Articles
DOI: 10.21070/icecrs2020450

Implementation of the Green School Festival to Increase Strengthening of Character Education in Era 4.0


Pelaksanaan Green School Festival Untuk Meningkatkan Penguatan Pendidikan Karakter di Era 4.0

Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Indonesia
Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Indonesia
Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Indonesia
Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Indonesia
Green School Festival Strengthening Character Education

Abstract

The purpose of the Green School Festival is to improve character education that is held every year to manage the school as a green land that is environmentally friendly in the learning process. The research method uses qualitative descriptive data collection through observation, interviews, documentation, and descriptive qualitative analysis. The results showed nine topics that were solved for the problems that occurred. The nine topics include: publication and literacy, environmental management, waste and irrigation, liquid waste water, energy, green plants, child-friendly schools, healthy environment, and innovation and technology.

PENDAHULUAN

Manusia tidak lepas dari interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Menururt Rusdian Interaksi ini menghubungkan timbal balik positif maupun negatif. [1] Interaksi manusia dan alam sekitar harus dijaga keseimbangannya. Sebagai manusia yang diberikan kelebihan berpikir oleh sang pencipta, hendaknya mampu menjaga alam dan lingkungannya dengan baik. Salah satu upaya yang dilakukan Kota Malang dalam menjaga kelestarian alam yaitu mencanangkan Green School Festifal setiap tahun. Green School Festival merupakan kegiatan dalam upaya menghijauan lingkungan sekolah yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengelola sekolah menjadi lahan hijau dan dapat memanfaatkan lingkungan dalam upaya pembelajaran. Sedangkan menurut Paryadi [2] Green School merupakan program untuk meningkatkan aktivitas yang mengarah kepada kesadaran cinta lingkungan sekolah.

Green School Festival diikuti oleh seluruh sekolah dasar di Kota Malang, salah satunya SDN Merjosari 1 Kota Malang. Dalam kegiatan ini siswa diajak untuk memanfaatkan daur ulang daun kering sebagai pupuk organik, penanaman tanaman hijau, pemanfaatan botol bekas sebagai hiasan, dan pemanfaatan limbah sabun. Melalui kegiatan ini siswa diajak mengenal langsung lingkungan sekolahnya untuk menumbuhkan jiwa sosial, cinta lingkungan, dan penghijauan hal ini tertuang dalam nilai-nilai karakter dimana siswa dibiasakan memiliki sikap baik terhadap lingkungan. Green School Festival diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kota Malang yang didasari oleh beberapa permasalahan yaitu lingkungan tercemar, global warming, dan peningkatan temperatur global dengan salah satu cara menanggulanginya yaitu menggunakan metode Participatory Eco-Education Appraisal radarmalang.id [3]. Melalui kegiatan Green School Festivaldapat meningkatkan kualitas lingkungan hijau sebagai tempat belajar, bermain, dan bersosialisasi dan sebagai Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu nilai-nilai cinta lingkungan hijau melalui PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan). Menururt Rozhana Pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan hal yang menyenangkan dan mampu membawa anak ke dunia luar [4].

Pelaksanaan Green School Festivaldilakukan oleh seluruh warga sekolah SDN Merjosari 1 Kota Malang dengan media penyampaian Mading 3D yang membahas sembilan isu-isu terkini. Dalam isi tersebut membahas sembilan pokok permasalahan dengan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Upaya Green School Festivalmerupakan pokok utama dalam proses belajar siswa. Pendapat Trinova menyatakan bahwa Pembelajaran yaitu suatu proses yang dilalui oleh guru dan siswa sebagai penerima atau transfer ilmu. [5]

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 30 September 2019 diketahui bahwa SDN Merjosari 1 Kota Malang merupakan sekolah dasar yang melaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Menurut kepala sekolah SDN Merjosari 1 Kota Malang kegiatan cinta lingkungan perlu ditanamkan sejak usia dini dan mampu membiasakan sikap positif dalam menjaga kelestarian alam sekitar, adanya kebijakan dari dinas Kota Malang dalam menerapkan Green School Festival, sebagai upaya pembiasaan Penguatan Pendidikan Karakter, sebagai sarana belajar siswa yang menyenangkan, dan meminimalisir temperatur tinggi di Kota Malang yang sudah dirasa perubahan suhu sejak awal tahun 2019.

Pendidikan karakter merupakan tujuan pendidikan nasional yang mana siswa harus bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang baik.[6] Sedangkan menurut Rozhana [7] karakter seseorang menentukan pribadinya. Pendidikan karakter harus berjalan selama pendidikan itu berlangsung.[8] Jadi pendidikan karakter merupakan sikap positif yang harus dibiasakan secara baik dalam lingkungan dan proses pendidikan berlangsung. Dengan bertambahnya era yang semakin canggih pendidikan karakter ini mulai dikesampingkan namun dengan adanya Green School Festival mampu memperbaiki tatanan nilai-nilai positif di era 4.0. Dengan kecanggihan teknologi di era 4.0 Penguatan Pendidikan Karakter adalah hal utama yang harus diterapkan dalam dunia pendidikan. Pendidikan karakter nasional yang tertuang dalam pancasila terdiri dari beberapa point, di antaranya: (1) keagamaan, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) bekerja keras, (6) kreatif, (7independen), (8( demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) komunikatif, (14) cinta damai, (15) suka membaca, (16) peduli tentang lingkungan hidup, (17) masalah sosial, dan (18) bertanggung jawab (Presiden Republik Indonesia, 2017:87).

Berdasarkan point cinta tanah air, peduli lingkungan hidup, dan masalah sosial yang tertuang dalam nilai-nilai karakter, dalam kegiatan Green School Festival diuraikan kegiatan melalui penelitian “Pelaksanaan Green School Festival Untuk Meningkatkan Penguatan Pendidikan Karakter di Era 4.0”.

METODE

Metode penelitian menggunakan deskripstif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis deskriptif kualitatif [9]. Laporan penelitian hasil riset berupa kutipan-kutipan data yang diperoleh selama observasi untuk memberikan gambaran penyajian laporan. Penelitian ini dilakukan selama satu minggu pada tanggal 30 September - 7 November 2019. Lokasi penelitian diadakan di SDN Merjosari 1 Kota Malang yang beralamatkan di Jalan Joyo Utomo No 2 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Subjek penelitian ini yaitu sekolah SDN Merjosari 1 Kota Malang. Peneliti bertindak sebagai observer, partisipan, dan pengumpul data. Selain itu, digunakan instrument wawancara dan dikumentasi selama proses kegiatan Green School Festival berlangsung.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi yaitu melihat atau mengamati suatu hal dengan memperhatikan detail proses yang terjadi dan ditulis secara deskriptif. Menurut Moleong [9] wawancara yaitu teknik pengumpulan data dimana terjadi komunikasi secara verbal antara pewawancara dan subjek yang diwawancarai. Percakapan verbal dilakukan oleh peneliti dan guru untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang peneliti harapkan. Sedangkan dokumentasi suatu cara untuk memperoleh data berupa gambar sehingga hasil yang diperoleh lebih teliti, lengkap, sah, dan bukan sekedar perkiraan saja. Melalui dokumentasi hasil penelitian lebih memperkuat data yang diperoleh untuk di deskripsikan secara faktual.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian selama satu minggu yang dilakukan pada tanggal 30 September - 7 November 2019 di SDN Merjosari 1 Kota Malang yaitu melalui beberapa tahap, diantaranya: Observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis deskriptif kualitatif. Kegiatan Green School Festival yang dilaksanakan di SDN Merjosari 1 Kota Malang meliputi membagi siswa dalam 9 kelompok yang terdiri dari 3-4 siswa dan masing-masing kelompok mendapatkan isu yang berbeda-beda. Setiap kelompok mendapatkan isu dan cara penyelesaiannya. Kegiatan Green School Festival mengangkat 9 isu atau topik berkaitan dengan lingkungan sekolah dan tempat tinggal yang diambil. Isu-isu yang dimaksud antara lain; (1) publikasi dan literasi; (2) tata kelola lingkungan; (3) sampah dan polusi; (4) air limbah cair (5) energy; (6) tanaman hijau; (7) sekolah ramah anak; (8) lingkungan sekolah sehat; (9) inovasi dan teknologi. Sembilan isu ini dipetakan oleh masing-masing sekolah baik SD atau SMP, sesuai dengan keadaan masing-masing sekolah, lalu kemudian dicari potensi pengembangan ataupun masalah yang dimilikinya hingga pada solusi penyelesaian masalah.

Sebelum diadakan kegiatan Green School Festival pihak panitia mensosialisasikan semua tentang mekanisme, prosedur dan hal lain yang berkaitan dengan Green School Festival. Setelah sosialisasi, siswa di tiap sekolah diarahkan membentuk kelompok sesuai dengan jumlah isu. Pembentukan kelompok ini bertujuan untuk mengobservasi atau meneliti lingkungann sekolah yang nantinya di petakan potensi dan masalahnya. Hal ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman para siswa yang menjadi delegasi sekolah untuk praktik memetakan lingkungan berdasarkan sembilan isu Green School Festival. Setelah berkumpul dengan kelompok, masing-masing anak mulai mengamati lingkungan sekitar sekolah kemudian mendiskusikanya. Proses diskusi yang dimaksud adalah pertukaran ide atau gagasan oleh masing-masing siswa yang mereka terima dari hasil observasi. Proses observasi, diskusi, dan pemecahan masalah yang dimaksudkan merupakan bagian dari proses berpikir kritis. Dengan metode ini siswa dapat melatih nalar kritis yang selama ini belum tereksplor.Figure 1

Figure 1.Sosialisai Panitia Green School Festival

Berikut penjabaran potensi dan masalah dari masing-masing kelompok.

Tim isu publikasi dan literasi, yaitu mempunyai tugas untuk mencari kekurangan yang ada di perpustakaan anatara lain: buku yang sudah rusak, rak-rak buku yang masih kosong, kekurangan buku, dan buku yang terbit dalam 10 tahun terakhir. Setelah siswa menemukan kekurangan dan masalah, siswa diminta untuk menawarkan solusi dari permasalahan tersebut. Dari hasil observasi siswa dapat memahami kepekaan terhadap masalah literasi. Hal ini, dianggap urgen karena Literasi sekolah merupakan tempat meningkatkan mutu pembelajaran, literasi sekolah juga bertujuan untuk memfasilistasi dan mengembangkan kemampuan siswa, membiasakan membaca serta mengelola informasi yang mereka sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna, bermutu dan menyenangkan [10]. Dalam isu literasi, sekolah telah menerapkan Gerakan Literasi sekolah hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara rendah literasi sehingga berpengaruh teradap kemampuan siswa dalam menerima informasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Teguh [11] rendahnya literasi menyebabkan SDM kurang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tim isu tata kelola lingkungan, bertugas mencari permasalahan atau kekurangan mengenai keadaan lingkungan sekolah, antara lain: letak UKS, kantin sekolah, mushola, kamar mandi, perpustakaan, kantor, dan ruang guru. Setelah siswa menemukan kekurangan dan masalah yang ada maka, siswa diminta untuk menawarkan solusi dari permasalahan tersebut. Dari hasil observasi, diketahui bahwa siswa masih merasakan adanya hal yang berkaitan tata kelola lingkungan. Hal ini, perlu diperhatikan karena tata kelola lingkungan sekolah harus memberikan kenyaman kepada peserta didiknya

Tim isu sampah dan polusi, tim ini bertugas memantau tempat sampah di lingkungan sekolah apakah sudah dipilah dari sampah organik dan non-organik, kemudian menganalisa polusi yang disebabkan dari lingkungan sekitar sekolah. Dari kegiatan tersebut, diketahui bahwa ada sampah yang masih dapat di olah dan ada juga yang membutuhkan tindakan pencegahan. Siswa memaparkan bahwa sampah yang lebih banyak adalah kotoran dedaunan. Solusi yang ditawarkan adalah mengelolah kotoran dedaunan menjadi pupuk. Hal ini, sejalan dengan pendapat Setyaningsih, [12] yaitu sekolah harus mampu membuat pupuk kompos dari daun yang ada di sekitar lingkungan sekolah.

Tim isu air limbah cair, siswa meneliti saluran atau selokan di lingkungan sekolah apakah selokan tersebut bersih dari sampah-sampah yang dapat menyumbat air untuk mengalir. Dari kegiatan siswa, diketahui bahwa SDN Merjosari 1 Kota Malang sudah memanfatkan limbah air untuk dialirkan ke taman sekolah sehingga mempunyai manfaat bagi tumbuhan di sekitarnya. Tim isu energi, kelompok isu ini memperoleh masalah yaitu kurang hemat dalam memakai listrik. Hal ini, ditemukan dari beberapa ruang kelas yang tidak memadamkan lampu kelas saat ruangan tidak digunakan lagi. Siswa merasa bahwa hemat energi adalah usaha menjaga bumi dari global warming bahkan saat ini Kota Malang mengalami temperatur panas yang tinggi.

Tim isu tanaman hijau bertugas untuk menata letak tanaman dan penataan tanaman dengan memunculkan kegiatan penghijauan dan penataan lingkungan sekolah. Prioritas kerja yang dilakukan oleh tim tanaman hijau meliputi: pembenahaan tanaman (di depan musolah, depan perpustakaan, dan depan kelas), pot-pot yang kosong ditanami bunga, perawatan tanaman dengan cara disiram dan diberi pupuk. Kelompok isu ini juga menemukan masalah terkait beberapa tanaman yang sudah mati, sehingga siswa menawarkan agar dilakukanya tanam ganti pada tanaman yang sudah mati.

Tim isu sekolah ramah anak, kelompok ini menggunakan metode wawancara untuk mengetahui pendapat siswa. Dari hasil wawancara, siswa mengatakan bahwa di SDN Merjosari 1 Kota Malang sudah menjalanakan sekolah ramah anak. Hal ini, terbukti dari tidak adanya kekerasan psikis maupun fisik yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Kristanto [13] sekolah ramah anak merupakan konsep sekolah terbuka dengan memperhatikan perkembangan psikis siswa. Tim isu lingkungan sekolah sehat. Tim ini menemukan ada beberapa masalah yaitu, banyak sampah yang tidak dibersihkan. Siswa menawarkan agar sampah dibersihkan lalu dipilahkan untuk klasifikasi sampah yang dapat terurai dan tidak terurai. SDN Merjosari 1 Kota Malang juga sudah terbilang bersih dan sehat. Hal ini, dilihat dari banyaknya tanaman hijau, klasifikasi bunga, pohon dan rumput hijau yang tumbuh dengan rindang.

Tim isu inovasi dan teknologi. Tim ini bertugas untuk meneliti kompetensi lingkungan sekolah yang dapat di inovasikan. Tim ini bekerja sama dengan orang tua wali. Dari hasil kegiatan siswa diketahui bahwa daun lidah buaya dapat dioalah menjadi makanan. Contoh makanan yang siswa buat yaitu es lidah buaya, brownis lidah buaya, dan pudding lidah buaya.Figure 2

Figure 2. Siswa Membuat Maping

Hasil potensi dan masalah lingkungan sekolah SDN Merjosari 1 Kota Malang , yang di desain dalam bentuk maping kemudian di paparkan siswa secara berkelompok , diketahui bahwa beberapa karakter dapat terbina. Karakter-karakter yang dimaksud antara lain, religius; yaitu dilihat dari usaha mencari masalah terkait lingkungan, kemudian mencari solusi untuk me nyelesaikan masalah -masalah tersebut . Hal ini , merupakan bentuk menghormati ciptaan Tuhan Yang Maha Esa . Selanjutnya , karakter mandiri yaitu pada saat kegiatan mencari masalah yang ada di sekolah selanjutnya siswa menyampaikan hasil kerjanya secara berkelompok.

Setelah sekolah mempersiapkan segala perlengkapan dalam mengikuti Green School Festival seperti mind mapping 9 i su lingkungan , hari Senin 09 /10/2019, tim penilai sebanyak 2 orang hadir ke Sekolah . Kedatangan dewan juri disambut dengan menampilkan berbagai penampilan kreasi dari siswa seperti tarian dan yel-yel. Seteleh penyambutan, penilai langsung memulai proses penilaian. Penilaian ini menekankan pada tiga poin penilaian . Pertama, penilaian poin penguatan pendidikan karakter (PPK), lingkungan sekolah sehat, dan se kolah ramah anak. Kedua, adalah sosialisasi dan kampanye lingkungan berbasis media sosial dan ketiga yaitu karya inovatif pada masing-masing isu dalam bentuk media pembelajaran (produk) atau media ko nkret berupa produk atau konsep. Poin penilaian terbesar adalah Pemetaan Sekolah Ekologis ( Eco-School Mapping ), Perencanaan Sekolah Ekologis ( Eco-School Planning ), Implementasi Sekolah Ekologis (Eco-School Implementation ). Adapun juga yang menjadi kriteria penilaian pada event tahun ini meliputi penilaian lingkungan dan kinerja sekolah serta lomba mading 3D yang didesain dalam bentuk mind mapping .

Proses penilaian ini berlangsung selama 120 menit . Pelaksanaan penilaian dimulai dari mengecek kondisi lingkungan sekolah baik kondisi lingkungan dan sarana prasarana pendukung proses pembelajaran. Pihak penilai mengelilingi sekolah, masuk melihat kondisi ruangan kelas dan mewawancarai guru serta mengecek perangkat pembelajaran . Kemudian p enilai juga diarahkan menuju ke sanitasi lingkungan sekolah untuk dinilai juga . Selanjutnya penilai menuju ke kelompok siswa yang sudah di kumpulkan masi ng-masing kelompok dari 9 isu yang dinilai . Setiap kelompok diarah kan untuk menjelaskan isu atau masalah yang ada di sekolah beserta dengan solusi. Setelah siswa men jelaskan hasil dari isu , penilai /juri melanjutkan menanyakan tentang kedalaman siswa terkait masalah dan solusi yang sudah dijelaskan untuk mengetahui pengetahuan siswa. Siswa juga diberikan rekomendasi solusi dari tim penilai yang berkaitan dengan isu atau masalah yang dijelaskan. Setiap kelompok dilakukan proses penilaian yang sama oleh tim penilai. Setelah proses penilaian semua selesai, penilai memberikan apresiasi kepada pihak sekolah SDN 1 Merjosari, baik Guru dan peserta didik. Proses penilaian ini ditutup dengan ucapan terimakasih dari guru dan siswa dengan menyanyikan sayonara dan yel-yel penutup, lalu kemudian penilai di hantar pulang menuju gerbang keluar sekolah.

KESIMPULAN

Green School Festival merupakan kegiatan wajib setiap tahun yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kota Malang dengan mengangkat 9 isu pokok yaitu publikasi dan literasi, tata kelola lingkungan, sampah dan polusi, air limbah cair, energi, tanaman hijau, sekolah ramah anak, lingkungan sehat, dan inovasi dan teknologi. Melalui kegiatan Green School Festival diharapkan menjadi pelopor Peguatan Pendidikan Karakter di era 4.O.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih diucapkan kepada kepala sekolah SDN Merjosari 1 Kota Malang telah memberikan kesempatan dalam berpartisipasi dalam kegiatan Green School Festival sehingga dapat ditulis dalam artikel ilmiah, Kepada Kaprodi PGSD UNITRI telah mendukung kegiatan dan penelitian ini, dan seluruh teman di S1 PGSD yang telah memberikan support dan motivasi dalam menjalankan Tri Dharma.

References

  1. Afandi, R. (2013). Efektifitas Kepemimpinan Transformasional Pesantren Bagi Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan Islam. Jurnal Kependidikan, 1(1), 99-122.
  2. Paryadi, S. (2008). Konsep Pengelolaan Lingkungan Sekolah (Green School). Modul. Dinas Pendidikan Cianjur.
  3. Elsa. 18 September 2019. Green School Festival 2019, Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Dini. Radar Malang. https://radarmalang.id/green-school-festival-2019-tanamkan-cinta-lingkungan-sejak-dini/
  4. Rozhana, K. M. (2017). Model Problem Based Intruction Berbantuan Mind Mapping Pada Materi Permasalahan Sosial Di Lingkungan Setempat Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 2(2).
  5. Trinova, Z. (2012). Hakikat Belajar dan Bermain Menyenangkan bagi Peserta Didik. Al-Ta Lim Journal, 19(3), 209-215.
  6. Wulandari, Y., & Kristiawan, M. (2017). Strategi Sekolah dalam Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Siswa dengan Memaksimalkan Peran Orang Tua. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan), 2(2)
  7. Rozhana, K. M. (2019). PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS DAERAH TRENGGALEK UNTUK MENUMBUHKAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN. Jurnal Bidang Pendidikan Dasar, 3(2), 39-46.
  8. Lickona, T. (1993). The return of character education. Educational leadership, 51(3), 6-11.
  9. Moleong, Lexy J., (2011). Metodelogi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  10. Akbar, A. (2017). Membudayakan Literasi dengan Program 6M di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 3(1), 42-52.
  11. Teguh, M. (2017). Gerakan literasi sekolah dasar. In Prosiding Seminar Nasional (Vol. 15, pp. 18-26).
  12. Setyaningsih, E., Astuti, D. S., & Astuti, R. (2017). Kompos Daun Solusi Kreatif Pengendali Limbah. Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi, 3(2).
  13. Kristanto, K., Khasanah, I., & Karmila, M. (2011). Identifikasi model sekolah ramah anak (sra) jenjang satuan pendidikan anak usia dini se-kecamatan Semarang selatan. PAUDIA: JURNAL PENELITIAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, 1(1).
  14. Nomor, P. P. R. I. (87). Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kemdikbud.