Articles
DOI: 10.21070/icecrs2021913

Management of Islamic Education Institutions in the Tahfiẓ Al-Quran Program at Ma'had Umar Bin Al-Khattab University of Muhammadiyah Surabaya


Manajemen Lembaga Pendidikan Islam Dalam Program Tahfiẓ Al-Quran Di Ma’had Umar Bin Al-Khattab Universitas Muhammadiyah Surabaya

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Management of Islamic Education Institutions Tahfiẓ Al- Qur'an Program

Abstract

Management of  Islamic education institutions can be defined  as a form of cooperation to carry out planning functions, organizing, preparation of personnel or staffing, direction and leadership, and supervision of the efforts of members  of  Islamic  education  institutions  and  the  use  of  human,  financial, physical and other resources by making Islam the foundation and guide in their operational practices to achieve the objectives of Islamic education institutions in various types and forms which essentially try to help someone or a group of students in instilling teachings and / or develop Islamic values. This study wanted to find out the management and defense owned by Islamic education institutions in  managing  Islamic  education  institutions.  This  study aims  to  determine the management and challenges of Islamic education institutions in the tahfiẓ al- Qur'an program in Ma’had Umar Bin Al-Khattab, Muhammadiyah University of Surabaya. This type of research is qualitative research, namely research that produces descriptive data, namely a type of research that seeks to present data and actual facts about the management of Islamic education institutions in the tahfiẓ al-Qur'an program in Ma'had Umar Bin Al-Khattab University Muhammadiyah Surabaya. Data collection techniques used in this study were (1) interview (2) observation (3) documentation. For data analysis using descriptive techniques, the application is carried out in three activities, namely data reduction, data presentation, and conclusion or verification. The results of this study indicate that first, planning in Ma'had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab Surabaya carried out activities (1) developing a strategic plan, which included vision and mission, objectives, strategic programs, implementation strategies, monitoring and evaluation; (2) arranging the rules of the santri (3) compiling technical guidelines for the implementation of activities. Second, organizing in managing Ma'had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab, including (1) arranging the organizational structure and the map of the program's responsibility (2) preparing the tasks and positions of each personnel (3) structuring the program. Third, the mobilization in Ma'had Tahfiẓ Umar Bin Al- Khattab was said to be (1) motivating; (2) coordination; (3) leadership and (4) maintaining good relations with ustadh, santri and staff. Fourth, controlling in Ma'had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab is divided into (1) monitoring and evaluation (2) assessment. Fifth, the constraints of management of Islamic education institutions in the Islamic program in Ma'ad Umar Bin Al-Khattab consist of, (1) financial activities and operations in Ma'had Tahfiad Umar Bin Al-Khattab Surabaya still rely on permanent donors; (2) makeshift facilities; (3) Inadequate human resources. The six obstacles faced in the tahfiẓ al-Qur'an program are (1) the saturation and laziness felt by the santri in carrying out established programs; (2)  guarding  the memorization  of  the  Qur'an  that  has  been  memorized  (3) guarding themselves from immorality. From the results of this study it can be suggested (1) in improving the quality of Islamic education institutions, Ma'had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab Surabaya should improve the quality of institutional management; (2) The Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) should provide funds for operational and learning activities that exist in Ma’had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab Surabaya; (3) The Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) and the Muhammadiyah Union pay more attention to existing facilities in Ma’had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab Surabaya. (4) the results of this study can be used as reference material in developing and implementing management of educational institutions, especially in Islamic education institutions that implement the tahfiẓ al-Qur'an program; (5) the need for development research on the comparison of management of Islamic education institutions in the tahfiẓ al-Qur'an program, especially the management of educational institutions in Ma’had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab Surabaya.

P e n d a h u l u an

Lembaga pendidikan, sebagaimana yang ada di Indonesia sudah muncul saat Islam itu ada, yaitu sejak zaman nabi Muhammad SAW. Rumah salah seorang sahabat nabi yang bernama Arqom bin Abil Arqom merupakan lebaga pendidikan Islam pertama yang didirikan oleh rasulullah. Lambaga pendidikan ini dikenal dengan nama (dâral-arqom)yang artinya rumah Arqom. Oleh karenanya nabi Muhammad SAW. adalah pendiri sekaligus pendidik pertama dalam lembaga pendidikan Islam. Salah satu kurikulum dalam pendidikan Islam adalah al-Qur’an, yaitu pelajaran menulis, membaca, menghafal, memahami, serta mengamalkan isi kandungan al-Qur’an. Seiring berkebangnya dakwah Islam, masjid dijadikan sebagai lebaga pendidikan Islam ke dua setelah daral-arqom, dan menurut sejarah Islam masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah adalah masjid at-Taqwa di Quba ketika beliau berhijrah ke Madinah.[1]

Kemudian berturut-turut dibangunlah banyak masjid mengikuti penyebaran Islam dan perluasan wilayah kekuasaan pemerintahan Islam. Sesuai dengan sejarah perkembangan Islam, masjid selain dijadikan sebgai tempat ibadah, juga dijadikan sebagai madrasah, universitas, majlis-majlis ilmu, dan lain-lain. Dengan demikian, masjid berperan besar dalam siklus kehidupan umat Islam, bahkan sampai sekarang masjid sebagai lebaga yang penting dalam pendidikan dan penyebaran Islam.[2] Seiring perkembangan Islam, semakin berkembang pula lebaga pendidikan Islam. Di Indonesia misalnya, berbagai lembaga pendidikan Islam didirikan baik yang formal maupun nonformal, diantaranya adalah raudlatul athfal/TK Islam, madrasahibtidaiyah, madrasahtsanawiyah, madrasahaliyah, pondok pesantren, dan lain-lain. Adapun tujuan utama didirikan lebaga pendidikan Islam adalah untuk mencetak generasi Islam yang memiliki tauhid yang kuat, berakhlaq mulia, dan cerdas dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.[3]

Lembaga pendidikan Islam saat ini banyak menjadikan program menghafal al-Qur’an menjadi sebuah program unggulan. Program ini bertujuan melahirkan generasi penghafal la-Qur’an, sserta Allah SWT menunjuk mereka sebagai penjaga kitabNYA. Berdasarkan data yang dihimpun pada tahun 2010 dan dilansir oleh republika.or.id dan dakwatuna.com, diperkirakan jumlah penghafal al-Qur’an di Indonesia mencapai 30 ribu orang. Angka tersebut cukup tinggi untuk kawasan Asia Tenggara. Namun bila dibandingkan jumlah keseluruhan penduduk Indonesia yang saat ini berkisar 237.641.326 jiwa, jumlah penghafal al-Qur’an di Indonesia terhitung kecil dan sedikit.[4]

Negara Indonesia juga dikenal dengan negara yang memiliki pondok pesantren terbanyak di dunia. Di antara sekian pesantren, ada beberapa lembaga pesanten yang menitikberatkan pada program tahfiẓ al-Qur’an. Berdasarkan data yang dihimpun oleh saudara Saiful Anwar dan dimuat oleh situs pustakatahfidz.net pada Desember tahun 2013 ada 148 lembaga pendidikan pondok pesanten yang menerapkan program tahfiẓ al-Qur’an secara khusus. 5Tentu ditahun 2019 ini sudah semakin banyak lagi lembaga- lembaga pendidikan Islam yang menerapkan program tahfiẓ al-Qur’an sebagai program unggulan di lembaganya.

Pendidikan menghafal al-Qur’an merupakan suatu kegiatan yang didalamnya terdapat proses penanaman akhlaq(moral) cinta terhadap al- Qur’an. Karena dunia pendidikan saat ini, banyak mengabaikan tentang pendidikan agama terutama harus memahamkan kepada anak didik tentang pentingnya menghafal, memahami serta mengamalkan ajaran al-Qur’an. Sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh salah satu tokoh pendidikan di Indonesia yang juga merupakan pendiri Muhammadiyah yaitu bapak KH. Ahmad Dahlan, dimana beliau menghafalkan, memahamkan serta mempraktekkan isi kandungan surat al-Ma’un.

Diantara keutamaan pembaca dan penghafal al-Qur’an menurut al-Qur’an dan hadits adalah:

Allah SWT menyempurnakan pahala dan menambah karunia-Nya kepada pembaca dan penghafal al-Qur’an. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”[6]

Merupakan sebaik-baik hamba dihadapan Allah SWT. Rasulullah saw bersabda :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an”.[7]

Pembaca dan penghafal al-Qur’an akan memuliakan kedudukan kedua orangtuanya pada hari kiamat. Rasulullah saw besabda:

عَن مُعَاذِنِ الجُهَنِيِ رَضَي اللٌهُ عَنَهُ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌه صَلَي اللٌهَ عَلَيهِ وَسَلَمَ مَنَ قَرَأ القُرانَ وَعَمِلَ بِمَافِيهِ اُلُبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَومَ القَيِامَةِ ضَووُهَ اَحسَنُ مِنُ ضَوءِ الشٌمسِ فيِ بُيُوُتِ الدٌنَيا فَمَا ظَنٌكُم بِالَذِيُ عَمِلَ بِهذَا

“Siapa yang membaca dan mengamalkan isi al-Qur’an ia akan mengenakan mahkota kepada kedua orangtuanya pada hari kiamat, yang cahayanya lebih baik dari pada cahaya matahari yang menerangi rumah- rumah di dunia. Andaikata hal itu terjadi pada kalian, bagaimana menurut kalian? Jika hal tersebut didapatkan oleh orang yang mengamalkan al- Qur’an”.[8]

4. Al-Qur’an akan memberikan syafaat untuk pembacanya. Rasulullah saw bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya”.[9]

Dalam pembelajaran hafal al-Qur’an, peserta didik tidak saja dituntuthafal bacaan ayat-ayat al-Qur’an, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah di samping hafal bacaan, tetapi juga harus betul pengucapan huruf dan benar bacaannya, serta sesuai dengan hukum-hukum dan peraturan membacanya menurut ilmu tajwid, karena Allah swt. Berfirman :

اَوۡ زِدۡ عَلَیۡہِ وَ رَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِیۡلًا

“Atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan”.[10]

Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas, dapat dipastikan bahwa pelajaran menghafal al-Qur’an di lembaga-lembaga pendidikan Islam sangat memerlukan bantuan manajemen untuk memperbaiki sistem, strategi, metode, dan seluruh aktifitas pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan. Ma’had Umar Bin Al-Khattab, Universitas Muhammadiyah Surabaya adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang menerapkan program tahfiẓ al-Qur’an. Program ini diadakan untuk mencetak genarasi penghafal al-Quran yang memiliki hafalan yang kuat (mutqin), bacaan yang baik sesuai dengan ilmu tatacara membaca al-Qur’an yang baik dan benar (tajwîd), serta siap mengabdi pada ummat. Ma’had Umar Bin Al-Khatab memiliki visi yaitu mencetak para penghafal al-Qur’an yang memiliki hafalan yang kuat dalam target dua tahun.

Demi mewujudkan visi tersebut Ma’had Umar bin al-Khatab mengadakan serangkaian program menghafal al-Qur’an secara berkala sebagai program harian, pekanan, bulanan dan tahunan. Program harian di ma’had ini berupa menyimak hafalan al-Qur’an, mengulangi hafalan al-Qur’an baik yang dilakukan sendiri maupun secara berpasangan (muroja’ah). Adapun program pekanan adalah memperbaiki bacaan al-Qur’an (tahsin), membaca hafalan satu juz sekali duduk, dan tes hafalan perjuz. Sedangkan program bulanan adalah tes hafalan perlima juz. Sea;lain itu ada program tahunan yaitu mendengarkan hafalan tiga puluh juz sebagai syarat wisuda hafal al-Qur’an.

Lulusan Ma’had ini banyak yang mengabdi pada masyarakat di antaranya adalah menjadi guru tahfiẓ al-Qur’an dibeberapa instansi pendidikan, imam dibeberapa masjid baik di dalam maupun diluar negeri, dan bahkan ada yang mewakili Indonesia pada MTQ internasional di Makkah. Sedangkan dalam proses menerapkan program tahfiẓ al-Qur’an di Ma’had ini memiliki tantangan-tantangan. Tantangan ini akan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan peserta didik dalam menghafal al-Quran, faktor utama terbagi menjadi dua yaitu dari dalam dan faktor yang datang dari luar lembaga ini.

M e tode

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan atau penelian kualitatif yaitu suatu jenis penelitian yang berusaha untuk menyajikan data dan fakta yang sesungguhnya tentang manajemen lembaga pendidikan Islam dalam program tahfiẓ al-Qur’an di Ma’had Umar Bin Al-Khattab Universitas Muhammadiyah Surabaya. Sedangkan jenis data penelitian pada penelian ini adalah jenis data kualitatif yaitu berupa dokumen dan buku bernilai relevan. Sehingga jenis data dalam penelitian ini adalah jenis data kualitatif yaitu berupa data berupa kata, teks, rekaman audio, kalimat, pernyataan maupun dokumen. Data juga dapat berupa bentuk gambar atau foto, suara maupun data kombinasi.

Sumber dalam penelitian ini mengungkapkan dari mana asal data yang diperoleh. Dalam penelitian ini data diperoleh dari data primer maupun data sekunder. (1) Data primer merupakan data utama yang berkaitan langsung dengan masalah penelitian serta didapatkan secara langsung dari informan ataupun responden. Diantara teknik untuk mendapatkan data primer adalah teknik wawancara, tenik opservasi, tenik kuesioner, teknik dokumentasi,dan teknik tes.11 (2) Data sekunder ialah data yang terkait tidak langsung dengan masalah penelitian dan tidak dijadikan acuan utama dalam analisis dan penarikan simpulan penelitian. Dalam mengumpulakan data dengan menggunakan data sekunder penulis harus menelaah beberapa referensi seperti buku, jurnal, makalah, tesis, dan lain-lain.[12] Pada penelitian ini sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Sehingga yang dijadikan sumber data primer adalah mudîrma’had, para ustadz, para karyawan, serta santri di Ma’had Umar bin al-Khattab. Data tersebut diambil dari pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada saat berlangsungnya proses pembelajaran hafal al-Qur’an.

Dalam penelitian pasti ada teknik utama yang digunakan peneliti untuk menggumpulkan data penelitian. Teknik utama ini biasanya digunakan untuk menggali data primer dalam penelitian. Sedangkan data sekunder digali menggunakan teknik lain yang juga diterapkan dalam penelitian. Adapun teknik-teknik pengumpulan data yang bisa digunakan adalah : (1) Teknik wawancara; Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dilakukan untuk mencari data tentang pemikiran, konsep atau pengalaman mendalam dari informan. Tenik wawancara ini sering dijadikan teknik pengumpulan data utama dalam desain penelitian kualitatif. Penggunaan teknik wawancara dalam penelitian dimaksudkan agar peneliti dapat mengkonstruksi pemikiran, kejadian, kegiatan, motivasi, persepsi, kepedulian, pengalaman, serta opini mendalam tentang masalah penelitian. Dengan demikian peneliti dapat melakukan reduksi dan analisis berdasarkan data yang didapatkan. Peneliti melakukan komunikasi interaktif dengan sumber informasi untuk mendapatkan data sesuai masalah penelitian. Dalam proses wawancara terjadi tanya jawab antara peneliti dan informan, baik secara terstruktur maupun tidak terstruktur.13 Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara kepada informan yang berada di Ma’had Umar bin Al-Khattab, dianatarnya adalah kepada mudîr, ustadh pembimbing tahfidh, karyawan dan santri tahfiẓ di ma’had Umar Bin Al Khattab. Dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara secara lansung. (2) Observassi; Observasi adalah mengumpulkan data dengan menghimpun data penelitian berdasarkan pengamatan panca indra yang dilakukan peneliti di lokasi penelitian.[14]

Pada teknik ini peneliti melakukan pengamatan Observasi terhadap kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan proses pembelajaran hafal al- Qur’an, serta santri di ma’had Umar Bin Al-Kattab selama mereka menjalani proses menghafal di ma’had. Pada saat observasi, observer mengamati secara lansung selama proses pembelajaran berlangsung. Ada tiga jenis observasi, yaitu observasi lansung, observasi dengan alat (tidak lansung), dan observasi partisipasi.[15] Dalam penelitian ini, jenis observasi yang dilakukan oleh peneliti yaitu obervasi langsung dimana peneliti langsung terjun ke lapangan untuk mengamati peristiwa yang terjadi pada objek penelitian secara terbuka dan diketahui oleh subyek-subyek penelitian. (3) Teknik dokumentasi; Teknik dokumentasi yakni teknik yang digunakan dalam pengumpulan data fakta dan data yang tersimpan dalam bentuk teks, buku, dan lain sebagainya. Metode ini dapat digunakan untuk mencari data berupa: (a) Sejarah ma’had, jumlah santri, ustadh, profil ma’had, maupun data lain yang diperlukan. (b) Dokumentasi kegiatan belajar-mengajar, dan dokumentasi pendukung lainnya. Dalam penelitian ini penulis melakukan pencarian data ke ma’had Umar Bin Al-Khattab. Demi mendapatkan data yang dibutuhkan sesuai dengan keperluan penelitian yang peneliti perlukan.

Analisis data yaitu proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca. Hasil analisis masih harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh peneliti, apa yang tersirat dari hasil tersebut. Hasil dan interpretasi data digunakan untuk menarik kesimpulan dalam rangka menjawab masalah yang telah dirumuskan.[16] Tahapan terakhir penelitian adalah analisis data. Kegiatan analisis ini dilakukan setelah data terkumpul dan direduksi sesuai dengan fokus masalah penelitian. Dalam tahapan penelitian kuantitatif, analisis data dilakukan setelah data dikonfersi dalam bentuk kuantitatif dan ditabulasi. Proses analisis data kualitatif, berbeda dengan analisis data kuantitatif, baik dari sisi instrumen maupun langkah-langkah analisis yang harus dilakukan karena jenis data berbeda maka tekhnik yang digunakan analisis juga disesuaikan dengan jenis data tersebut.

Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Data kualitatif berupa kata, kalimat, gambar, serta bentuk lain yang memiliki variasi cukup banyak dibandingkan data kuantitatif . Analisis kualitatif merupakan analisis yang mendasarkan pada adanya hubungan semantik antarmasalah penelitian. Analisis kualitatif dilaksanakan dengan tujuan agar peneliti mendapatkan makna data untuk menjawab maslah penelitian. Oleh karena itu dalam analisis kualitatif data- data yang terkumpul perlu disistematisasikan, distrukturkan, disemantikan, dan disintesikan agar memiliki makna yang utuh. Adapun analisis penelitian kualitatif menggunakan beberapa langkah analisis data yaitu mengorganisasikan data, membuat kategori, mereduksi data, menyajikan data terfokus, menganalisis data dan memaknai temuan penelitian.[17]

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data yang dikembangkan oleh Miles and Huberman yang berpendapat bahwasannya kegiatan atau aktivitas dalam menganalisis data kualitatif dilakukan secara terus menerus sampai tuntas. Aktivitas dalam analisis data yaitu data reductionatau reduksi data, data displayatau penyajian data dan concusliondrawing/verificationatau penarikan kesimpulan. Sehingga analisis yang digunakan adalah model groundedtheoryatau model interaktif.[18] 1) Reduksi data; Mereduksi data berarti merangkum data, memilah-milah hal-hal pokok dalam pembahasan, memfokuskan kepada hal yang penting, mencari tema maupun pola data serta menyisihkan hal yang tidak perlu. Sehingga dengan mereduksi data, maka akan terlihat gambaran data yang lebih jelas serta memberikan kemudahan untuk peneliti dalam melakukan pengumpulan data selanjutnya. 2) Display data; Display data adalah menyoroti secara jelas data yang diperlukan. Sehingga dalam penelitian kualitatif ini, penyajian data dapat disajikan berupa uraian singkat, bagan maupun dalam bentuk lainnya yang lebih mudah untuk dianalisis. 3) Penarikan kesimpulan dan verivikasi; Langkah terakhir dalam analisis data penelitian kualitatif menurut Misel and Huberman yaitu menarik kesimpulan dan verivikasi. Sehingga data yang sudah dikumpulkan dengan sebuah kesimpulan yang menjadi bahasan utama dalam penelitian.

Setelah melakukan analisis data, langkah selanjutnya yakni peneliti harus melakukan interpretasi data, interpretasi data adalah upaya memberikan makna dari data yang terkumpul yang kemudian menjadi hasil analisis.[19] Pembahasan dari hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau maupun mengamati hasil penelitian secar kritis dengan melihat teori yang relevan serta informasi akurat yang sudah didapatkan dari lapangan.20 Dalam hal ini peneliti melakukan interpretasi dengan menguraikan secara deskripsi hasil dari analisis data yang telah dilakukan.

Ana l is i s

Zainal Aqib mengatakan: “lembaga pendidikan Islam adalah merupakan wahana yang dipergunakan sebagai tempat berlangsungnya proses pemupukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap guna mewujudkan segenap potensi yang ada dalam diri seorang pesereta didik sesuai ketentuan Islam.”[21] Dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan Islam, memerlukan manajemen yang baik sehingga melahirkan sebuah lembaga pendidikan Islam yang bermutu dan berkemajuan. Hal ini harus dilakukan karena lembaga pendidikan Islam mendapat tantangan yang sangat besar sesuai perkembangan zaman.

Ma’had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab Surabaya, adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang berusaha mengikuti perkembangan zaman khususnya dalam bidang pendidikan Islam. Ma’had ini menghadirkan sebuah program unggulan yaitu program tahfiẓ al-Qur’an dalam tempo dua tahun dengan menghasilkan para penghafal al-Qur’an yang mutqin. Ma’had ini didirikan atas kerja sama AsiaMuslim Charity Foundation (AMCF) dan Perserikan Muhammadiyah Indonesia, dan dikelola oleh Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Dari hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan di Ma’had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab, peneliti menganalisis hasil penelitian ini sebagai berikut : 1) Setelah peneliti melakukan opebservasi dan melakan wawancara tentang Manajemen lembaga pendidikan Islam, Ma’had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab Surabaya dalam pengelolaannya sama dengan lembaga pendidikan Islam pada umumnya.

Dalam penelian ini peneliti menggunakan teori Pierce L dan Robinson yang menjelaskan fungsi-fungsi manajemen, yang sering digunakan oleh beberapa lembaga pendidikan di Indonesia, maka formulasi yang akan dijelaskan lebih jauh di sini, yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan atau pelaksanaan (directingatau actuating), dan pengawasan atau pengendalian (controlling).

Dalam perencanaan pembelajaran tahfiẓ al-Qur’an di Ma’had Umar Bin Al-Khattab Surabaya, yaitu mudir ma’had dan para ustadh merancang serangkaian program pembelajaran harian, pekanan, bulanan, semesteran dan tahunan. Sedangkan dalam pemebelajran harian para ustadh tidak menyusun silabus sebagaiman yang ada pada lembaga pendidikan Islam pada umumnya.

Pengorganisasian pada pembelajaran hafal al-Qur’an di Ma’had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab, AMCF menunjuk seorang mudir (Ustadh Baidum Makenun, Lc. M.Th.I al Hafiẓ) dan dibantu dua orang ustadh yaitu ustadh Edi Hariyanto al-hafiẓ dan ustadh Anang Hidayanto, al-hafiẓ, untuk menjalankan program tahfiẓ al-Qur’an di ma’had ini. Pada hakekatnya tenaga pengajar di ma’had ini sangat minim, oleh karena itu mudir mengambil kebijakan, kepada para santri yang telah wisuda untuk mengabdi selama enam bulan.

Pelaksanaan program pembelajaran tahfiẓ al-Qur’an di Ma’had Umar Bin Al-Khattab Surabaya, dilakukan sesuai program yang sudah direncanakan dan sudah tejadwal. Kegiatan utama di sini adalah kegiatan harian diantaranya, santri wajib sholat lima waktu berjma’ah, santri wajib menyetor hafalan baru dan hafalan muroja’ah, mebiasakan santri untuk disiplin waktu, ( waktu istirahat/tidur, waktu makan, dan mandi).

Pengawasan dalam program tahfiẓ langsung dilakuakan oleh mudir ma’had, dan menyerahkan laporan bulanan ke AMCF di Jakarta.

Tantangan yang yang dihadapi lembaga pendidikan Islam dalam program tahfiẓ al-Qur’an di Ma’ha Umar Bin Al-Khattab adalah munculnya program tahfiẓ al-Qur’an sebagai program unggulan di beberpa lambaga pendidikan Islam saat ini. Bahkan yang satu kompek dengan Ma’had Umar Bin Al-Khattab berdiri sebuah ma’had tahfiẓ Nurul Hayat. Maka dengan hal ini, Ma’had Tahfiẓ Umar Bin Al- Khattab Surabaya tertantang untuk menyuguhkan program-program yang baik kepada masyarakat, sehingga banyak yang berminat untuk belajar Islam dan menghafal al-Qur’an di Ma’had ini.

K e s i m p u lan

Berdasarkan hasil penelitian tentang manajemen lembaga pendidikan Islam dalam program tahfiẓ al-Qur’an di Ma’had Umar Bin Al-Khattab Universitas Muhammadiyah Surabaya, dapat disimpulkan sebagai berikut : Manajemen lembaga pendidikan Islam dalam program tahfiẓ al-Qur’an diMa’had Umar Bin Al-Khattab Univeristas Muhammadiyah Surabaya, dalam pengelolaannya sudah sesuai denga teori manajemen yang dikutip penulis dari teori Pierce L dan Robinson yaitu manajemen terdiri atas, perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan atau pelaksanaan (directingatau actuating), dan pengawasan atau pengendalian (controlling). Sedangkan perencanaan pada program tahfiẓ di Ma’had Umar Bin Al-Khattab, dianataranya adalah program harian, pekanan, bulanan, semesteran dan tahunan. Sedangkan pengorganisasian pada program tahfiẓ di Ma’had Umar Bin Al-Khattab, langsung dikelola oleh pimpinan ma’had tahfiz yaitu UstadhBaidum Makenun, Lc. M.Th.I al-Hafidz.Dalam pengelolaan Ma’had Tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab UstadhBaidum Makenun, Lc. M.Th.I al-Hafidzdibantu oleh UstadhEdi Hariyanto al-Hafidzdan UstazdAnang Hidayanto, al-Hafidz, dimana beliau ditunujuk secara langsung oleh AMCF (AsiaMuslimCharityFoundation) yang berpusat di Jakarta. Sedangkan pelaksanaan pada program tahfiẓ di Ma’had Umar Bin Al-Khattab, para ustadh berusaha mendampingi para santri untuk menjalankan program-program yang telah direncanakan untuk mencapai visinya yaitu mencetak penghafal al- Qur’an yang mutqin.Sedangkan pengawasan pada program tahfiẓ di Ma’had Umar Bin Al-Khattab, langsung dipantau dan diawasi oleh AMCF (AsiaMuslimCharityFoundation).

Tantangan manajemen lembaga pendidikan Islam dalam program tahfiẓ al-Qur’an di Ma’had Umar bin Al-Khattab Universitas Muhammadiyah Surabaya adalah: a) Tantangan lembaga pendidikan Islam pada ma’had tahfiẓ Umar Bin Al-Khattab adalah 1) dana operasional yang kurang memadai, dan masih mengharap dari para donatur, 2) staf pengajar yang minim sehingga dibantu oleh santri yang menjalani pengabdian selama enam bulan, 3) fasilitas yang minim dimana hanya tersedia masjid sabagai tempat belajar, sebuah ruang kanor dan asrama. b) Tantangan program tahfiẓ di Ma’had Umar Bin Al-Khatab adalah para santri dituntut untuk mengikhlaskan niat dalam memulai hafalan al-Qur’an 2) para santri harus mengikuti program-program tahfiẓ di ma’had Umar Bin Al-Khattab 3) para santri harus melawan sifat malas dan jenuh yang muncul dalam diri mereka 4) para ustadh selalu mendampingi dan memberikan motivasi kepada para santri dalam menyelasikan hafalan al-Qur’an 30 juz secara kuat.

References

  1. Abdurrab, Nawabuddin, Teknik Menghafal al-Qur’an. Bandung : Sinar Baru,1991
  2. Al-Atsari, Ihsan & Ummu Ihsan. Mencetak Generasi Rabbani: Medidik Buah Hati Menggapai Ridha Ilahi. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I, 2017.
  3. Alhafizh Ahsin W, Bimbingan Praktis Menghafal al-Qur’an. Jakarta : Bumi Aksara, 2014.
  4. Al-Qaththan, Manna. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2013.
  5. Ammar, Abu dan Abu Fatiah. Negeri-Negeri Penghafal Al-Qur’an: Inspirasi Dan Motivasi Semarak Tahfiẓ Al-Qur’an Dari 32 Negara Di 4 Benua. Sukoharjo: Al-Wafi Publising, 2015.
  6. Annuri, Ahmad. Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an & Ilmu Tajwid. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2014.
  7. Aziz, Abdul. Hafal Al-Qur’an Dalam Hitungan Hari. Depok:CV Hilal Media Grup, 2016.
  8. Bina, Ahda, Bimbingan Praktis Menghafal al-Qur’an, Cepat Hafal al-Qur’an dan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua. Surakarta : Ahad Books, 2013. [9]Daim, Abdul. Menghafal Al –qur’an Tanpa Guru. Sukoharjo: Mumtaza Memang Istimewa, 2016.
  9. Fattah, Abdul. Revolusi Menghafal Al-Qur’an. Surakarta: Insan Kamil, 2013. [11]Hariayati, Wahyu Eko, Tesis, Metode Menghafal al-Qur’an Pada Anak Usia
  10. Dini. Yoghyakarta: Program Magister Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yoghyakarta, 2017.
  11. Kadir, Noor, Kisa Mengharukan Para Penghafal al-Qur’an. Surabaya: Pustaka Syahab, 2017.
  12. Marno danTriyo Supriyatno. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: PT Refika Aditama, 2013.
  13. Musfiqon, Muhammad. Metodologi Penelitian Pendidikan.Jakarta: PT Prestasi Pustakarya,2016.
  14. Nurzazin. Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan Islam. Malang:Edulitera,2018.
  15. Qomar, Mujamil. Dimensi amajemen Pendidikan Islam. Jakarta : Emir, 2015. [17]Qomariyah, Nurul dan Irsyad, Metode Cepat dan Mudah Agar Anak Hafal al Qur’an. Klaten: Semesta Hikmah, 2016.
  16. Yahya, Dr. Cara Mudah & Cepat Menghafal Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I, 2016.
  17. Yahya, Zakaria. At-Tibyan: Adab Penghafal Al-Qur’an. Sukoharjo : Al Qowam, 2018
  18. Yamin, Martinis. Startegi & Metode Dalam Model Pembelajaran. Jakarta:Referensi (GP Press Grup), 2013.