Articles
DOI: 10.21070/icecrs2020449

Learning Strategies For Children Special Needs


Strategi Pembelajaran Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Universitas Slamet Riyadi
Indonesia
Universitas Slamet Riyadi
Indonesia
Universitas Slamet Riyadi
Indonesia
Learning Strategies Children Special Needs

Abstract

This study aims to determine the Learning Strategies For Children Special Needs. The method used in this research is the study of literature. This research produces educational services for individuals with special needs is inclusive education by deepening the application of learning strategies for children with special needs.

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah hak seluruh warga negara tanpa membedakan asal-usul, status sosial ekonomi, maupun keadaan fisik seseorang, termasuk anak-anak yang mempunyai kelainan sebagaimana di amanatkan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1. Dalam undang-undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, hak anak untuk memperoleh pendidikan di jamin penuh tanpa adanya diskriminasi, termasuk anak-anak yang memiliki kelainan atau anak-anak yang berkebutuhan khusus.Setiap anak berpotensi mengalami problema dalam belajar mengajar, hanya saja tingkat problema setiap orang berbeda-beda. Ada seorang anak yang memiliki problema ringan dalam belajar sehingga tidak diperlukan perhatian

khusus dari orang lain untuk menyelesaikan masalahnya karena di setiap masalahnya dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri sedangkan ada juga anak yang mengalami problema tinggi sehingga memerlukan dampingan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya. Anak luar biasa atau sering disebut anak berkebutuhan khusus (children with special needs), memang tidak selalu menemukan problem dalam belajar namun ketika mereka di interaksikan dengan teman-teman sebaya lainya dalam system pendidikan regular maka ada hal-hal khusus yang harus diperhatikan seorang pengajar untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal.Dengan berkembangnya tuntutan bagi kelompok perbedaan kemampuan (Difabel) dalam menyuarakan hak-haknya, maka munculan istilah pendidikan Inklusi. Salah satu kesepakatan internasional yang mendorong terwujudnya sistem penilaian inklusi adalah Convention on the Right of Person with Disabilities and Optional Protocol yang disahkan pada maret 2007. Adapun salah satu tujuannya adalah untuk mendorong terwujudnya partisipasi penuh difabel dalam kehidupan masyarakat. Namun dalam prakteknya sistem pendidikan inklusi di Indonesia belum berjalan dengan semestinya dan masih menyisakan berbagai persoalan.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi literatur dari berbagai sumber yang berkaitan.

PEMBAHASAN

Pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus (student with special needs) membutuhkan suatu strategi tersendiri sesuai dengan kebutuhan masing-masing Dalam penyusunan progam pembelajaran untuk setiap bidang studi hendaknya guru kelas sudah memiliki data pribadi setiap peserta didiknya. Kompetensi ini terdiri atas empat ranah yang perlu diukur meliputi kompetensi fisik, kompetensi afektif, kompetensi sehari-hari dan kompetensi akademik.

Definisi Anak Berkebutuhan Khusus

Menurut Heward anak berkebutuhan khusus adalah Individu atau anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan idividu / anak pada umumnya, tanpa selalu menunjukan pada ketidak mampuan mental,emosi atau fisik. Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan / penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial dan emosional) dalam proses pertumbuhkembanganya di bandingkan dengan anak-anak lain seusianya, sehingga mereka memerlukan pelayanan dan pendidikan khusus.[1]

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.[2]

Anak dengan kebutuhan khusus dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat (slow) atau mangalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya. Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, dan Handicap. Menurut World Health Organization (WHO), definisi masing-masing istilah adalah sebagai berikut:

Disability: keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari impairment) untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan aturannya atau masih dalam batas normal, biasanya digunakan dalam level individu. Impairment: kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis, atau struktur anatomi atau fungsinya, biasanya digunakan pada level organ. Handicap: Ketidak beruntungan individu yang dihasilkan dari impairment atau disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu.

Selama ini anak-anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel) disediakan fasilitas pendidikan khusus disesuaikan dengan derajat dan jenis difabelnya yang disebut dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Secara tidak disadari sistem pendidikan SLB telah membangun tembok eksklusifisme bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Tembok eksklusifisme tersebut selama ini tidak disadari telah menghambat proses saling mengenal antara anak-anak difabel dengan anak-anak non-difabel. Akibatnya dalam interaksi sosial di masyarakat kelompok difabel menjadi komunitas yang terasing dari dinamika sosial di masyarakat. Masyarakat menjadi tidak akrab dengan kehidupan kelompok difabel. Sementara kelompok difabel sendiri merasa keberadaannya bukan menjadi bagian yang integral dari kehidupan masyarakat.

Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

Anak / individu berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru yang dapat diklasifikasikan, antara lain:

Tunagrahita (Mental retardation)

Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidak mampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam perkembangan. Klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ. 1.) Tunagrahita ringan (IQ: 51-70), 2.) Tunagrahita sedang (IQ: 36-51), 3.) Tunagrahita berat (IQ: 20-35), dan 4.) Tunagrahita sangat berat (IQ dibawah 20). Ada beberapa definisi dari tunagrahita, antara lain:

American Association on Mental Deficiency (AAMD) Mendefinisikan tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (sub-average), berdasarkan tes individual; yang muncul sebelum usia 16 tahun; menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Japan League for Mentally Retarded Mendefinisikan retardasi tunagrahita ialah fungsi intelektual lamban, IQ 70 ke bawah berdasarkan tes dan terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun. The New Zealand Society for the Intellectually Handicapped Menyatakan seseorang dikatakan tunagrahita apabila kecerdasannya jelas-jelas di bawah ratarata dan berlangsung pada perkembangan serta terhambat dalam adaptasi tingkah laku terhadap lingkungan sosialnya. Definisi Tunagrahita Yang Dipublikasikan Oleh American Association On Mental Retardation (AAMR). [3] Di awal tahun 60-anyaitu; tunagrahita merujuk pada keterbatasan fungsi intelektual umum dan keterbatasan pada keterampilan adaptif. Keterampilan adaptif mencakup area: komunikasi, merawat diri, home living, keterampilan sosial, bermasyarakat, mengontrol diri, functional academics, waktu luang, dan kerja. Menurut definisi ini, ketunagrahitaan muncul sebelum usia 18 tahun. Menurut WHO seorang tunagrahita memiliki dua hal yang esensial yaitu fungsi intelektual secara nyata di bawah rata-rata dan adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tututan yang berlaku dalam masyarakat. Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita yaitu melalui beberapa indikasi sebagai berikut:

1) Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar; 2) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia; 3) Perkembangan bicara/bahasa terlambat; 4) Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong); 5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali); 6) Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).

Tunalaras (Emotional or behavioral disorder)

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. [4] Individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar. Menurut Eli M. Bower (1981), anak dengan hambatan emosional atau kaelainan perilaku, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut: 1)Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena factor intelektual, sensori atau kesehatan; 2)Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guruguru; 3) Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya; 4) Secara umum mereka selalu dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan atau depresi; 5) Bertendensi kea rah symptoms fisik: merasa sakit atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.

Anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku juga bisa diidentifikasi melalui indikasi berikut: 1) Bersikap membangkang, 2) Mudah terangsang emosinya; 3) Sering melakukan tindakan aggresif; 4) Sering bertindak melanggar norma sosial, susila, dan hukum.

Tunarungu ( Commu nication disorder and deafness )

Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah: 1) Gangguan pendengaran sangat ringan (27-40dB); 2) Gangguan pendengaran ringan (41-55dB); 3) Gangguan pendengaran sedang (56-70dB); 4) Gangguan pendengaran berat (71-90dB); 5) Gangguan pendengaran ekstrim (di atas 91dB)

Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. Saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. [5] Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak. Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan pendengaran: 1) Tidak mampu mendengar; 2) Terlambat perkembangan Bahasa; 3) Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi; 4) Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara; 5) Ucapan kata tidak jelas; 6) Kualitas suara aneh/monoton; 7) Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar; 8) Banyak perhatian terhadap getaran; 9) Keluar nanah dari kedua telinga; 10) Terdapat kelainan organis telinga.

Tunanetra (Partially seing and legally blind)

Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. Sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. [2]

Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium). Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan penglihatan: 1) Tidak mampu melihat; 2) Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter; 3) Kerusakan nyata pada kedua bola mata; 4) Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan; 5) Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya; 6) Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering; 7) Mata bergoyang terus

Tunadaksa (Physical disability)

Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. [4] Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik. Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan anggota tubuh tubuh/gerak tubuh: 1) Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh; 2) Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali); 3) Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap atau tidak sempurna atau lebih kecil dari biasa; 4) Terdapat cacat pada alat gerak; 5) Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam; 6) Kesulitan pada saat berdiri, berjalan, duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal; 7) Hiperaktif/tidak dapat tenang.

Tuna ganda (Multiple handicapped)

Menurut Johnston & Magrab, tunaganda adalah mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neurologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti intelegensi, gerak, bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat. Walker (1975) berpendapat mengenai tunaganda sebagai berikut: 1) Seseorang dengan dua hambatan yang masing-masing memerlukan layananlayanan pendidikan khusus; 2) Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda yang memerlukan layanan teknologi; 3) Seseorang dengan hambatan-hambatan yang memerlukan modifikasi khusus. [2]

Kesulitan Belajar (Learning disabilities)

Anak dengan kesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia perkembangan. Individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep. Berikut adalah karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca, menulis dan berhitung: 1) Perkembangan kemampuan membaca terlambat; 2) Kemampuan memahami isi bacaan rendah; 3) Kalau membaca sering banyak kesalahan; 4) Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai; 5) Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya; 6) Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca; 7) Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang; 8) Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris; 9) Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =; 10) Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan; 11) Sering salah membilang dengan urut; 12) Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya; 13) Sulit membedakan bangun-bangun geometri

Anak Berbakat ( Giftedness and special talents)

Menurut Milgram, R.M (1991:10), anak berbakat adalah mereka yang mempunyai skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (Terman, 1925), mempunyai kreativitas tinggi (Guilford, 1956), kemampuan memimpin dan kemampuan dalam seni drama, seni tari dan seni rupa (Marlan, 1972).Anak berbakat mempunyai empat kategori, sebagai berikut:

1) Mempunyai kemampuan intelektual atau intelegensi yang menyeluruh, mengacu pada kemampuan berpikir secara abstrak dan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan masuk akal; 2) Kemampuan intelektual khusus, mengacu pada kemampuan yang berbeda dalam matematika, bahasa asing, music, atau ilmu pengetahuan alam; 3) Berpikir kreatif atau berpikir murni menyeluruh. Pada umumnya mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah yang tidak umum dan memerlukan pemikiran tinggi; 4) Mempunyai bakat kreatif khusus, bersifat orisinil dan berbeda dengan yang lain. Dari keempat kategori di atas, maka anak berbakat adalah mereka yang mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul dalam segi intelektual, teknik, estetika, social, fisik, akademik, psikomotor dan psikososial

Anak Autistik (Autism Syndrome) Autism Syndrome

Merupakan kelainan yang disebabkan adanya hambatan pada ketidakmampuan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak.gejala autism menurut Delay & Deinaker (1952) dan Marholin & Philips (1976) antara lain: 1) Senang tidur bermalas-malasan atau duduk menyendiri dengan tampang acuh, muka pucat, dan mata sayu dan selalu memandang ke bawah; 2) Selalu diam sepanjang waktu; 3) Jika ada pertanyaan terhadapnya, jawabannya sangat pelan dengan nada monoton, kemudian dengan suara yang aneh akan menceritakan dirinya dengan beberapa kata kemudian diam menyendiri lagi; 4) Tidak pernah bertanya, tidak menunjukkan rasa takut dan tidak menyenangi sekelilingnya; 5) Tidak tampak ceria; 6) Tidak peduli terhadap lingkungannya, kecuali terhadap benda yang disukainya.

Hyperactive (Attention Deficit Disorder with Hyperactive)

Hyperactive bukan merupakan penyakit tetapi suatu gejala atau symptoms. (Batshaw & Perret, 1986: 261).symptoms terjadi disebabkan oleh factor-faktor brain damage, an emotional disturbance, a hearing deficit or mental retardaction. Dewasa ini banyak kalangan medis masih menyebut anak hiperaktif dengan istilah attention deficit disorder (ADHD).

Strategi Pembelajaran Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.

Untuk menangani ABK tersebut dalam setting pendidikan inklusif di Indonesia, tentu memerlukan strategi khusus. Pendidikan inklusi adalah termasuk hal yang baru di Indonesia umumnya. Ada beberapa pengertian mengenai pendidikan inklusi, diantaranya adalah pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan. Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik, gender, status sosial, kemiskinan dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.

Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan tentang pengertian pendidikan inklusi bahwa: “sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.” Selanjutnya, Sapon-Shevin (O’Neil, 1995) menyatakan tentang pengertian pendidikan inklusi bahwa: “pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya perombakan sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, sehingga sumber belajar menjadi memadai dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.”

Dalam hal ini, ada empat strategi pokok yang diterapkan pemerintah, yaitu: peraturan perundang-undangan yang menyatakan jaminan kepada setiap warga negara Indonesia (termasuk ABK temporer dan permanen) untuk memperoleh pelayanan pendidikan, memasukkan aspek fleksibilitas dan aksesibilitas ke dalam sistem pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Selain itu, menerapkan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan mengoptimalkan peranan guru. Oleh karena itu, dijelaskan beberapa strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus, antara lain:

Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu

Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan optimal dari semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi tujuan, materi pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar dan evaluasi sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. strategi pembelajaran antara lain: 1) Berdasarkan pengolahan pesan terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran deduktif dan induktf; 2) Berdasarkan pihak pengolah pesan yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan heuristic; 3) Berdasarkan pengaturan guru yaitu strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu; 4) Berdasarkan jumlah siswa yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual; 5) Beradsarkan interaksi guru dan siswa yaitu strategi tatap muka, dan melalui media.

Selain strategi yang telah disebutkan di atas, ada strategi lain yang dapat diterapkan yaitu strategi individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku. Strategi yang biasa digunakan untuk anak tunarungu antara lain: strategi deduktif, induktif, heuristic, ekspositorik, klasikal, kelompok, individual, kooperatif dan modifikasi perilaku.

Strategi pembelajaran bagi anak tunagrahita

Strategi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang belajar di sekolah umum akan berbeda dengan strategi anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Strategi yang dapat digunakan dalam mengajar anak tunagrahita antara lain: Strategi pembelajaran yang diindividualisasikan, Strategi kooperatif, Strategi modifikasi tingkah laku.

Strategi pembelajaran bagi anak tunadaksa

Strategi yang bias diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian tempat pendidikan, sebagai berikut: 1) Pendidikan integrasi; 2) Pendidikan segresi; 3) Penataan lingkungan belajar

Kauffman (1985) mengemukakan model-model pendekatan sebagai berikut; 1) Model biogenetic; 2) Model behavioral/tingkah laku; 3) Model psikodinamika; 4) Model ekologis; 5) Anak berkesulitan belajar membaca yaitu melalui program delivery dan remedial teaching; 6) Anak berkesulitan belajar menulis yaitu melalui remedial sesuai dengan tingkat kesalahan; 7) Anak berkesulitan belajar berhitung yaitu melalui program remidi yang sistematis sesuai dengan urutan dari tingkat konkret, semi konkret dan tingkat abstrak.

Strategi pembelajaran yang sesuai denagan kebutuhan anak berbakat akan mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam meneentukan strategi pembelajaran adalah: 1) Pembelajaran harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas; 2) Tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual semata tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional; 3) Berorientasi pada modifikasi proses, content dan produk. Model-model layanan yang bias diberikan pada anak berbakat yaitu model layanan perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus.

KESIMPULAN

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB) ” yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka. Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.

Pelayanan pendidikan untuk individu berkebutuhan khusus adalah dengan pendidikan inklusi .Pendidikan inklusi adalah sebuah sistem pendidikan yang memungkinkan setiap anak penuh berpartisipasi dalam kegiatan kelas reguler tanpa mempertimbangkan kecacatan atau karakteristik lainnya. Disamping itu pendidikan inklusi juga melibatkan orang tua dalam cara yang berarti dalam berbagi kegiatan pendidikan, terutama dalam proses perencanaaan, sedang dalam belajar mengajar, pendekatan guru berpusat pada anak. Bagi anak berkebutuhan khusus, peran aktif orangtua ini merupakan bentuk dukungan sosial yang menentukan kesehatan dan perkembangannya, baik secara fisik maupun psikologis. Dukungan sosial pada umumnya menggambarkan mengenai peranan atau pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh orang lain yang berarti seperti anggota keluarga, teman, saudara, dan rekan kerja.

SARAN

Jika pemerintah memang serius dalam melaksanakan program pendidikan inklusi, maka yang harus dilakukan adalah dengan menjalankan tahapan – tahapan pelaksanaan pendidikan inklusi secara konsisten mulai dari sosialisasi hingga evaluasi pelaksanaannya. Namun yang lebih penting dan secara langsung dapat dilakukan oleh para guru untuk mewujudkan pendidikan inklusi adalah dengan menciptakan suasana belajar yang saling mempertumbuhkan (cooperative learning). Cooperative Learning akan mengajarkan para siswa untuk dapat saling memahami (mutual understanding) kekurangan masing – masing temannya dan peduli (care) terhadap kelemahan yang dimiliki teman sekelasnya. Dengan demikian maka sistem belajar ini akan menggeser sistem belajar persaingan (competitive learning) yang selama ini diterapkan di dunia pendidikan kita. Dalam waktu yang bersamaan competitive learning dapat menjadi solusi efektif bagi persoalan yang dihadapi oleh para guru dalam menjalankan pendidikan inklusi. Pada akhirnya suasana belajar cooperative ini diharapkan bukan hanya menciptakan kecerdasan otak secara individual, namun juga mengasah kecerdasan dan kepekaan sosial para siswa.

Memiliki anak berkebutuhan khusus diakui merupakan tantangan yang cukup berat bagi banyak orangtua. Tidak sedikit yang mengeluhkan bahwa merawat dan mengasuh anak berkebutuhan khusus membutuhkan tenaga dan perhatian yang ekstra karena tidak semudah saat melakukannya pada anak-anak normal. Namun demikian, hal ini harus dapat disikapi secara positif, agar selanjutnya orangtua dapat menemukan langkah-langkah yang tepat untuk mengoptimalkan perkembangan dan berbagai potensi yang masih dimiliki oleh anak-anak tersebut. Terlebih pada prinsipnya, meskipun memiliki keterbatasan, bukan berarti tertutup sudah semua jalan bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat berhasil dalam hidupnya dan menjalani hari-harinya tanpa selalu bergantung pada orang lain. Di balik kelemahan atau kekurangan yang dimiliki, anak berkebutuhan khusus masih memiliki sejumlah kemampuan atau modalitas yang dapat dikembangkan untuk membantunya menjalani hidup seperti individu-individu lain pada umumnya.

References

  1. Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
  2. Delphie, Bandi. 2006. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Refika Aditama.
  3. Biasa Umum. Jakarta: Ditjendikti Sumadi Suryabrata. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali.
  4. Uyoh Sadulloh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
  5. Wardani, I.G.A.K. 2007. Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Universitas Terbuka.