Articles
DOI: 10.21070/icecrs2020451

Application of Quantum Learning Education Model Through Contextual Approaches For Alpha Generations In Elementary School Children


Penerapan Model Pendidikan Quantum Learning Melalui Pendekatan Kontekstual Untuk Generasi Alpha Pada Anak Sekolah Dasar

Universitas Wiraraja
Indonesia
Universitas Wiraraja
Indonesia
Universitas Wiraraja
Indonesia
Universitas Wiraraja
Indonesia
Quantum Learning

Abstract

Alpha generation is the generation born between the years 2010-2024. Alpha generation is very vulnerable to the negative effects of digital influence if it is not matched by character education from an early age, because the rapid development of technology is more inherent in the era of alpha generation than the previous generation which enabled the lifestyle of the alpha generation to be strongly influenced by technological developments. In the sphere of education, the alpha generation is able to develop through a media search for references that are not only in the form of books, but can be obtained from journals, ebooks, internet sites and so on. With the rapid development of technology which also has an impact on the scope of alpha generation education, the author provides an innovative educational method for the alpha generation, namely "Application of the Quantum Learning Education Model Through a Constitutional Approach" in which this educational model aims to make students able to express their creativity by involving digital devices so that students are very productive in the use of digital media through a contextual approach. The hope is to familiarize students in the use of technology in accordance with the current digital era so that later they are able to create or produce something technological through the guidance of a contextual approach to students so as not to fall into the bad things because of the negative side of technological development. This learning model is very supportive of the learning process of alpha generation students currently born in conjunction with technological advancements. The author designed this educational model because the concept of education applied to millennials or other generations will no longer be suitable given the characteristics of the alpha generation are very different from other generations. This innovative education model is a collaboration between the quantum learning education model and the educational model of contextual approaches that are specifically designed for alpha generation. This educational model is formulated for the advancement of the quality of education in Indonesia by referring to the minimization of deficiencies between the two educational models and also the characteristics obtained in both are very supportive of the educational model needed in the alpha generation. The correlation of this educational model also trains creative activities so that elementary school students can create a creative product that benefits themselves and the environment.

PENDAHULUAN

Sumber daya manusia adalah faktor utama yang menjadi peran penting dalam kemajuan teknologi. Semakin sumber daya manusia di suatu negara berkualitas maka kondisi pendidikan di negara itu juga akan semakin bermutu. Negara di manapun saat ini mengalami kemajuan IPTEK yang sangat pesat sehingga menghadirkan budaya-budaya asing yang masuk kedalam negeri utamanya negara Indonesia. Dalam pengembangan dunia pendidikan seiring kemajuan teknologi, maka negara harus melakukan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar proses pembelajaran yang diterima oleh peserta didik dapat dipahami secara detail yang menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan yang tinggi. Generasi alpha yang selalu menuntut pada penyempurnaan berbagai sistem sosial mulai dari pendidikan, kerja, maupun interaksi sosial mengharuskan konsep penyelenggaran model pendidikan pada generasi sebelumnya yakni millenial, harus diubah mengikuti pola perkembangan zaman. Tujuannya adalah meningkatkan motivasi belajar yang tinggi, menambah produktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran, sekaligus mencetak tenaga kerja yang profesional yang terampil dalam penggunaan teknologi ketika nanti di dunia kerja. Model pendidikan harus bersifat dinamis dikarenakan model pendidikan harus menyesuaikan dengan keadaan zaman dari generasi ke generasi. Konsep model pendidikan yang pernah diterapkan pada generasi millenial tidak sama dengan konsep model pendidikan yang diterapkan pada generasi alpha. Menurut McCrindle dalam Majalah Tren Indonesia (dikutip tanggal 14 Januari 2019), Generasi Alfa yakni anak-anak dari Generasi Milenial—akan menjadi generasi paling banyak di antara yang pernah ada. Generasi millenial dan generasi alpha keduanya sama-sama memiliki karakteristik yang berbeda. Generasi millenial yang lahir di antara tahun 1980-an hingga 2000-an dan generasi alpha yang lahir diantara tahun 2010 hingga 2024 sebenarnya sama-sama merasakan era digital akan tetapi hal yang menjadikan perbedaan sangat signifikan diantaranya adalah terletak pada karakteristik anak usia sekolah dasar. Anak usia sekolah dasar pada generasi alpha lebih akrab dengan penggunaaan teknologi dan bahkan diprediksi dapat mempengaruhi segala bidang kehidupan bahkan pada perputaran ekonomi dunia. Maka dari inilah model pendidikan tepat yang diformulasikan oleh penulis untuk generasi alpha dengan konsep model pendidikan yang bernama penerapan model pendidikan quantum learning melalui pendektan kontekstual. Salah satu indikator penulis merancang model pendidikan ini karena fenomena yang terjadi terhadap generasi alpha saat ini yang idealnya dalam penggunaan teknologi mempunyai standarisasi layaknya seorang siswa, malah melebihi batas kewajaran penggunaan. Salah satu contohnya adalah penggunaan gadget oleh anak usia sekolah dasar dimana mereka mengguakan sesuai dengan kebutuhan dan bermain gadget sesuai dengan porsi yang idealnya anak sekolah dasar, namun pada realitanya mereka tidak paham dengan porsi ideal seorang anak usia sekolah dasar dalam menggunakan gadget akibatnya anak tidak tahu kapan mereka seharusnya bermain, belajar dan istirahat bahkan ada beberapa kasus seorang anak meninggal dunia sehabis bermain game online selama 24 jam nonstop.

Menurut Wiji Astutik [1] “Model pembelajaran Quantum Learning merupakan suatu model pembelajaran yang dapat membuat siswa langsung mengalami permasalahan, menemukan sendiri jawaban atas permasalahan dan beraktivitas sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Definisi quantum learning adalah interaksi-interaksi yang mengubah menjadi energi cahaya”. Penulis memilih model pendidikan quantum learning karena karakteristik pada model quantum learning sama dengan karkateristik generasi alpha. Sehingga penulis menerapkannya melalui pendekatan kontekstual pada proses pembelajaran.Nantinya model pendidikan ini akan mengarah pada perbaikan kurikulum pendidikan, sarana dan prasana sekolah yang dimana harus menyesuaikan dengan kebutiuhan pendidikan generasi alpha demi mewujudkan cita-cita pembukaan undang-undang dasar 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

METODE PENELITIAN KUALITATIF

Jenis penelitian ini dilakukan dalam perancangan penelitian kualitatif, yaitu penelitian secara riset dan menggunakan analisis dengan metode deskriptif kualitatif Budiutomo (dalam Marrisa,L dkk Budiutomo, 2016, par. 1). Deskriptif kualitatif dilakukan dengan cara menuturkan dan menafsirkan data yang bersangkutan dengan situasi yang sedang terjadi untuk mengungkapkan keadaan, fakta, variabel dan fenomena yang terjadi saat penelitian pada generasi alpha berjalan dan disuguhkan dengan secara apa adanya pada keadaan generasi alpha yang saat ini terjadi. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian penulis yaitu pada siswa kelas tinggi yaitu siswa kelas IV sampai kelas VI di SDN Karangduak II Sumenep. Karena lokasi berdekatan dengan tempat tinggal penulis dan lokasinya sangat cocok untuk penelitian ini. Sumber bahan hukum yang penulis cantumkan yaitu meliputi hasil- hasil penelitian ilmiah, jurnal ilmiah dan website yang bersumber dari internet. Karena dalam sumber bahan hukum yang kami cantumkan terdapat informasi penting yang penulis ambil untuk menambah bahan referensi dan lebih konkrit.[2] Untuk pengumpulan data pada penelitian ini yaitu menggunakan pengumpulan data primer dan sekunder. Proses pengumpulan data primer penerapan model pendidikan quantum learning melalui pendekatan kontekstual akan dilakukan dengan cara wawancara kepada guru pengajar dan observasi kepada siswa sekolah dasar mengenai bagaimana pola pemebelajaran dan hasil pembelajan siswa dari model pendidikan quantum learning melalui pendekatan kontekstual yang penulis terapkan. Sedangkan pengumpulan data sekunder diperoleh dengan cara peneliti melakukan studi pustaka dengan menentukan topik penelitian yaitu model pendidikan untuk generasi alpha, langkah selanjutnya adalah peneliti melakukan kajian yang berkaitan dengan teori yang sesuai dengan judul yang kami angkat tentang model quantum serta kontekstual learning, penelitian akan mengumpulkan informasi sebanyak – banyaknya dari pustaka yang berhubungan. Lalu data yang diperoleh dari penulis untuk penelitian kali ini mealui jaringan internet antara lain : jurnal, data visual pendukung, data, maupun pengertian – pengertian.

Pada analisis data penelitian kualitatif kali ini dilakukan pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban dari informan atau narasumber. Jika jawaban yang diwawancarai setelah analisis terasa belum memuaskan, peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu sehingga datanya sudah tidak jenuh. Aktivitas dalam menganalisis data kualitatif yaitu antara lain:Penulis menyajikan laporan atau data yang diperoleh dilapangan akan dituangkan dalam bentuk uraian yang lengkap dan terperinci tentang pola pembelajaran dan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pendidikan quantum learning melalui pendekatan kontekstual.

2. Penyajian data (Data Display)

Penyajian data dilakukan dengan cara mendeskripsikan hasil wawancara yang dituangkan dalam bentuk uraian dengan teks naratif, dan didukung oleh dokumen-dokumen, serta foto-foto maupun gambar sejenisnya untuk diadakannya suatu kesimpulan.

3. Penarikan kesimpulan (Concluting Drawing)

Dalam penelitian ini, penarikan kesimpulan dilakukan dengan pengambilan intisari dari rangkaian kategori hasil penelitian berdasarkan observasi dan wawancara. Analisis data yang penulis gunakan yaitu analisis model interaktif menurut Miles dan Huberman.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Quantum Learning ialah pengajaran yang dapat mengubah suasana belajar yang menyenangkan serta mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi sesuatu yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.[3] Quantum Learning merupakan suatu pembelajaran yang mempunyai misi utama untuk mendesain suatu proses belajar yang menyenangkan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Berikut nilai-nilai sebelum penerapan model pendidikan qulpek pada siswa kelas IV sampai kelas VI SDN Karangduak II Sumenep:Table 1

No. Analisis Hasil Penerapan
1. Keefektifan proses belajar 50
2. Berpikir kreatif 60
3. Produktivitas peserta didik 30
4. Peningkatan kognitif 40
5. Standarisasi penggunaan teknologi 70
Table 1.Nilai-nilai sebelum penerapan model pendidikan qulpek pada siswa kelas IV sampai kelas VI SDN Karangduak II Sumenep
No. Analisis Hasil Penerapan
1. Keefektifan proses belajar 70
2. Berpikir kreatif 89
3. Produktivitas peserta didik 90
4. Peningkatan kognitif 80
5. Standarisasi penggunaan teknologi 92
Table 2.Hasil penerapan model pendidikan qulpek pada Siswa Kelas IV Sampai Kelas VI SDN Karangduak II Sumenep

Untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif. 1) Untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan; 2) Untuk menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak; 3) Untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir; 4) Untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran. Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:18-19) juga menyatakan kelebihan dan kelemahan dalam bukunya yang berjudul ”Quantum Learning” juga menjelaskan mengenai keunggulan dan kelemahan dari pembelajaran kauntum (quantum learning) yaitu sebagai berikut.[4]

1) Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai; 2) Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis; 3) Pembelajaran kuantum lebih konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis; 4) Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna; 5) Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi; 6) Pembelajaran kuantum sangat menentukan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat; 7) Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran; 8) Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran; 9) Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material; 10) Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran; 11) Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban; 12) Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran; 13) Membutuhkan pengalaman yang nyata; 14) Waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar; 15) Kesulitan mengidentifikasi keterampilan siswa. [8]

Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan dengan konsep belajar mengajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan oleh guru dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata. Pendekatan kontekstual adalah sebuah pembelajaran yang terfokus dalam melibatkan siswa aktif memperoleh informasi yang dilaksanakan dengan mengenalkan mereka pada lingkungan serta terlibat secara langsung dalam proses pembelajarannya. Jadi dalam pembelajaran ini guru lebih aktif memberikan strategi pembelajaran daripada informasi pembelajaran.[10]

Dengan pendekatan pembelajaran kontekstual siswa akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan sebagai bekal untuk memecahkan masalah kehidupannya di lingkungan masyarakat. Siswa adalah generasi yang dipersiapkan untuk menghadapi dan memecahkan masalah di masa mendatang sehingga perlu dilatih dari sekarang. Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut. 1) proses belajar; 2) transfer belajar; 3) siswa sebagai pembelajar; 4) pentingnya lingkungan belajar; 5) hakikat pembelajaran kontekstual; 6) motto; 7) kata-kata kunci pembelajaran CTL, dan; 8) lima eleman belajar yang konstruktivistik.

Adapun kelebihan dan kelemahan dari pendekatan kontekstual ini adalah sebagai berikut:

Kelebihan, dalam pendekatan kontekstual siswa akan lebih percaya diri dalam mengungkapkan apa yang mereka lihat dan apa yang mereka alami dalam kehidupan nyata, dan membuat mereka siap menghadapi masalah-masalah yang biasa muncul dalam kehidupan sehari-hari. Serta lebih menyenangkan karena siswa tidak jenuh dengan pembelajaran yang monoton di dalam kelas. Selain itu dengan pembelajaran dengan konteks alam membuat siswa akan lebih mencintai lingkungan dan menjaga kelestarian lingkungan yang ada disekitarnya dan lebih peka terhadap alam. Di lain pihak guru lebih berperan dalam menentukan tema pembelajaran yang akan dilangsungkan.

Kekurangan, terdapat beberapa kekurangan dalam pendekatan kontekstual salah satunya ialah waktu yang digunakan kurang efisien karena membutuhkan waktu yang cukup untuk mengaitkan tema dengan materi. Dan bila diterapkan pada kelas kecil seperti siswa kelas 1 dan 2. Guru kesulitan dalam menciptakan kelas yang kondusif. Menurut kami pada siswa kelas awal jika diajak pembelajaran di luar kelas siswa akan sulit diatur, dan membutuhkan pengawasan ekstra karena pada umumnya siswa memiliki keingintahuan yang sangat besar. [13]

Model pendidikan quantum learning melalui pendekatan kontekstual adalah model pembelajaran yang efisien dan efektif untuk generasi alpha khususnya usia anak sekolah dasar, karena karakteristik generasi alpha sangat mendukung dan sesuai dengan karakteristik model pendidikan quantum learning. Fuat Muhclisin, dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh pembelajaran quantum learning dengan pendekatan peta pikiran terhadap presatasi siswa pada pelajaran teknologi motor diesel di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta”. Persamaan penelitian ini adalah sama sama menggunakan model quantum untuk proses pembelajaran sedangkan perbedaannya penelitian ini adalah menggabungkan model quantum learning dengan pendekatan kontekstual sedangkan penelitian oleh Fuat Muchlisin ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh metode pembelajaran quantum learning dengan pendekatan peta pikiran (mind mapping) terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran teknologi motor diesel di SMK muhammadiyah 3 Yogyakarta.

Danang Jumiyanto, dalam penelitiannya yang berjudul “Penggunaan Metode Pembelajaran Quantum Teaching Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Dan Prestasi Belajar Siswa Mata Diklat Gambar Teknik Di SMK Perindustrian Yogyakarta 2011/2012”. [3] Persamaan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan model quantum learning sedangkan yang berbeda dari penelitian penulis dengan penelitian dan Danang Jumiyanto adalah dari tujuannya yaitu mengetahui penerapan model pendidikan quantum learning melalui pendekatan kontekstual, sedangkan tujuan dari penelitian dari Danang Jumiyanto untuk meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar siswa mata diklat gambar teknik di SMK Perindustrian Yogyakarta.

Melalui model pendidikan yang menggunakan relations integrated antara quantum learning dan pendekatan kontekstual, maka dapat disimpulkan hasil penerapan model pendidikan yang diterapkan pada anak sekolah dasar khususnya kelas 6 sd, yaitu mereka dapat menciptakan hal-hal baru sesuai dengan taraf kemampuannya seperti membuat website, blogspot, chanel youtube, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan teknologi. Penelitian ini dianggap penting mengingat generasi alpha adalah generasi yang sangat melekat erat dengan teknologi sehingga peran guru dan orang tua sangat penting agar peserta didik tidak tertinggal dengan kemajuan teknologi dan bisa menghasilkan produktivitasnya melalui model pendidikan Qulpek yang nantinya dapat dikembangkan agar generasi masa depan bangsa Indonesia dapat menjawab tantangan global di era revolusi industri 4.0. [15] Model penddikan qulpek adalah model pendidikan yang memang didesaign berdasarkan korelasi antara model pendidikan qunatum learning dan pendekatan kontekstual sehingga menyesuaikan dengan perkembangan zaman untuk generasi alpha tersebut. Kesuksesan model pendidikan qulpek sangat bergantung pada kreatifitas siswa dan person guru yang dapat membimbing peserta didik ke taraf kurikilum pendidikan qulpek inginkan.

KESIMPULAN

Setiap generasi pasti memerlukan pendidikan karakter. Namun pendidikan karakter saat ini harus lebih ditekankan sejak usia dini lebih-lebih usia sekolah dasar pada generasi alpha yang sangat melekat erat dengan perkembangan teknologi. Jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter, generasi alpha yang biasanya membawa pengaruh positif terbesar di dunia, malah akan memberikan pengaruh buruk dalam peranan kehidupan masyarakat dunia karena diprediksikan generasi alpha akan memegang tampuk kendali disegala bidang kehidupan pada usia mendatang oleh sebab tingkat produktivitas yang dihasilkan generasi alpha cukup baik. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut penulis memberikan formulasi baru mengenai konsep model pendidikan untuk generasi alpha yakni “penerapan model pendidikan Quantum Learning melalui pendekatan kontekstual pada anak sekolah dasar”. Model pendidikan ini merupakan korelasi antara model pendidikan quatum learning dengan model pendidikan pendekatan kontekstual yang dimana bertujuan memusatkan perhatian pada hasil produktivitas peserta didik sehingga nantinya peserta didik generasi alpha dapat berinovasi di dunia kerja dan berkontribusi baik pada negara sehingga sesuai dengan harapan bangsa di era revolusi industri 4.0 yaitu menghasilkan teknologi terbaru mengenai segala bidang kehidupan.Demikianlah pokok pembahasan yang penulis paparkan dari paper diatas, besar harapan penulis agar kiranya nanti paper yang penulis susun dapat diselenggarakan pada model pendidikan generasi alpha di kemudian hari sehingga paper yang kami susun dapat dijadikan bahan referensi dalam pola penerapan model pendidikan di negara Indonesia mendatang demi kemajuan kualitas pendidikan bangsa Indonesia.

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat limpahan rahmat, taufik dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan tepat waktu. Tidak lupa pula ucapan terimakasih juga diucapkan kepada dosen pendamping yakni Tita Tanjung Sari, M.Pd yang telah memberikan pendanaan pada paper ini. Tim penyusun paper yang juga tak lupa penulis ucapkan terimakasih karena telah memberikan kontribusi waktu dan pemikiran sehingga paper ini dapat terselesaikan sesuai dengan harapan penulis. Menyadari paper ini yang masih banyak kekurangan, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan terhadap hasil paper diatas.

References

  1. Astuti, Wiji. Model Quantum Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pecahan. https: // www .researchgate.net /publication/320406205_Model_Quantum_Learning_untuk_Meningkatkan_Hasil_Belajar_Pecahan. diakses pada tanggal 14 januari 2020.
  2. S, heri. 2015. Kesiapan umkm dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean 2015 ( studi pada umkm di sentra industri keripik jl. Pagar alam kota bandar lampung ). Digilib.unila.ac.id/11543/18/BAB%20III.pdf. diakses pada tanggal 14 januari 2020.
  3. Jumiyanto, Danang. 2012. Penggunaan metode pembelajaran quantum teaching untuk meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar siswa mata diklat gambar teknik di SMK PerindustrianYogyakarta. eprints. uny.ac .id /6687 /1/ Skripsi_Danang%20Jumiyanto.pdf.diakses tanggal 14 januari 2020.
  4. Nugraha,Sidiq R. Model-Model inovasi pendidikan. https: // www.tintapendidikanindonesia.com/2018/07/model-model-inovasi-pendidikan .html. Diakses pada tanggal 14 januari 2020.
  5. Matra, Indonesia. 2020. Generasi alpha, apa itu?. https: // matranews.id/generasi-alpha-apa-itu/ diakses pada tanggal 14 januari 2020.
  6. Wulanditya, Putri. Quantum Learning: Experiment To Increase Learning Outcomes. https: // media.neliti.com/ media /publications/91210-ID-none.pdf. Diakses pada tanggal 24 Januari 2020.
  7. Hidayat. 2010. Keefektifan Pendekatan Quantum Learning dalam Peningkatan Nilai Mata Kuluah Nahwu I. Jurnal Saung Guru: Vol. 1 No. 2 (2010). Hal 66-78. Mariani, Scolastika. Mathematics Quantum Learning: Upaya Mengembangkan Secara Holistik Kemampuan Mahasiswa Pendidikan Matematika. Jurusan Matematika FMIPA UNNES. (http://Dalono.Blogspot.Com/2012/04/MathematicsQuantumLearning.Html. diakses pada tanggal 24 Januari 2020).
  8. Mediawati, Elis. 2011. Pembelajaran Akuntansi Keuangan Melalui Media Komik Untuk Meningkatkan Prestasi Mahasiswa. Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 12 No. 1. April 2011. Hal 68-76. Mutmainah, Siti. 2008. Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Berbasis Kasus Yang Berpusat Pada Mahasiswa Terhadap Efektivitas Pembelajaran Akuntansi Keperilakuan. Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XI. Pontianak, 23-24 Juli 2008. Hal 1-27.
  9. Subiyono. 2009. Pengaruh Metode Quantum Learning Yang Dipadu Dengan Mind Map Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam. Lentera Pendidikan Vol. 12 No. 2 Desember 2009. Hal 219-233.
  10. Sumaryati, Sri. 2008. Pengaruh Model Quantum Learning terhadap Prestasi Belajar Mata Kuliah Dasar Dasar Akuntansi dengan Memperhatikan Motivasi Berprestasi dan Kecerdasan Emosi (Studi Eksperimen pada Mahasiswa Semester 2 Prodi P.Ekonomi FKIP UNS). UNS-Pascasarjana Prodi. Teknologi Pendidikan-S.810906017-2008.
  11. DePorter, B. dan Hernacki, M. 2013. Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Kaifa, Bandung.
  12. Indrayana, ML, dkk. Perancangan buku interaktif pembelajaran pengembangan karakter pada generasi alf. http://publication.petra.ac.id/index.php/dkv/article/download/7511/6816. diakses pada tanggal 24 januari 2020.
  13. Aji ElangBirowo.(2011).Perbandingan Model Pembelajaran Kontekstual dengan Model Pembelajaran Quantum Teaching Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Diklat Menganalisis Rangkaian Elektronika (MRE) di SMK Negeri 12 Bandung. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. http: // repository.upi.edu / skripsiview.php?no_skripsi=6515 di akses pada 24 januari 2020.
  14. Depdiknas. (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf. diakses pada 24 Januari 2020.
  15. Mulyadi, dkk. Kesenjangan karakteristik antar generasidalam pendidikan di era revolusi indutri 4.0. researchgate.net/publication/334363382_KESENJANGAN_KARAKTERISTIK_ANTAR_GENERASI_DALAM_PENDIDIKAN_DI_ERA_REVOLUSI_INDUTRI_40. diakses pada tanggal 24 januari 2020.