Articles
DOI: 10.21070/icecrs2020448

The Urgency of Strengthening Character Education in Elementary Schools Through Local Wisdom in the Industrial Revolution Era 4.0


Urgensi Penguatan Pendidikan Karakter di SD Melalui Kearifan Lokal Di Era Revolusi Industri 4.0

Universitas Perjuangan
Indonesia
Universitas Perjuangan
Indonesia
Character Building Industrial Revolution 4.0 Local Culture

Abstract

This study discusses the importance of strengthening character education for elementary school children through local wisdom in the era of the industrial revolution. In the era of the industrial revolution 4.0 Character education is an important aspect to develop the affective domain of children. Its content is applied in learning in primary schools based on material from the curriculum content standard. Elementary school children are now more individualistic, difficult to get along with and prefer to play gadgets rather than playing with their peers. Therefore, the teacher can utilize and develop local wisdom-based material that contains a lot of views and rules so that children have more foothold in determining an action in their daily activities. Local wisdom has a close relationship with traditional culture in an area. In an effort to cultivate local wisdom, teachers can utilize technology that is developing rapidly in the current era. In order for students to know and be able to take the values ​​contained in the local wisdom. The research method uses literature study which uses data analysis based on published written material.

PENDAHULUAN

Seiring kemajuan zaman dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat, mendorong manusia untuk selalu berkembang pada berbagai sektor atau bidang, tidak terkecuali sektor pendidikan. Siswa dari TK sampai dengan perguruan tinggi semakin akrab dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi utnuk menunjang proses belajar. Siswa dengan mudah menemukan informasi-informasi melalui internet, baik informasi dalam maupun luar negeri. Kecepatan informasi dan konten informasi yang didapatkan siswa tentu akan berpengaruh pada kehidupan sehari- hari siswa. Di satu sisi, dampak adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut memunculkan sikap-sikap yang kurang sesuai dalam kehidupan bermasyarakat. Misal, siswa yang terlalu sering bermain gadget dikhawatiran akan memiliki sikap individualisme yang tinggi, dan kurang bersosisialisasi dengan teman dan lingkungan. Siswa akan melupakan permainan-permaianan tradisional khas bangsa Indonesia dan cenderung memilih gadget dengan berbagai kecanggihan yang ditawarkan. Guru dapat memanfaatkan perkembangan dari teknologi untuk memperkenalkan kearifan lokal yang ada di daerah. Menururt Putri rachmadayanti [1] tentang problematika budaya lokal di era globalisasi mengemukakan bahwa Sekarang, dunia mengalami Revolusi 4T (Technology, Telecomunication, Transportation, Tourism) yang memiliki globalizing force dominan sehingga batas antar wilayah semakin kabur dan berujung pada terciptanya global village.

Dalam hal ini, pendidikan sebagai salah satu bidang kehidupan manusia, memiliki peran penting dalam menciptakan generasi manusia yang cerdas, bijaksana, dan berkarakter. Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan sesuai Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, yaitu pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan karakter sejalan dengan pemikirian untuk menciptakan pendidikan akhlak. Apabila masuknya budaya asing tanpa filter dilakukan secara terus menerus, tidak menutup kemungkinan budaya bangsa Indoensia akan punah. Guncangan globalisasi telah menimbulkan berbagai macam krisis yang merusak citra dan rasa percaya diri bangsa. Dari segi sosial, jika siswa sejak dini sudah terbiasa tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dikhawatirkan akan berimbas pada kehidupannya di masa yang akan datang.

Manusia adalah makhluk sosial, yang hidup berdampingan baik dengan sesama manusia dan alam sekitar.[2] Kegiatan konservatif terhadap kekayaan alam dan budaya daerah atau yang lazim disebut kearifan lokal perlu ditanamkan kepada anak sejak usia Sekolah Dasar. Dari hasil wawancara dan observasi anak SD Guru dapat memberikan penguatan pendididkan karakter melalui materi yang bersumber dari aktivitas masyarakat, produk budaya, dan potensi- potensi lain di lingkungan sekitar anak. Berikut ini akan dibahas tentang urgensi penguatan pendidikan karakter bagi siswa Sekolah dasar melalui kearifan lokal di era revolusi industri 4.0.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan. Penelitian ini dikaji menggunakan kajian analisis berbagai literature. Menurut Zidniyanti [3] menyatakan bahwa penelitian kualitatif ialah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri yang berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya. Sedangkan pendekatan kepustakaan adalah kajian yang menggunakan analisis data berdasarkan bahan tertulis, bahan kepustakaan berupa catatan yang terpublikasikan, buku, majalah, surat kabar, naskah, jurnal ataupun artikel.[4] Studi pustaka yang dialakukan dari sumber buku dan jurnal.

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDIDIKAN KARAKTER

Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi, untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona [5] menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

Kata character berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti to engrave (melukis, menggambar), seperti orang yang melukis kertas, memahat batu atau metal. Berakar dari pengertian yang seperti itu, character kemudian diartikan sebagai tanda atau ciri yang khusus, dan karenanya melahirkan sutu pandangan bahwa karakter adalah ‘pola perilaku yang bersifat individual, keadaan moral seseorang’. Setelah melewati tahap anak-anak, seseorang memiliki karakter, cara yang dapat diramalkan bahwa karakter seseorang berkaitan dengan perilaku yang ada di sekitar dirinya (Kevin Ryan, 1999:5)

Pengertian karakter menurut pusat bahasa depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, dan kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas , sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Komponen karakter yang baik menurut likona [5] hal.83 ada 3 :

1)Pengetahuan Moral, 2)Perasaan Moral, dan 3)Tindakan Moral. Karakter yang terasa demikian memiliki tiga bagian yang saling berhubungan : pengetahuan moral, persaan moral dan perilaku moral. Karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik-kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaaan dalam tindakan. Ketiga hal ini diperlukan untuk mengarahkan suatu kehidupan moral; ketiganya ini membentuk kedewasaan moral. Ketika kita berpikir tentang jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak kita, sudah jelas bahwa kita menginginkan anak-anak kita untuk mampu meniai apa yang benar, sangat peduli tentang apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang mereka yakini itu benar meskipun berhadapan dengan godaan dari dalam dan tekanan dari luar.

REVOLUSI INDUSTRI

Istilah industrial revolution 4.0 pertama kali dikenalkan oleh professor Klaus schawab (2016), seorang ahli ekonomi melalui bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution”. Pada buku tersebut terungkap gagasan dari schwab mengenai revolusi industri 4.0 ini dinyatakan telah mengubah hidup, pola piker hingga cara kerja manusia. Dalam perkembangannya, revolusi industri 4.0 ini memberikan (1) tantangan sekaligus dampak bagi generasi muda bangsa Indonesia dan juga (2) pada dunia pendidikan di Indonesia. Perkembangan muncul dengan ditandai mulainya digitalisasi sistem pendidikan yang mengarahkan setiap unsur dalam bidang pendidikan untuk mampu melakukan penyesuaian dengan laju perubahan yang terjadi. Satu diantara beberapa contohnya adalah sistem pembelajaran di dalam kelas yang telah memanfaatkan falisitas akses internet. Misalnya dengan membawa murid menjelajahi dunia maya untuk menggali satu atau beberpa informasi terkait materi pembelajaran di kelas. Berdasarkan pernyataan schwab (2016:11) dalam zidyani [3] pembagian era revolusi industri sebagai berikut.

1) Revolusi industri yang pertama terjadi sekitar abad 18, yakni tahun 1760 hingga 1840 yang ditandai dengan konstruksi rel kereta api dan penemuan mesin uap (Schwab, 2016:10). Era ini dikenal juga dengan istilah revolusi industri 1.0. Penemuan pada era ini mengantarkan pada produksi mekanis.Munculnya mesin uap pertama menimbulkan berkembangnya kemajuan perekonomian dunia.

2) Revolusi industri kedua terjadi pada akhir abad 19 hingga awal abad 20, atau sekitar tahun 1870 atau dikenal dengan istilah revolusi industri 2.0. Pada era ini munculproduksi massal berbagai produk didorong oleh munculnya listrik dan jalur perakitan (assembly line) antara lain mesin pembangkit listrik, telepon, mobil, dan pesawat terbang.

3) Revolusi industri ketiga terjadi pada 1960an atau sekitar tahun 1969 atau dikenal dengan istilah revolusi indiustri 3.0. Masa ini seringkali disebut masa revolusi komputer atau digital karena terjadi percepatan perubahan dengan adanya pengembangan semikonduktor dengan komputasi mainframe. Pada tahun ini muncul perangkat komputer walaupun dalam kemampuan yang sederhana dibanding saat ini. Muncul pula akses internet digital yang selanjutnya memberikan pengaruh pada budaya dan peradapan zaman.

4) Revolusi industri keempat atau yang dikenal revolusi industri 4.0 terjadi pada abad ke-20 ini. Generasi yang hidup di zaman ini dikenal dengan istilah generasi Z atau generasi millenial. Di abad ke-20 ini terjadi perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat dibanding dengan masa sebelumnya. Berbagai perangkat informasi telah menggunakan teknologi yang bersifat digital. Di samping itu, semua orang dapat mengakses informasi, baik menyebarkan maupun mengambil informasi dengan mudah dan cepat, dan efisien baik dari segi waktu maupun biaya.

PERAN PENDIDIKAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Peran pendidikan dalam mempersiapkan generasi di era revolusi industri 4.0 saat ini adalah menyiapkan lulusan yang mampu berinteraksi dengan manusia dari berbagai belahan bumi dan tentunya dibekali kemampuan interpersonal dan intrapersonal secara sosial dan emosional yang kuat. Maemunah (2018: 5) merangkum kriteria lulusan. Lulusan dituntut untuk dapat memiliki kemampuan sebagai berikut:

Memecahkan masalah. Kemampuan ini sangat bermanfaat bagi lulusan agar dapat digunakan dalam menghadapi berbagai situasi beserta resiko yang mengiringinya yang tentunya akan semakin banyak bervariasi tingkat kerumitannya di situasi yang serba cepat dan tidak menentu di abad 21 ini.

Berfikir kritis. Kemampuan ini juga sangat dibutuhkan saat lulusan dihadapkan pada persoalan yang melibatkan banyak hal dan pengambilan keputusannya juga tentunya akan memberi pengaruh pada diri sendiridanoranglain.

Inovatif. Pemecahan masalah dan kemampuan berfikir kritis yang diharapkan dimiliki oleh lulusan harus yang mengandung kebaruan, karena segala hal di era ini juga memiliki kebaruan dari berbagai sisi. Bilamana lulusan tidak terlatih untuk menemukan satu kebaruan dalam proses pemecahan masalah dan dalam proses berfikirnya, tentunya keputusan yang diambil akan mengarah pada solusi yang mungkin justru menimbulkan persoalan lain.

Enterpreuner. Pada era 21 ini akan sangat dimungkinkan terjadinya penurunan atau bahkan hilangnya beberapa profesi yang di era sebelumnya ada dan tergantikan dengan profesi-profesi baru. Misalkan, saat ini muncul profesi yang diacukan pada para youtuber. Sebuah profesi yang dalam usahanya memanfaatkan salah satu aplikasi dunia maya youtube untuk memasarkan produk. Konten yang ditampilkan dapat sangat bervariasi. Siapa saja dapat menyaksikan hasil para youtuber ini hanya dengan hitungan detik dan dengan kemudahan. Kemampuan yang dibutuhkan adalah jiwa enterpreneur. Jiwa yang dapat terampil memikirkan bagaimana sebuah produk dapat diminati pasar sehingga dapat menghasilkan uang

KEARIFAN LOKAL

Menurut Putri racmadayanti (2017) Kearifan lokal adalah segala bentuk kebijaksanaan yang didasari oleh nilai–nilai kebaikan yang dipercaya, diterapkan dan senantiasa dijaga keberlangsungannya dalam kurun waktu yang cukup lama (secara turun-temurun) oleh sekelompok orang dalam lingkungan atau wilayah tertentu yang menjadi tempat tinggal mereka. Kearifan lokal memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan tradisional pada suatu tempat, dalam kearifan lokal tersebut banyak mengandung suatu pandangan maupun aturan agar masyarakat lebih memiliki pijakan dalam menentukan suatu tindakan seperti perilaku masyarakat sehari-hari. Pada umumnya etika dan nilai moral yang terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra lisan dan manuskrip. Kearifan lokal yang diajarkan turun temurun tersebut merupakan kebudayaan yang patut dijaga, masingmasing wilayah memiliki kebudayaan sebagai ciri khasnya dan terdapat kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari suku- suku di Indonesia merupakan bagian integral dari kebudayaan Indonesia. Simbolisasi tersebut dapat digampabarkan melalui lagu daerah, kerajinan tangan, tarian, rumah adat, dan potensi pariwisata daerah. Kekayaan budaya tersebut harus terus dilestarikan sebagai jalan menjadi bangsa yang berkarakter.

Ichwal (2011) menyebutkan bahwa pentingnya pendidikan budaya sama pentingnya seperti membangun karakter bangsa. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Fajarini (2014) bahwa menggali dan melestarikan berbagai unsur kearifan lokal, tradisi dan pranata lokal, termasuk norma dan adat istiadat yang bermanfaat dan dapat berfungsi efektif dalam pendidikan karakter. Berikut Kearipan Lokal/ kesenian Budaya yang terlahir di suku sunda Khususnya Tasikmalaya.

Kerajinan Bordir

Seni hiasan bordir telah ditemukan sejak zaman dahulu. Hiasan ini pertama kali muncul di Byzantium tahun 330 sesudah masehi. Definisi Bordir menurut kamus lengkap Bahasa Indonesia adalah hiasan rajutan benang pada kain. Pada awalnya alat yang digunakan untuk membordir hanya mesin jahit dan pamidangan. Mesin jahitnya merupakan mesin jahit biasa yang digerakkan dengan bantuan kaki, di kalangan perajin bordir disebut mesin kejek. Mesin jahit model ini diperkirakan mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1920, kemudian dikenal dengan adanya mesin juki setelah ada kunjungan dari Jepang dan memberi bantuan berupa mesin jahit yang memiliki merk Juki. Sekarang dikenal dengan mesin juki. Seiring perkembangan teknologi, mesin juki tersisih oleh mesin baru yang lebih ekonomis dan efisien dan mampu memproduksi jauh lebih banyak dengan kualitas yang sama yaitu mesin bordir yang menggunakan teknologi computer (Bordir Komputer). sebagai masyarakat adat, masayarakat pengrajin border memiliki tradisi dan kepercayaan yang kuat terhadap ikatan moral, setiap terjadi pelanggaran terhadap tradisi dianggap akan mengahancurkan tatanan kehidupannya banyak nilai yang diyakini kebenarannya dalam usaha ekonomi, walaupun nilai tersebut sudah banyak yang begeser kepada nilai obyektif, rasional dan teknologi yang merupakan ciri dari modernisasi. Nilai hidup hemat sudah tertanam sejak dahulu ketika masih didominasi oleh masyarakat pertanian, seperti ulah dahar sangu samemeh panen dalapan kali (jangan makan nasi sebelum delapan kali panen). Nilai tersebut diakui sebagai cara untuk menabung atau memupuk modal usaha. Nilai berusaha ekonomi sudah tertanam di dalam kehidupan keluarga tradisional yaitu, lamun hayang aya kaboga kudu daek usaha, lamun hayang uang kudu daek dagang, lamun hayang duit kudu daek indit (kalau ingin harta harus mau berusaha, kalau ingin uang harus berdagang, kalau ingin duit harus mau pergi). Itulah sebabnya masyarakat pengrajin bordir memproduksi sendiri dan kemudian menjualnya sendiri ke pasar di berbagai kota besar.

Kampung Naga

Pada masyarakat Naga, nilai tradisional sangat dipertahankan; semua anggota masyarakat terikat oleh belenggu adat yang turun menurun.Hal itu terbentuk oleh sejarah yang panjang; dikisahkan seorang anak raja Galuh Ciamis yang bodoh tetapi jujur disuruh pergi ke tengan (buana tengah) dan menetap di kampung Naga. Nama dari putra raja galuh bernama Dalem Singaparana yang sekarang menjadi nama kota kabupaten Singaparna. Orang Naga dilarang mengatakan Singaparna tetapi harus mengatakan dayeuh atau galunggung. Kesederhanaan masyarakat Naga juga tercermin oleh tampilan budaya yang masih tradisional ditengah tengah kemajuan global. Pola perilaku dan tampilan budaya fisik terlihat dari bangunan rumah yang terbuat dari bambu dan kayu dalam bentuk rumah panggung yang dibuat secara seragam untuk semua warga, demikian pula perabotan rumah tangga tradisional terbuat dari kayu, bambu, dan batu.

Pertanian sawah digarap secara tradisional dengan mencangkul sawah, jenis bibit padi yang ditanam adalah padi lokal (pare gede), menggunakan pupuk organik, panen dengan ani ani, dan menumbuk padi dengan lesung dan alu. Penerangan menggunakan minyak tanah walaupun mahal, tidak ada jaringan listrik.karena memang tidak boleh menggunakan energi listrik. Boleh masuk televisi tetapi hanya menggunakan accu.Para pemuda yang tidak mendukung budaya Naga dan ingin hidup lebih maju, harus keluar dari kampung Naga.

Teknologi mencegah terjadinya erosi tanah pada aliran sungai Ciwulan yang mengalir melewati kampung Naga, dilakukan dengan menahan pinggir sungai dengan tumpukan batu kali yang direkat oleh tanah liat, ternyata terbukti sangat efektif karena tanah liat ditumbuhi lumut yang merekatkan tumpukan batu menjadi lebih kuat, tahan oleh derasnya aliran sungai.

URGENSI PENGUATAN PEDIDIK AN KARAKTER DI SD MELALUI KEARIF AN LOKAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Guru memiliki peran penting dalam mengembangkan pendidikan karakter karena guru merupakan peran sentral dalam pembelajaran. Guru harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter siswa berdasarkan nilai-nilai karakter serta mampu mendefiniskan dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari- hari. Guru juga harus berkarakter yang baik, mengingat guru merupakan teladan bagi siswa. Berdasarkan hakikat dari Kurikulum 2013 bahwa unsur yang paling banyak diberikan pada siswa Sekolah Dasar adalah pada aspek afektif, karena pendidikan dasar merupakan fondasi bagi siswa untuk belajar secara utuh dalam rangka menyiapkan diri menuuju kehidupan bermasyarakat, baik lokal, nasional maupun global. Untuk itu guru perlu memiliki komitmen dan konsekuensi dalam mempersipakan siswa menghadapi berbagai tantangan kehidupan global. konsekuensi dalam penyiapan sumber daya manusia, harus bersifat realistik karena globalisasi menjadi tantangan yang terkait dengan daya saing dan prakarsa. Pengembangan materi pembelajaran di sekolah dasar, khususnya materi bermuatan IPS dan SBDP dapat dikembangkan dengan memanfaatkan kearifan lokal yang ada di masyarakat. Guru dapat merencanakan kegiatan atau tugas- tugas yang diberikan kepada siswa, yang bersumber dari kearifan lokal masyarakat sekitar. Kegiatan yang bersumber dari kearifan lokal setempat dapat diaplikasikann dengan adanya karya wisata disertai tugas tentang pelaporan hasil karyawisata. Selain itu, jika karyawisata atau studi lapangan belum memungkinkan, guru dapat memberikan video dan gambar yang nyata supaya siswa dapat mudah membayangkan melalui media proyektor dan laptop, walaupun tidak melihat secara langsung. Maka dari itu guru harus mempunyai skill atau keahlian terhadap teknologi, supaya dapat memanfaatkan alat-alat yang dihasilkan dari perkembangan zaman. Ada beberapa hal penting yang dapat menjadi implikasi materi kearifan lokal terhahadap pembelajaran di Sekolah Dasar dalam kaitannya dengan pendidikan karakter.

Nilai keagamaan tradisional telah menanamkan keyakinan bahwa setiap orang diberi rejeki oleh Tuhan. Oleh karena itu, persaingan antar sesama pengusaha kerajinan dapat dibatasi oleh konsep nasib dan rejeki yang berbeda satu dengan lainnya yang diberikan Tuhan. Tidak ada persaingan yang saling merugikan, walaupun harus terjadi perebutan dan persaingan pasar atar saudara sekandung.

Nilai hidup hemat sudah tertanam sejak dahulu ketika masih didominasi oleh masyarakat pertanian, seperti ulah dahar sangubsamemeh panen dalapan kali (jangan makan nasi sebelum delapan kali panen). Nilai tersebut diakui sebagai cara untuk menabung atau memupuk modal usaha. Nilai berusaha ekonomi sudah tertanam di dalam kehidupan keluarga tradisional yaitu, lamun hayang aya kaboga kudu daek usaha, lamun hayang uang kudu daek dagang, lamun hayang duit kudu daek indit (kalau ingin harta harus mau berusaha, kalau ingin uang harus berdagang, kalau ingin duit harus mau pergi). Itulah sebabnya masyarakat pengrajin bordir memproduksi sendiri dan kemudian menjualnya sendiri ke pasar di berbagai kota besar.

Nilai tradisional yang adaptif dengan globalisasi di antaranya perbuatan jujur, menempati janji, dan menghargai orang lain. Ulah ngamomore kepercayaan, sabab kepercayaan the kahormatan diri (Jangan meremehkan kepercayaan sebab kepercayaan adalah kehormatan diri). Nilai tersebut ditanamkan dalam keluarga dan masyarakat terutama kepada generasi muda. Pengrajin selalu berusaha untuk memuaskan pelanggan dan berusaha untuk tidak mengecewakan pelanggan, pembeli adalah raja yang harus dihormati.

Nilai- nilai yang terkandung dalam kearifan lokal tesebut, tidak hanya ditanamkan secara teori di dalam kelas. Secara rutin, guru dapat mengajarkan ke siswa secara langsung untuk mempraktekkan nilai- nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari- hari. Pembiasaan merupakan upaya yang dapat dilakukan dalam pendidikan karakter. Apabila pembiasaan dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan, maka akan Nampak kultur. Pembiasaan yang dilakukan di sekolah tentu tidak luput dari adanya contoh atau teladan guru sebagai panutan harus memeberikan contoh yang baik, sehingga siswa dapat meneladani sikap atau karakter baik dari guru. Hal ini mengingat siswa sekolah Dasar ada pada tahap perkembangan sosial yang suka meniru (imitasi) dari tokoh idola. Selain itu, guru perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk mengembangkan pendidikan karakter, yaitu keluarga dan masyarakat. faktor lingkungan memberikan pengaruh positif yang signifikan pada pembentukan karakter bila pendidikan nilai dari faktor faktor tersebut diperoleh secara bersama-sama.

KESIMPULAN

Pendidikan karakter sebagai salah satu aspek terpenting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Guru harus menanamkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar, agar anak memiliki pondasi yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Penguatan pendidikan karakter melalui kearifan lokal perlu dilakukan oleh guru agar anak semakin mengenali lingkungan setempat dan semakin cinta dengan budaya bangsanya sendiri. Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk memperkenalkan kearifan lokal kepada anak.

Dalam pengembangan materi kearifan lokal diharapkan guru harus kreatif dalam memadukan antara kearifan lokal dengan materi di Sekolah Dasar. Materi yang bersumber dari kearifan lokal setempat anak dapat menjadikan pembelajaran kontekstual dan bermakna. Sehingga perlu upaya dan komitmen terus menerus untuk menerapkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Sehingga pada akhirnya, pendidikan di Indonesia memiliki pancaran keunggulan lokal di era revolusi industri 4.0.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih Kepada Allah SWT yang telah memberikan kesehatan kepada kami sehingga kami diberi kesehatan utnuk menyelseikan jurnal ini, terimakasih kepada Seluruh Dosen yang telah mendukung secara moril maupun non moril, dan terimakasih kepada seluruh Anggota HMPS PGSD Universitas perjuangan yang selalu memberikan semangat serta motivasi kepada kami dalam serangkaian proses kegiatan yang dilakukan.

References

  1. Rachmadyanti, P. (2017). Penguatan Pendidikan Karakter bagi Siswa Sekolah dasar melalui kearifan lokal. Universitas Negeri Surabaya.
  2. Darusman, Y. (2016). Kearifan Lokal dan pelestarian lingkungan. PLS FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya.
  3. Zidyani. (2019) .Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah dasar di era revolusi industri 4.0. Fakultas tarbiyah, IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi.
  4. Sutarna,N. (2018). Urgensi penguatan pendidikan karakter di era revolusi industri 4.0. STKIP Muhammadiyah Kuningan.
  5. Lickona,T.(2015). Educating for character . Jakarta: Bumi aksara.