salah satunya adalah berpartisipasi yang dijabarkan sebagai hak untuk berpendapat dan didengarkan suaranya.”

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang mengedepankan pengumpulan data atau realitas persoalan yang berlandaskan pada pengungkapan apa-apa yang telah dieksplorasikan atau diungkapkan oleh responden. Data yang dikumpulkan berupa katakata tertulis atau lisan dari orang- orang yang diamati (Sugiono, 2006).

Dengan kata lain metode kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat post positivisme, digunakan untuk meneliti kondisi obyek alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/ kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiono, 2006).

Berdasarkan hal tersebut maka, penelitian ini menghasilkan informasi dan data-data di lapangan tentang implementasi Sekolah Ramah Anak dan budaya sekolah yang sesuai dengan Sekolah Ramah Anak dalam mewujudkan sekolah Ramah Anak di SDN 3 Pasirtamiang.

Sekolah yang dijadikan tempat untuk penelitian ini adalah SDN 3 Pasirtamiang. Dengan jumlah siswa 146, 87 siswa laki-laki dan 59 siswa perempuan. Untuk pengisian angket kami lebih fokus terhadap kelas tinggi yaitu kelas 5 dan 6.

Lokasi yang di ambil dalam penelitian ini adalah SDN 3 Pasirtamiang. SDN 3 Pasirtamiang adalah sekolah yang berada pada perbatasan antara Kota Tasikmalaya dengan Kabupaten Ciamis yang secara umum memiliki kultur budaya pedesaan dengan gaya hidup kota. Pertimbangan memilih lokasi penelitian ini karena di sekolah tersebut telah menerapkan konsep Sekolah Ramah Anak, yaitu adanya beberapa indikator pendukung, seperti Kebijakan anti kekerasan, monitoring pelaksanaan kurikulum, pembinaan tenaga pendidik (guru), sarana prasarana pendukung sekolah ramah anak, dan berbagai indikator pendukung lainnya. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan yaitu pada bulan Desember.

Subyek penelitian adalah pihak-pihak yang hendak diteliti oleh peneliti, yakni pihak yang menjadi sasaran penelitian. (Saifuddin Azwar, 1998: 117). Subyek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, Guru, Tenaga Kependidikan, Orang tua siswa dan Siswa kelas 4,5,6. Sedangkan Informan penelitian adalah orang yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong, 2005: 90). Informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, Guru, Tenaga Kependidikan, Orang tua siswa dan Siswa kelas 4,5,6 SDN 3 Pasirtamiang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukan bahwa SDN 3 Pasirtamiang merupakan lembaga sekolah yang mencanangkan diri sebagai lembaga pendidikan yang ramah anak. Hal itu diwujudkan dengan berbagai indikator pendukung, seperti dari pemaparan Visi dan Misi sekolah, sarana dan prasarana yang mendukung, program ekstrakurikuler, pembinaan tenaga pendidik (guru) terkait pembelajaran, sarana bermain, minat bakat dan berbagai indikator yang lainnya.

Ramah Fisik: dilihat dari bangunan sekolah atau kondisi lingkungan, dimana SDN 3 Pasirtamiang di bangun di atas tanah ± 750 m². SDN 3 Pasirtamiang berada di tengah-tengah perumahan penduduk, tetapi tetap terjangkau. Lokasi, situasi dan kondisi SDN 3 Pasirtamiang sungguh kondusif, untuk proses pembelajaran karena tidak banyak kendaraan yang melintas dan ketika ada yang melintas pun kecepatan tidak boleh lebih dari 10 km/jam terlihat dari tanda markas yang berada di utara sekolah. Gedung sekolah terdiri dari 6 ruangan kelas 1 perpustakaan dan 1 ruangguru menyatu dengan ruang kepala sekolah. Ramah Non Fisik; terkait dengan pertimbangan rasa aman, pertimbangan minat dan rasa ingin tahu anak, pertimbangan kebebasan berekspresi, pertimbangan membangun percaya diri dan aktualisasi diri, pertimbangan menyalurkan emosi, serta pertimbangan kegembiraan dan kesenangan anak.

Kegiatan Pembelajaran di dalam kelas (Internal Learning Class); Proses pembelajaran yang dilakukan di SDN 3 Pasirtamiang ini antara lain: belajar sambil bermain, siswa berpartisipasi dalam penentuan peraturan ataupun kebijakan, sifat kepemimpinan diajarkan ketika menjadi pemimpin upacara, tidak ada diskriminasi siswa, tidak ada tindakan fisik kepada siswa, siswa dibebaskan memilih ekstrakulikuler dan adanya kedekatan guru dan siswa. Hal tersebut sesuai dengan indikator ramah anak yang diungkapkan Widodo yakni sebagai berikut: (1) Riang, (2) Aman dan Sehat, (3) Menarik, (4) Aktif, (5) Hak Anak terjamin, (6) Asah, Asih, Asuh, (7) Nyaman, (8) Aspiratif, (9) Komunikatif (Widodo, 2009)

Kegiatan Pembelajaran di luar kelas (external learning class); SDN 3 Pasirtamiang didesain seperti sekolah pada umumnya akan tetapi, tetap menyesuaikan dengan dunia anak-anak. Ada taman bermain, aula untuk kegiatan siswa serta ada kantin, lapangan dan lain sebagainya. Selain itu, untuk menumbuhkan keharmonisan antar warga sekolah SDN 3 Pasirtamiang juga membangun pola komunikasi yang baik, antara siswa dengan guru, siswa dengan karyawan, dan guru dengan karyawan. Misal ketika ada seorang siswa yang meminta tolong baik kepada guru, pegawai harus dilayani dengan sepenuh hati tidak boleh membeda-bedakan. Sehingga siswa merasa nyaman dan tidak ada rasa takut sedikitpun karena pola interaksi yang dibangun dengan menggunakan pola kekeluargaan. Tidak hanya itu saja pola komunikasi antara pihak sekolah dengan wali murid juga dibangun.

Upaya Pembentukan Karakter SDN 3 Pasirtamiang

Pembentukan karakter di SDN 3 Pasirtamiang ini lebih diutamakan dalam pembentukan karakter islam. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan-kegitan yang pembiasaan yang dilakukan seperti tahfidz, shalat berjamaah, dan mengaji. Beberapa hal pembentukan karakter yang lain berupa, yaitu: a. Tanggung jawab: Membuang sampah pada tempatnya. b. Kerjasama: Belajar kelompok c. Kedisiplinan: siswa harus berbaris sebelum masuk ke kelas. Siswa harus siap sebelum dimulai pelajaran. d. Kepemimpinan: Siswa memimpin baris secara berganti dan menjadi imam sholat bergantian juga e. Kemandirian: menjaga kebersihan. Membeli peralatan sekolah sendiri.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SDN 3 Pasirtamiang mengenai sekolah ramah anak dapat diambil kesimpulan bahwa Pendidikan ramah anak dimana sekolah tersebut dapat menciptakan lingkungan yang ramah anak, yaitu membuat suasana yang aman, nyaman, sehat dan kondusif, menerima anak apa adanya, dan menghargai potensi anak. Dengan demikian anak bukan lagi sebagai obyek dalam pendidikan namun sebagai subyek, anak bebas berkreasi dalam belajar dengan suasana lingkungan pendidikan yang penuh dengan kasih sayang. Berkaitan dengan hal tersebut, pendidikan ramah anak di SDN 3 Pasirtamiang meliputi; Ramah Fisik, Ramah Non Fisik, Kegiatan Pembelajaran di dalam kelas, dan Kegiatan Pembelajaran di luar kelas. Penerapan sekolah ramah anak pada SDN 3 Pasirtamiang telah mengacu pada standar klasifikasi sekolah ramah anak yang telah dicanangkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan berdasarkan fakta yang terdapat dilapangan. Pembentukan karakter sebagai budaya sekolah ramah anak membekali siswa mampu atau bisa mengaktualisasikan pribadi menuju karakter islami. Dengan pengembangannya sendiri untuk menciptakan sekolah ramah anak lebih baik dapat mengintegrasikan program & kegiatan yang sudah ada (UKS, PJAS, dll) sebagai komponen penting dalam perencanaan pengembangan SRA ke dalam RKAS dan mampu menyesuaikan situasi, kondisi, dan kemampuan sekolah dengan mengoptimalkan semua sumberdaya sekolah, bermitra dengan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya

References

  1. Abdullah Nashih Ulwan.1994. Pendidikan Anak Dalam Islam edisi 2. Jakarta:Pustaka Amani
  2. Ahmad Sutanto.2013.Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:Prenada Media Group.
  3. http://dp3akb.jabarprov.go.id/mengenal-dan-mengembangkan-sekolah-ramah-anak/
  4. https://tirto.id/123-anak-jadi-korban-kekerasan-seksual-di-sekolah-selama-2019-ep3D
  5. Kemendikbud. (2015). Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2015 Tentang Pencegahan Dan Penanggulangan Tindak Kekerasan Di Lingkungan Satuan Pendidikan. Jakarta
  6. Milles and Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia.