Articles
DOI: 10.21070/icecrs2021898

The Influence of Training and Motivation on the Performance of Business Actors in Busmetik with Competence as an Intervening Variable


Pengaruh Pelatihan dan Motivasi Terhadap Kinerja Pelaku Usaha Busmetik dengan Kompetensi Sebagai Variabel Intervening

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Training Motivation Competence Performance

Abstract

Research Objectives to analyze the effect of Training and Motivation on the performance of Busmetik business people with competence as intervening variabell. Training for cosmetic business actors has been routinely followed, however, the shrimp production target is still not optimally achieved. Quantitative methods are used in this study to prove the hypothesis regarding the relationship of research variables namely Training, Motivation, Competence and Performance. The results of the analysis show that training has a significant effect on competence, motivation has a significant effect on competence, training has a significant effect on performance, motivation has a significant effect on performance, competence has a significant effect on performance. The path analysis results show that competency is able to be an intervening variable for training and motivation for performance. Evident from  the  indirect  influence  of  training  and  motivation on  performance is  greater  than  the  direct  influence. Furthermore, for the Fisheries Office of Pasuruan Regency as a coach, it is necessary to pay attention to Training, Motivation and Competence in HR management because it affects performance directly or indirectly.

Pendahuluan

Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan selaku dinas pembina bagi pelaku usaha busmetik maka telah berupaya mensosialisasikan teknologi tepat guna dalam rangka peningkatan kinerja pelaku usaha budidaya dengan cara melaksanakan pelatihan dan motivasi secara rutin kepada mereka. Namun demikian ternyata fakta di lapangan menunjukkan bahwa upaya Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan ini belumlah menuai hasil maksimal. Fakta ini diamati oleh peneliti dan ditemukan bahwa kinerja pelaku usaha Busmetik di Kabupaten Pasuruan memang belumlah optimal, tercermin dari beberapa hal yaitu Pelaku usaha busmetik kurang mampu untuk mengatasi kendala penyelesaian pekerjaan, dikarenakan mungkin kurang peka terhadap perubahan kondisi fisik media budidaya maupun udang yang dipelihara dan hal ini terkait dengan kompetensi masing-masing pelaku usaha; Disiplin pelaku usaha masih rendah tercermin dari sikap dan tingkah laku dalam bekerja terkadang kurang bersungguh-sungguh karena mungkin mereka kurang termotivasi untuk mendapatkan hasil usaha yang maksimal; Tidak tercapainya target produksi dalam hal ini bisa dikatakan bahwa target kinerja tidak tercapai.

Mutmainah (2013) menyampaikan bahwa pelatihan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan sedangkan Munparidi (2012) motivasi tidak berpengaruh secara signifikan pada kinerja karyawan. Namun demikian Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan secara rutin memberikan pelatihan dan motivasi dimana harapannya dapat meningkatkan kinerja pelaku usaha busmetik melalui peningkatan kompetensi. Selain itu belum ada penelitian SDM pelaku usaha Busmetik sejak pola teknologi ini diterapkan di Kabupaten Pasuruan. Peneliti memfokuskan hanya pada pelaku usaha Busmetik yakni pemilik lahan yang sekaligus sebagi pelaksana teknis budidaya dan pelaksanan teknis budidaya udang sistem intensif Busmetik (Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik) walaupun bukan pemilik lahan di Kabupaten Pasuruan tepatnya di Kecamatam Bangil, Kraton, Rejoso dan Lekok. Penulis tertarik untuk meneliti pelaku usaha busmetik ini karena teknologi busmetik adalah tenologi baru yang sedang berkembang di Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Pasuruan khususnya, dimana masih saja ditemui masalah-masalah dalam pelaksanaan teknis sehari-harinya. Oleh karena ini diperlukan kompetensi khusus pada pelaksana teknis dalam hal ini pelaku usaha busmetik.

Tinjauan Pustaka

Performance atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan kinerja, menurut Moeheriono (2009) merupakan hasil usaha yang diraih seseorang atau sekelompok orang dalam sebuah lembaga atau organisasi. Hasil usaha yang dimaksud dapat dinilai secara kuantitatif maupun kualitatif, sesuai dengan tugas dan kewenangannya, dalam upaya mencapai tujuan lembaga/organisasi bersangkutan secara legal formal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama waktu tertentu (Sedarmayanti, 2004). (Mulyadi, 2001) mengatakan bahwa kinerja merupakan istilah yang umum dipakai untuk memperlihatkan sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari sebuah organisasi dalam suatu periode tertentu.

Kompetensi

Kompetensi adalah karakteristik yang mendasari perilaku dimana karakteristik dasar tersebut mencerminkan motif, karakteristik pribadi, konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan ataupun keahlian yang ditampilkan seseorang yang berkinerja unggul di tempat kerja (Palan,2007). Kompetensi yaitu suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang berdasarkan ketrampilan dan pengetahuan yang didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut (Wibowo, 2010). Sejalan dengan pemikiran Amstrong dan Baron (1998), menurut mereka kompetensi adalah dimensi perilaku dimana kinerja kompeten yang menunjukan tentang bagaimana seseorang berperilaku saat melakukan perannya dengan baik. Sedangkan (Moeheriono, 2009) mengemukakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik dasar individu yang menjadi faktor penentu kesuksesannya dalam melakukan suatu pekerjaan atau pada kondisi tertentu. kompetensi menurut adalah sebuah deskripsi mengenai apa yang harus dilakukan individu agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya (Hutapea, P. dan Thoha, 2008).

Pelatihan

Program yang disetting untuk memperbaiki kemampuan pelaksanaan pekerjaan secara individual maupun kelompok disebut dengan Pelatihan (Hadari, 2005). Pelatihan biasanya dilaksanakan berdasarkan jenjang jabatan dalam organisasi/lembaga. Pelatihan artinya memberikan keterampilan yang dibutuhkan bagi karyawan baru atau karyawan lama untuk melakukan pekerjaannya (Dessler, 2009). Pelatihan adalah proses peningkatan pengetahuan dan keterampilan karyawan (Kaswan, 2011). Pelatihan dimungkinkan juga meliputi proses pengubahan sikap sehingga karyawan dapat melakukan pekerjaannya menjadi lebih efektif dan efisien.

Motivasi

Motivasi adalah daya gerak yang menciptakan semangat kerja seseorang agar mereka mau bekerjasama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan (Hasibuan, 2004). Motivasi diartikan sebagai keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong individu untuk melakukan kegiatan tertentu dalam mencapai tujuan organisasi (Handoko. T. Hani, 2003). Motivasi adalah daya pendorong yang melibatkan serangkaian proses perilaku manusia mau dan rela untuk menggerakkan kemampuan dalam membentuk keahlian dan keterampilan tenaga dan waktunya untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya (Wibowo, 2010).

Kerangka konseptual dan Hipotesis

Figure 1.Kerangka Konseptual

Berdasarkan kerangka konseptual diatas maka peneliti menyusun hipotesis dalam penelitian ini adalah H1- Diduga Pelatihan berpengaruh terhadap kompetensi pelaku usaha Busmetik; H2 - Diduga Motivasi berpengaruh terhadap kompetensi pelaku usaha Busmetik; H3 - Diduga Pelatihan berpengaruh terhadap kinerja pelaku usaha Busmetik; H4- Diduga Motivasi berpengaruh terhadap kinerja pelaku usaha Busmetik; H5 - Diduga Kompetensi berpengaruh terhadap kinerja pelaku usaha Busmetik; H6 - Diduga Pelatihan dan Motivasi berpengaruh terhadap kinerja pelaku usaha Busmetik dengan kompetensi sebagai variabel intervening.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif.Metode penelitiannya adalah dengan cara survey dengan mengambil data dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data pokok (Singarimbun, 1989). Obyek penelitian adalah para pelaku usaha busmetik di kawasan budidaya udang di wilayah pesisir Kabupaten Pasuruan yaitu di kecamatan Kraton, Rejoso dan Lekok dengan fokus masalah yang diteliti yaitu Pengaruh Pelatihan Dan Motivasi Terhadap Kinerja Pelaku Usaha Busmetik Di Kabupaten Pasuruan Dengan Kompetensi Sebagai Variabel Intervening.

Variabel Terikat (dependen) adalah variabel yang terpengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2005). Dalam penelitian ini variabel terikat (dependen) adalah Kompetensi (Z) dan Kinerja (Y). Variabel Bebas (independen) adalah variabel yang mempengaruhi atau penyebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono, 2005). Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini adalah Pelatihan (X1) dan Motivasi (X2). Indikator Pelatihan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Materi Praktis dan Materi Simulasi. Indikator Motivasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kebutuhan dan Lingkungan kerja. Indikator kompetensi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pengetahuan dan Pengalaman. Sedangkan Indikator kinerja yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitas kerja, ketepatan waktu, inisiatif, kemampuan, komunikasi dan kerjasama tim.

Data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti disebut dengan data primer. Data primer ini diperoleh peneliti langsung dari pelaku usaha busmetik di Kabupaten Pasuruan melalui daftar pertanyaan atau kuisioner. Selanjutnya data sekunder diperoleh dari lembaga/instansi Dinas Perikanan yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Dalam penelitian ini populasi yang ditemukan oleh peneliti adalah sejumlah 115 orang. Selanjutnya berdasarkan rumus penentuan jumlah sampel yang dikenal dengan rumusslovindan dengan menggunakan esebesar 0,05 maka diperoleh jumlah sampel yang seharusnya adalah 89,32 responden atau dibulatkan keatas menjadi 90 responden. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan kuisioner atau angket yang diberikan kepada 90 responden.

Data yang diperoleh peneliti menggunakan melalui kuisioner merupakan data ordinal memiliki nama dan peringkat selanjutnya diolah dengan bantuan software SPSS 23. Pengujian dilakukan untuk menguji kualitas data dan menguji hipotesis penelitian. Uji kualitas data yang digunakan adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Sedangkan uji hipotesis menggunakan Uji t, uji F, perhitungan pengaruh langsung dan tidak langsung serta analisa metode jalur. Analisa metode jalur yang dimaksud adalah untuk menilai pengaruh X terhadap Y, jika pengaruh menurun menjadi nol dengan memasukkan variabel Z, maka terjadi intervening sempurna. Namun jika pengaruh X terhadap Y menurun tidak sama dengan nol dengan memasukkan variabel Z, maka terjadi intervening parsial. Intervening sederhana ini terjadi jika dipenuhi asumsi tidak ada kesalahan pengukuran pada variabel Z dan variabel Y tidak mempengaruhi Z (Ghozali, 2013).

Hasil dan Pembahasan

Karakteristik Responden

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pelatihan dan Motivasi terhadap kinerja pelaku usaha Busmetik di Kabupaten Pasuruan dengan kompetensi sebagai variabel intervening. Dalam penelitian ini populasi yang ditemukan oleh peneliti adalah sejumlah 115 orang. Selanjutnya sesuai rumus slovinjumlah sampel yang diambil peneliti adalah 90 responden. diketahui bahwa seluruh responden berjenis kelamin pria. Dapat diasumsikan bahwa jenis pekerjaan ini didominasi oleh pria yaitu sebesar 100,00%. Dominasi pelaku usaha berjenis kelamin pria ini disebabkan oleh jenis pekerjaan ini adalah termasuk pekerjaan berat yang menuntut kekuatan fisik. Dari sisi usia, responden ternanyak adalah pada usia 31-45 dengan masa kerja 5-10 tahun. Masa kerja yang dimaksud disini adalah khusus masa kerja responden saat bekerja sebagai pelaku usaha tambak baik tambak tradisional maupun busmetik. Sedangkan dari sisi pendidikan mayoritas responden berpendidikan Sekolah Dasar sederajad sebanyak 75,5% sedangkan sisanya 24,5% adalah lulus Sekolah Menengah Pertama atau sederajad.

Hasil Uji Validitas

Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data penelitian. Untuk mengetahui indeks validitas kuesioner tersebut penulis menggunakan rumus CorrectedItem-TotalCorrelationdari Pearson. Berbagai sumber menyebutkan bahwa untuk menghitung rtabel, terlebih dahulu menghitung ttabel. Perhitungan ttabel dan rtabel menggunakan SPSS 23 dengan dasar df = n-k, dimana n adalah jumlah responden dan k adalah jumlah variabel. Tabel df, ttabel dan rtabel dapat dilihat di lampiran pada penelitian ini. Jumalah responden penelitian ini (n) adalah 90, variabel (k) adalah 4 sehingga diperoleh df = 86. Nilai rhitung > rtabel (df) dimana rtabel (86) sebesar 0,179. Hasil uji validitas dengan nilai signifikansi sebesar 5%, semua variabel penelitian yaitu pelatihan, motivasi, kompetensi dan kinerja memiliki nilai signifikansi dibawah 5% (<0,05) dengan rhitung > r tabel . Hal tersebut dapat diartikan bahwa semua butir pertanyaan pada variabel pelatihan, motivasi, kompetensi dan kinerja dinyatakan valid, selanjutnya pertanyaan dapat digunakan dalam penelitian.

Hasil Uji Realibilitas

Uji reliabilitas yaitu untuk mengetahui tingkat konsistensi jawaban responden atas pertanyaan yang diajukan dalam kuisioner. Uji reliabilitas ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh konsistensi pengukuran bila pengukuran dilakukan berulang dengan menggunakan alat pengukur yang sama terhadap gejala yang sama (Sugiyono, 2005). Variabel dikatakan reliabel apabila bernilai Cronbach’s Alpha > 0,60 (Ghozali, 2005). Berdasarkan uji reliabilitas, nilai Cronbachs Alphamasing-masing variabel adalah > 0,600, yang berarti bahwa jawaban responden terhadap pertanyaan/pernyataan yang digunakan dalam semua variabel tersebut adalah reliabel atau konsisten.

Hasil Pengujian Hipotesis

[1].Hipotesis 1; Nilai signifikansi F sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi sederhana layak digunakan dalam mengukur/memprediksi pengaruh pelatihan terhadap kompetensi bagi pelaku usaha busmetik. Nilai R sebesar 0,505 berarti setiap kenaikan 1 level variabel pelatihan akan ada penambahan level sebesar 0,505 terhadap variabel kompetensi. Nilai Rsquaredalam uji F menunjukkan bahwa pengaruh pelatihan terhadap kompetensi adalah sebesar 0,255. Hal ini dapat diartikan bahwa Kompetensi dapat dijelaskan sebesar 25,5% oleh pelatihan, serta sisanya sebesar 74,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Koefisien regresi dengan uji t dari hasil analisis regresi pada tabel 4.4 dapat dijelaskan bahwa Variabel pelatihan memiliki nilai thitung = 6,940 ; ttabel = 1,663 atau thitung > ttabel. Nilai signifikansi t sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kompetensi. Dengan demikian hipotesis 1 yang menyatakan bahwa Pelatihan berpengaruh terhadap kompetensi pelaku usaha Busmetik dapat diterima.[2]Hipotesis 2; Analisis regresi pada tabel 4.5 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi F sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi sederhana layak digunakan dalam mengukur/memprediksi pengaruh motivasi terhadap kompetensi bagi pelaku usaha busmetik. Nilai R sebesar 0,463 berarti setiap kenaikan 1 level variabel motivasi akan ada penambahan level sebesar 0,463 terhadap variabel kompetensi. Nilai Rsquare dalam uji F menunjukkan bahwa pengaruh motivasi terhadap kompetensi adalah sebesar 0,214. Hal ini dapat diartikan bahwa Kompetensi dapat dijelaskan sebesar 21,4% oleh motivasi, serta sisanya sebesar 78,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Koefisien regresi dengan uji t dari hasil analisis regresi pada tabel 4.5 dapat dijelaskan bahwa Variabel motivasi memiliki nilai thitug = 6,881 ; ttabel = 1,663 atau thitung > ttabel. Nilai signifikansi t sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti motivasi berpengaruh positif terhadap kompetensi. Dengan demikian hipotesis 2 yang menyatakan bahwa Motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kompetensi pelaku usaha Busmetik dapat diterima.[3]Hipotesis3; Analisis regresi pada tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi F sebesar 0,003 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi sederhana layak digunakan dalam mengukur/memprediksi pengaruh pelatihan terhadap kinerja bagi pelaku usaha busmetik. Nilai R sebesar 0,305 berarti setiap kenaikan 1 level variabel pelatihan akan ada penambahan level sebesar 0,305 terhadap variabel kinerja. Nilai Rsquaredalam uji F menunjukkan bahwa pengaruh pelatihan terhadap kinerja adalah sebesar 0,093. Hal ini dapat diartikan bahwa kinerja dapat dijelaskan sebesar 9,3% oleh pelatihan, serta sisanya sebesar 90,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Koefisien regresi dengan uji t dari hasil analisis regresi pada tabel 4.5 dapat dijelaskan bahwa Variabel pelatihan memiliki nilai thitung = 10,389 ; ttabel = 1,663 atau thitung > ttabel. Nilai signifikansi t sebesar 0,003 < 0,05. Hal ini berarti pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Dengan demikian hipotesis 3 yang menyatakan bahwa Pelatihan berpengaruh terhadap Kinerja pelaku usaha Busmetik dapat diterima.[4]Hipotesis4; Analisis regresi pada tabel 4.7 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi F sebesar 0,008 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi sederhana layak digunakan dalam mengukur/memprediksi pengaruh motivasi terhadap kinerja bagi pelaku usaha busmetik. Nilai R sebesar 0,305 berarti setiap kenaikan 1 level variabel motivasi akan ada penambahan level sebesar 0,280 terhadap variabel kinerja. Nilai Rsquaredalam uji F menunjukkan bahwa pengaruh motivasi terhadap kinerja adalah sebesar 0,078. Hal ini dapat diartikan bahwa Kinerja dapat dijelaskan sebesar 7,8% oleh motivasi, serta sisanya sebesar 92,2% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Koefisien regresi dengan uji t dari hasil analisis regresi pada tabel 4.7 dapat dijelaskan bahwa Variabel motivasi memiliki nilai thitung = 10,197 ; ttabel = 1,663 atau thitung > ttabel. Nilai signifikansi t sebesar 0,008 < 0,05. Hal ini berarti motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Dengan demikian hipotesis 4 yang menyatakan bahwa motivasi berpengaruh terhadap Kinerja pelaku usaha Busmetik dapat diterima.[5] Hipotesis5; Analisis regresi pada tabel 4.8 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi F sebesar 0,006 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi sederhana layak digunakan dalam mengukur/memprediksi pengaruh kompetensi terhadap kinerja bagi pelaku usaha busmetik. Nilai R sebesar 0,289 berarti setiap kenaikan 1 level variabel kompetensi akan ada penambahan level sebesar 0,289 terhadap variabel kinerja. Nilai Rsquaredalam uji F menunjukkan bahwa pengaruh kompetensi terhadap kinerja adalah sebesar 0,083. Hal ini dapat diartikan bahwa Kinerja dapat dijelaskan sebesar 8,3% oleh kompetensi, serta sisanya sebesar 91,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Koefisien regresi dengan uji t dari hasil analisis regresi pada tabel 4.8 dapat dijelaskan bahwa Variabel kompetensi memiliki nilai thitung = 8,796 ; ttabel = 1,663 atau thitung > ttabel. Nilai signifikansi t sebesar 0,006 < 0,05. Hal ini berarti kompetensi berpengaruh terhadap kinerja. Dengan demikian hipotesis 5 yang menyatakan bahwa kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja pelaku usaha Busmetik dapat diterima.[6]Hipotesis6; Nilai Rsquaredalam uji F menunjukkan bahwa pengaruh pelatihan dan motivasi secara simultan terhadap kompetensi adalah sebesar 0,322. Hal ini dapat diartikan bahwa Kompetensi dapat dijelaskan sebesar 32,2% oleh pelatihan dan motivasi, serta sisanya sebesar 67,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Nilai R sebesar 0,405 berarti setiap kenaikan 1 level variabel pelatihan, motivasi dan kompetensi secara simultan akan ada penambahan level sebesar 0,405 terhadap variabel kinerja. Nilai Rsquaredalam uji F menunjukkan bahwa pengaruh pelatihan, motivasi dan kompetensi secara simultan terhadap kinerja adalah sebesar 0,164. Hal ini dapat diartikan bahwa kinerja dapat dijelaskan sebesar 16,4% oleh pengaruh pelatihan, motivasi dan kompetensi, serta sisanya sebesar 83,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. pengaruh langsung Pelatihan (X1) terhadap Kinerja (Y) sebesar 0,043. Sedangkan pengaruh tidak langsung Pelatihan (X1) terhadap Kinerja (Y) melalui Kompetensi (Z) = βX1 terhadap Z x βZ terhadap Y = 0,377 x 0,358 = 0,134. Maka pengaruh total Pelatihan (X1) terhadap Kinerja (Y) adalah 0,043 + 0,0134 = 0,177. Dalam perhitungan pada bagian ini dapat diartikan bahwa pengaruh tidak langsung Pelatihan (X1) terhadap Kinerja (Y) lebih besar daripada pengaruh langsungnya. Sedangkan pengaruh langsung Motivasi (X2) terhadap Kinerja (Y) sebesar 0,043. Sedangkan pengaruh tidak langsung Motivasi (X2) terhadap Kinerja (Y) melalui Kompetensi (Z) adalah = βX2 terhadap Z x βZ terhadap Y = 0,277 x 0,358 = 0,099. Maka pengaruh total Motivasi (X2) terhadap Kinerja (Y) adalah 0,043 + 0,099 = 0,142. Dalam perhitungan pada bagian ini dapat diartikan bahwa pengaruh tidak langsung Motivasi (X2) terhadap Kinerja (Y) lebih besar daripada pengaruh langsungnya. Dengan demikian hipotesis 6 yang menyatakan Pelatihan dan Motivasi berpengaruh terhadap kinerja pelaku usaha Busmetik dengan kompetensi sebagai variabel intervening diterima. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja walopun dengan kehadiran kompetensi sebagi intervening. Sedangkan hasil uji tentang pengaruh langsung dan tidak langsung menunjukkan bahwa pengaruh tidak langsung pelatihan dan motivasi terhadap kinerja pelaku usaha busmetik dengan kompetensi sebagai variabel intervening lebih besar daripada pengaruh langsungnya. Hal ini berarti bahwa kehadiran variabel kompetensi semakin memperkuat pengaruh pelatihan dan motivasi terhadap kinerja. Peran Kompetensi sebagai intervening dalam penelitian ini adalah partialintervening, karena kehadiran kompetensi dalam merubah pengaruh pelatihan maupun motivasi masih tidak sama dengan nol atau masih tetap berpengaruh sebagaimana disampaikan oleh Ghozali (2013). Meskipun kompetensi memperkuat pengaruh pelatihan terhadap kinerja, namun nilai koefisien korelasi pengaruh tidak langsung pelatihan terhadap kinerja melalui kompetensi sebesar 0,134 tergolong sangat rendah. Begitu pula yang terjadi pada variabel motivasi. Meskipun kompetensi memperkuat pengaruh motivasi terhadap kinerja, namun nilai koefisien korelasi pengaruh tidak langsung motivasi terhadap kinerja melalui kompetensi sebesar 0,099 tergolong sangat rendah.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan untuk menjawab hipotesis yang disampaikan peneliti, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : [1] Pelatihan berpengaruh signifikan terhadap kompetensi pelaku usaha Busmetik, hal ini dibuktikan dari nilai thitung yang lebih besar dari ttabel. Sedangkan indikator yang paling berpengaruh pada hubungan variabel ini adalah materi simulasi atau praktek. Artinya semakin sering pelaku usaha busmetik mendapatkan pelatihan berupa materi simulasi maka akan semakin tinggi pula tingkat kompetensinya; [2] Motivasi berpengaruh signifikan terhadap kompetensi pelaku usaha Busmetik, hal ini dibuktikan dari nilai thitung yang lebih besar dari ttabel. Sedangkan indikator yang paling berpengaruh pada hubungan variabel ini adalah lingkungan kerja baik lingkungan kerja secara fisik maupun psikis. Artinya semakin tinggi rasa nyaman pelaku usaha busmetik pada lingkungan kerjanya maka akan semakin tinggi pula tingkat kompetensinya; [3] Pelatihan berpengaruh signifikan terhadap kinerja pelaku usaha Busmetik, hal ini dibuktikan dari nilai thitung yang lebih besar dari ttabel. Sedangkan indikator yang paling berpengaruh pada hubungan variabel ini adalah materi simulasi atau praktek. Artinya semakin sering pelaku usaha busmetik mendapatkan pelatihan berupa materi simulasi maka akan semakin tinggi pula tingkat kinerjanya; [4] Motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pelaku usaha Busmetik, hal ini dibuktikan dari nilai thitung yang lebih besar dari ttabel. Sedangkan indikator yang paling berpengaruh pada hubungan variabel ini adalah lingkungan kerja baik lingkungan kerja secara fisik maupun psikis. Artinya semakin tinggi rasa nyaman pelaku usaha busmetik pada lingkungan kerjanya maka akan semakin tinggi pula tingkat kinerjanya; [5] Kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pelaku usaha Busmetik, hal ini dibuktikan dari nilai thitung yang lebih besar dari ttabel. Sedangkan indikator yang paling berpengaruh pada hubungan variabel ini adalah pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan teknis budidaya udang. Artinya semakin tinggi pengetahuan pelaku usaha busmetik tentang teknis budidaya maka akan semakin tinggi pula tingkat kinerjanya; [6] Pelatihan dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Kehadiran variabel kompetensi semakin memperkuat pengaruh pelatihan dan motivasi terhadap kinerja. Peran Kompetensi sebagai intervening dalam penelitian ini adalah partial intervening, karena kehadiran kompetensi dalam memperkuat pengaruh pelatihan maupun motivasi adalah masih diatas nol. Meskipun kompetensi memperkuat pengaruh pelatihan dan motivasi terhadap kinerja, namun nilai koefisien korelasi pengaruh tidak langsung tersebut tergolong sangat rendah.

Peneliti selanjutnya diharapkan mengembangkan penelitian ini, terkait dimensi kinerja perorangan. Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi mampu memediasi pengaruh pelatihan dan motivasi terhadap kinerja. Hasil dari uji koefisien determinasi dengan uji F dalam penelitian ini menunjukkan nilai yang lebih kecil daripada variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Hasil ini dapat menjadi referensi untuk peneliti selanjutnya untuk dapat mengembangkan penelitian dengan menambahkan variabel lain. Mengingat responden mayoritas berpendidikan dasar, peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel pendidikan atau inovasi pekerja mengingat dalam pelaksaan teknis budidaya banyak masalah yang harus disikapi dengan cepat, tepat dan cermat.

Ucapan Terimakasih

Terima kasih kepada responden dan beberapa rekan diskusi yang mendukung penelitian baik secara moril maupun materiil hingga tulisan ini dipertanggungjawabkan.

References