Articles
DOI: 10.21070/icecrs2021906

The Role of Principal Leadership in Improving the Work Ethic of Islamic Religious Education Teachers (Pai) at SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo


Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Etos Kerja Guru Pendidikan Agama Islam(Pai) Di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Role Leadership Principals Teachers’ work ethic

Abstract

The teacher is the transformational media of all the knowledge needed by students. In addition, the role of teachers is very much needed especially in Islamic-based schools that always pay attention and prioritize students to continue their studies in college. To get closer and to build with high enthusiasm for the achievement of the priorities above, the researcher conducted research at second grade of Elementary School in Sidoarjo by knowing more about the  leadership  style  of  the  principal  in  improving  the  work  ethic  of  Islamic  Education teachers. This study is entitled "The leadership role of school principals in improving the work ethic of Islamic Religious Education teachers at second grade of Elementary School in Sidoarjo". This research is a qualitative study, through a phenomenological approach that is a qualitative  research  approach  rooted  in  philosophical  and  psychological  and  focuses  on human life experiences (sociology) that produce descriptive data in the form of written or oral data from observable people's behavior. The form of research is descriptive qualitative research, namely research that describes an object relating to the problem conducted without Role, leadership, principals,  teachers’ work ethicasking research variables.The results of research on the role of principals in improving the work ethic of teachers of Islamic Education are as follows: (1) as educators: principals must have the right strategy to improve the work ethic of teachers and professional educators. (2) as a manager at school: the task of the manager is to plan something that can improve the work ethic of the teachers of Islamic Education and the quality of education, in addition the manager also organizes educational resources that have not been organized in order to unite in implementing education and control the implementation of educational outcomes . (3) as a motivator: the principal has a very close relationship with various activities in the school, such as providing motivation and encouragement, so the teacher is more disciplined and has a work spirit.

P e nd ahuluan

Pada dasarnya kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk meyakinkan orang lain agar orang lain itu dengan sukarela mau bekerja dan diajak untuk melaksanakan kehendaknya atau gagasannya.[1] Fondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah memikirkan visi dan misi organisasi, mendefinisikan, dan menegakkan secara jelas dan nyata. Pemimpin menetapkan tujuan, menentukan prioritas serta menetapkan dan memonitor standar.[2] Selain itu, ada definisi yang lain, kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan dan menggerakan orang lain agar mereka mau bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Bahkan ada sebagian yang merumuskan bahwa kepemimpinan sebagai suatu kepribadian seseorang yang mendatangkan keinginan pada kelompok orang-orang untuk mencontohnya atau mengikutinya, atau yang memancarkan suatu pengaruh yang tertentu, suatu kekuatan yang sedemikian rupa sehingga membuat orang-orang mau melakukan apa yang dia kehendaki. Dari berbagai definisi tersebut, bisa ditarik kesimpulan sederhana bahwa kepemimpinan pada intinya mengandung unsur kemampuan seseorang, yaitu mampu mempengaruhi orang lain dapat mencapai tujuan bersama. Kemudian kepemimpinan pendidikan adalah salah satu hal yang penting untuk diterapkan di sekolah atau madrasah sebagai kelompok yang terorganisisr untuk mencapai tujuan pembelajaran pendidikan Islam. Sebab, pada hakekatnya kepemimpinan pendidikan yang dilaksanakan oleh kepala sekolah sebagai penentu keberhasilan segala aktivitas yang ada di lembaga pendidikan Islam tersebut.

Jadi, dalam kerangka ini kepemimpinan pendidikan Islam yang digerakkan oleh kepala sekolah atau madrasah merupakan sebuah proses yang mepengaruhi kegiatan- kegiatan kelompok yang sudah teroraganisasi dalam usaha-usaha menentukan tujuan pendidikan Islam yang hendak dicapainya, yaitu untuk membentuk manusia menjadi insan paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. Peranan kepemimpinan pendidikan Islam dalam kerangka pemikiran Ibnu Taimiyah lebih menyederhanakan tujuan pendidikan Islam ke dalam tujuan pokok yaitu: Pertama, membentuk individu muslim., kedua, membentuk umat muslim., dan ketiga, dakwah Islam di dunia. Maka dari itu, kepemimpinan pendidikan Islam merupakan segmen (bagian) penting dari organisasi atau lembaga pendidikan Islam, di mana organisasi atau lembaga tersebut tersusun atas dasar pembagian fungsi-fungsi dan tugas yang berbeda-beda yang wajib dilaksanakan.

Untuk menindaklanjuti pernyataan di atas, maka kepala sekolah harus menyadari tentang peranannya sebagai kepala sekolah. Peranannya bukan hanya paham dan bisa menguasai teori-teori kepemimpinan saja akan tetapi harus memiliki pengalaman yang cukup sebagai bahan dalam memimpinnya. Di samping itu juga, seorang kepala sekolah harus bisa mengimplementasikan kemampuannya dalam kerja nyata. Kepala sekolah juga merupakan personel sekolah yang pertama bertanggung jawab terhadap segala bentuk aktifitas dan kegiatan sekolah. Ia mempunyai wewenang dan bertanggung jawab secara totalitas untuk mensukseskan semua kegiatan pendidikan dalam lingkungan sekolah yang dipimpinnya sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan etos kerja guru secara khusus dan mutu pendidikan di sekolah secara universal. Hal ini terjadi karena kepala sekolah merupakan ujung tombak bagi pengembangan sumber daya manusia (SDM) terutama guru. Dalam penjelasan di atas bisa kita lihat begitu besarnya peranan dan tanggung jawab kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan, sehingga bisa dipastikan bahwa sukses tidaknya organisasi sekolah sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepala sekolah itu sendiri. Dengan demikian seorang kepala sekolah dituntut untuk memiliki ilmu pendidikan secara menyeluruh.

Kehadiran kepemimpinan kepala sekolah sangat penting dalam membangun sekolah yang berkualitas sebab kepala sekolah merupakan penggerak utama bagi sumber daya sekolah terutama guru-guru dan karyawan. Namun yang perlu diingat bahwa keberhasilan kepala sekolah dalam kepemimpinannya dalam rangka melaksanakan tugasnya bukan ditentukan oleh keahliannya di bidang konsep dan teknik saja, akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh kemampuan dalam memilih gaya memimpin dan memberikan kesempatan kepada guru untuk berekspresi dalam mengembangkan dirinya. Hal ini tentunya sesuai dengan kondisi yang terjadi. Kalau ditinjau dari hakikat, dasar dan tujuan pengembangan sekolah yang sebenarnya, maka kepemimpinan kepala sekolah juga merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan sekolahnya melalui program yang sudah tersusun dengan rapi dan sistematis untuk dilaksanakan secara bertahap.

Me tode Penelitian

Dalam menentukan jenis penelitian yang akurat, maka harus dipastikan penentuan metode penelitian supaya sesuai dengan sifat dan karakteristik permasalahan yang diangkat atau diteliti. Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif dengan memaknai sebuah perspektif fenomenologi, yaitu bagaimana seorang peneliti mampu memahami serta menghayati kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan etos kerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Untuk mengetahui kepemimpinan kepala sekolah ada beberapa tingkatan yang perluh dilakukan oleh seorang kepala sekolah dalam meningkatkan etos kerja pada guru Pendidikan Agama Ialam (PAI), tingkatan itu dapat membantu kepala sekolah dalam meningkatkan etos kerja. Dalam menentukan tingkat tersebut, maka kepala sekolah harus memerlukan kajian yang sangat mendalam sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang akurat dan tepat. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini mengakui empat kebenaran antara lain: kebenaran empirik sensual, empirik logik atau teoritik, empirik etik, dan kebenaran empirik trasendental. Kemampuan penghayatan dan pemaknaan manusia atas indikasi empirik manusia menjadi mampu mengenal ke-empat kebenaran tersebut.[3]

Dalam pendekatan fenomenalogi ilmu yang valid merupakan abstraksi, simplikasi, atau idealisasi dengan realitas yang terbukti koheren dengan logika. Bagi fenommenologi, semua ilmu itu berasal dari pemahaman intelektual terhadap fenomena yang sekian lama dibangun berdasarkan pengalaman empirik.[4] dengan melalui pendekatan fenomenologi ini, peneliti berupaya untuk memahami kebenaran empirik baik empirik logika maupun teori. Kebenaran empirik etik dan empirik transendental dari sebuah sistem proses yang terjadi di sekolah dengan tujuan untuk menemukan bentuk kepemimpinan serta akibat yang akan muncul di permukaan.[5] kemudian bisa berpengaruh terhadap peningkatan etos kerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

Setelah melakukan penelitian, data-data empirik yang sudah diperoleh dengan melalui beberapa teknik dan cara pengumpulan data berdasasrkan fokus penelitian, maka dapat dipahami sebagai pengetahuan dan diberi pemaknaan sesuai dengan kontruksi yang dibangun secara teoritik untuk menawarkan sejumlah klaster tata pikir logi untuk memahami dan memberikan pemaknaan sejumlah data penelitian jenis dan pendekatan ini.6

Hasil dan Pembahasan

Keadaan etos kerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo bisa dikatakan belum tuntas dan perlu adanya peningkatan, baik keadaan pada saat proses pembelajaran dengan peserta didik maupun keadaan dengan lingkungan sekolah. Kemudian harus tercipta rasa dan semangat keperdulian terhadap semua komponen sekolah, sebab sebagai seorang pengajar atau pendidik tugasnya tidak hanya mengajar dan mentrasformasikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik di dalam kelas, tapi bagaimana ia mampu menciptakan suasana lingkungan sekolah yang nyaman, damai, dan bisa akur dengan semua pihak. Keadaan demikian harus menjadi perhatian utama bagi kepala sekolah untuk lebih fokus melihat dan mengamati terhadap kondisi etos kerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

Kondisi etos kerja guru yang biasa dijumpai adalah keterlambatan datang ke sekolah, tidak ada kedisiplinan waktu dalam menyelesaikan tugasnya, dan kurang adanya rasa keperdulian terhadap lingkungan sekolah, baik yang bersangkutan dengan perbaikan moral, karakter peserta didik, maupun keperdulian terhadap sesama guru atau rekan kerja, dan masih banyak lagi persolan tentang keadaan etos kerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang harus menjadi pusat perhatian kepala sekolah. Berangkat dari persoalan tersebut, kepala sekolah harus lebih banyak berinteraksi dan perduli terhadap kinerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dengan tujuan untuk lebih mengetahui sebab-sebab yang menjadi alasan kenapa etos kerja guru bisa turun, baik pada saat proses pembelajaran di dalam kelas maupun keperdulian terhadap lingkungan sekolah secara umum. Hal semacam ini yang menjadi tugas utama bagi kepala sekolah agar lebih banyak lagi memperhatikan, mengamati, menganalisa, menyelesaikan masalah, dan memberikan solusi terhadap semua bentuk persoalan yang ada di ruang lingkup sekolah, khusunya terhadap penurunan etos kerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

Kepemimpinan merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari manajemen berbasis sekolah, dan sangat penting untuk diterapkan dalam mengatur, membina, dan mengembangkan sekolah. Kemudian kepemimpinan juga selalu ada dalam diri setiap kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi ditingkat sekolah, dengan berbagai macam gaya kepemimpinan masing-masing dari kepala sekolah. Oleh karena demikian, kepala sekolah dituntut agar mampu mengatur, mengarahkan, dan mendorong seluruh anggotanya supaya mampu melaksanakan proses pembelajaran yang efektif, menyenangkan, serta mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan visi dan misi sekolah tersebut. Dalam hal ini, ada beberapa peran kepala SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo yang peneliti angkat dalam melakukan penelitian ini,dan hal ini dianggap sangat penting untuk diterapkan guna untuk mengatur dan mengarahkan seluruh guru dan karyawan supaya tetap semangat dalam menjalankan tugasnya masing-masing,dan diharapkan dari beberapa peran tersebut bisa dilaksanakan secara tuntas. Maka secara garis besar dapat dipastikan peran kepemimpinan kepala sekolah sudah baik.

K e simpulan

Etos kerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo pernah mengalami penurunan sebagaimana tampak pada beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut:a) Tidak ada kedisiplinan terhadap guru Pendidikan Agama Islam (PAI), baik dalam kedisiplinan datang ke sekolah maupun dalam menyelesaikan tugasnya; b) Kurangnya rasa kepedulian terhadap lingkungan sekolah dalam berpartispasi diberbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah; c) Tidak ada rasa semangat pada saat memberikan pembelajaran terhadap peserta didik, dan kurang memberikan dukungan secara konsisten dan berkelanjutan terhadap peserta didik yang mendapatkan prestasi.

Kepala sekolah SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo telah melaksanakan peran kepemimpinannya dalam meningkatkan etos kerja guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagaimana dibuktikan antara lain: a) Terbentuknya kembali sikap kedisiplinan terhadap guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Hal ini dapat menunjukan adanya rasa kepedulian dan kepatuhan terhadap peraturan sekolah. Sikap kedisiplinan initidak hanya disiplin dalam datang lebih awal di sekolah, mengerjakan tugas pengajarannya tepat pada waktunya, akan tetapi kedisiplinan dalam berbagai kegiatan sekolah; b) Di dalam pengajarannya, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat menguasai materi dan berbagai metode pengajaran sehingga ia mampu menguasi karakteristik peserta didik baik dari aspek moral, fisik, sosial, maupun emosional; c) Guru pendidikan Agama Islam (PAI) mampu mengembangkan kurikulum yang berkaitan dengan bidangnya. d) Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)memiliki motivasi dan kebebasan dalam mengembangkan bakat yang dimilikinyaguna menunjang proses pembelajaran

References

  1. Mukhamad Ilyasin, dan Nanik Nurhayati, Manajemen Pendidikan Islam, Malang: Aditya Media Publishing, 2006.
  2. M. Ngali Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2008.
  3. Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya,2005.
  4. Erna Widodo dan Mukhtar, Konstruksi ke arah Penelitian Deskriptif, (Yogyakarta: Avyrouz cetakan pertama, 2000.
  5. H. M. Musfiqon, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya, 2016.
  6. Winarno Surachmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung, Tarsito, 2003
  7. W. Mantja. Manajemen peningkatan Mutu Pendidikan, Ilmu Pendidikan Jurnal Filsafat Teori dan Praktek Pendidikan, Malang : PPS IKIP, 1988.