<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Peer Counselor Training for Prevention and Curation of Bullying Behavior among Adolescents</article-title>
        <subtitle>Pelatihan Konselor Sebaya untuk Prevensi dan Kurasi Perilaku Bullying di Kalangan Remaja</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-e27cffdf34ebf807e6aa6c6a77fc8d11" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Indrijati</surname>
            <given-names>Herdina</given-names>
          </name>
          <email>herdina.indrijati@psikologi.unair.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-7d9819dacba66302e6f412ddf08994b8" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Suprapti</surname>
            <given-names>Veronika</given-names>
          </name>
          <email>veronika.suprapti@psikologi.unair.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
        <contrib id="person-e5bd234b8c148f81bc00445c73ac1c30" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Ilham</surname>
            <given-names>Rhajiv Nur</given-names>
          </name>
          <email>rhajiv.nur.ilham-2017@psikologi.unair.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution content-type="orgname">Fakultas Psikologi</institution>
        <institution content-type="orgdiv1">Fakultas Psikologi </institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution content-type="orgname">Fakultas Psikologi</institution>
        <institution content-type="orgdiv1">Fakultas Psikologi </institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <institution content-type="orgname">Universitas Airlangga</institution>
        <institution content-type="orgdiv1">Fakultas Psikologi </institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-01-12">
          <day>12</day>
          <month>01</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
      <abstract>
        <p id="paragraph-40872f88aa4a02fd9ad6831516a922c5">The prevalence of bullying among adolescents is getting higher these days. This behavior arises because of a lack of literacy about bullying behavior and inappropriate attitudes towards bullying behavior itself. To reduce the prevalence of bullying among adolescents, it is necessary to hold interventions, both as a preventive and curative effort. This study aims to see how effective peer counselor training is as an effort to reduce the prevalence of bullying behavior in adolescents against changes in the level of knowledge and attitudes about bullying behavior. This study used a quantitative approach, involving 26 participants (male = 4, female = 22) aged 15 to 18 years. The peer counselor training activity itself consists of several methods including (1) Education and Training, (2) Display, (3) Roleplay, (4) Focus Group Discussion, (5) Field assignments, (6) Pre-test and post- test, and (7) Dissemination of knowledge and skills to other students. The data in this study were analyzed using the SPSS ver. 26 for Windows. Through this research, it is proven that peer counselor training can significantly increase knowledge and form a more negative attitude towards bullying behavior, seen from the two-tailed sig score p &lt;0.05. The results of this study have the potential to be used as an effort to reduce the prevalence of youth bullying in Indonesia.</p>
      </abstract>
      <kwd-group xml:lang="en">
        <kwd content-type="">Bullying, Peer Counselor Training</kwd>
      </kwd-group>
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-a007cfd0ff0750387c9284e1fca3fabe">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-14">Usia remaja merupakah salah satu tahapan perkembangan individu sepanjang hayat. Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak ke masa dewasa [7]. Pada masa remaja tersebut, individu memunculkan karakteristik-karakteristik yang khas dalam berbagai aspek, baik fisik maupun psikologis. Perkembangan psikologis individu pada masa remaja umumnya bergerak pesat, di antaranya pada aspek kognitif, sosial, seksual, moral, dan lain-lain. Diantara aspek-aspek tersebut, perkembangan sosial pada masa remaja menjadi salah satu aspek yang paling menonjol dan tidak dapat dihindari. Perkembangan sosial remaja ditunjukkan dengan semakin meluasnya hubungan sosial, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan terdorong untuk mencoba hal-hal baru (eksperimentasi), baik yang bersifat positif maupun negatif [1]. Dalam rangka memenuhi tugas perkembangan dalam aspek sosial, remaja harus menjalin relasi dengan teman-teman sebayanya. Keberhasilan dalam menjalin relasi dengan teman sebaya pada masa remaja tersebut merupakan investasi agar individu dapat mengembangkan relasi yang lebih matang ketika memasuki usia dewasa [11]. Semakin luas dan intensif relasi yang dibangun oleh remaja akan mengarahkan remaja pada pembentukan kelompok-kelompok sosial yang sesuai dengan tujuan mereka [8]. Selain itu, relasi yang luas dan dibangun secara intensif akan berkontribusi pada keterlibatan remaja dalam hal-hal yang positif. Meskipun demikian, tidak sedikit relasi remaja yang mengarah pada luaran negatif, seperti munculnya perilaku <italic id="_italic-17">bullying</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-16">Dan Olweus mendefinisikan <italic id="_italic-18">bullying</italic> sebagai perilaku atau perangai negatif yang menyebabkan orang lain berada dalam situasi yang tidak nyaman, dilakukan untuk melukai orang lain, dan terjadi berulang kali [10]. Perilaku <italic id="_italic-19">bullying </italic>dapat muncul dimana saja, termasuk di sekolah. Praktik <italic id="_italic-20">bullying</italic> yang trejadi di sekolah (<italic id="_italic-21">school bullying</italic>) merupakan suatu tindakan agresif yang dilakukan siswa atau sekelompok siswa secara berulang, dimana siswa tersebut memiliki kekuasaan (<italic id="_italic-22">power</italic>) atas siswa yang lebih lemah. Perilaku tersebut ditujukan untuk membuat korban merasa tidak senang dan terkadang tidak memiliki alasan yang jelas selain untuk menyakiti siswa yang dianggap lemah [6]. Munculnya perilaku <italic id="_italic-23">bullying</italic> disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pola asuh orang tua, hubungan dengan keluarga, kelompok sosial, dan media [2]. Perilaku <italic id="_italic-24">bullying</italic> dapat disebabkan oleh relasi yang dibangun dengan teman sebaya. Pola pertemanan sebaya akan membentuk perilaku remaja, termasuk pada kasus <italic id="_italic-25">bullying</italic>. Sering kali remaja yang melakukan <italic id="_italic-26">bullying</italic> justru bukan karena dorongan internal, melainkan tuntutan untuk membaur dengan kelompok. Individu dalam kelompok sosial akan berusaha untuk dapat mencapai taraf konformitas agar diterima oleh anggota kelompok lainnya [8].</p>
      <p id="_paragraph-18">Dewasa ini, kasus-kasus <italic id="_italic-27">bullying</italic>, terutama di kalangan remaja, marak diberitakan dalam media massa, baik cetak maupun elektronik. Wang [9] menyebutkan berdasarkan data internasional, 8 persen anak usia 11 tahun pernah melakukan tindakan <italic id="_italic-28">bullying</italic> dan 13 persen pernah menjadi korban<italic id="_italic-29"> bulying</italic>[4]. Jika tidak segera ditangani, maka permasalahan <italic id="_italic-30">bullying</italic> dapat berlanjut hingga tahapan usia remaja, bahkan dewasa. Kasus <italic id="_italic-31">bullying</italic> di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan, bahkan mengarah pada tindakan kriminal yang lainnya. Terdapat banyak kasus kekerasan fisik, seperti perkelahian, di kalangan remaja yang berawal dari tindakan saling olok. Secara khusus, prevalensi kasus <italic id="_italic-32">bullying </italic>di Jawa Timur, sebagai salah satu provinsi di Indonesia, memiliki angka yang relatif tinggi. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur menyatakan bahwa Jawa Timur tergolong sebagai daerah rawan kekerasan terhadap anak. Dalam kurun waktu Januari hingga Juli 2015, terjadi 263 kasus perundungan anak di Jatim dan hampir merata kejadiannya di seluruh kota/kabupaten di wilayah Jawa Timur. Meskipun belum ada data terbaru terkait jumlah spesifik anak yang terlibat dalam kasus <italic id="_italic-33">bullying</italic>, namun dapat dipastikan bahwa angkanya masih sangat tinggi. Kasus bullying yang terjadi bagaikan fenomena gunung es, dimana laporan yang diterima hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kasus <italic id="_italic-34">bullying</italic> yang terjadi.</p>
      <p id="_paragraph-20">Berdasarkan data yang penulis dapatkan melalui proses wawancara dengan Kepala SMA Negeri 1 Jember, terdapat banyak praktik<italic id="_italic-35"> bullying</italic> yang terjadi di sekolah, seperti <italic id="_italic-36">bullying</italic> verbal, psikologis, dan fisik. Bahkan siswa seolah mewajarkan tindakan saling olok secara verbal dalam keseharian. Biasanya tindakan kekerasan vebal dan psikologis yang dilakukan oleh siswa sering kali luput dari penanganan sekolah. Selama ini sekolah lebih fokus terhadap penanganan kasus-kasus <italic id="_italic-37">bullying</italic> yang melibatkan kekerasan fisik. Pemahaman siswa dan pihak sekolah terkait bullying selama ini masih sangat minim. Sering kali siswa dan pihak sekolah tidak mampu mengidentifikasi perilaku-perilaku yang tergolong dalam tindakan <italic id="_italic-38">bullying</italic>. Pihak sekolah kadang kala kesulitan membedakan mana perilaku yang tergolong tindakan <italic id="_italic-39">bullying </italic>dan mana yang tergolong tindakan agresi biasa.[3] Dalam data yang sama, pihak sekolah mengungkapkan bahwa selama ini telah melakukan pencegahan dan penanganan kasus <italic id="_italic-40">bullying</italic>, namun siswa tetap memunculkan perilaku-perilaku tersebut saat tidak sedang diawasi oleh pihak sekolah. Di samping itu, pihak sekolah, seperti guru, memiliki keterbatasan dalam mengawasi setiap siswanya. Salah satunya ketika jam istirahat. Keterbatasan ini membuat penanganan kasus-kasus <italic id="_italic-41">bullying </italic>di kalangan siswa menjadi lebih sulit.</p>
      <p id="_paragraph-22">Pengalaman yang sama sangat mungkin dialami oleh remaja secara universal. Dengan meluasnya relasi sosial yang dibangun oleh remaja, maka akan ada tantangannya tersendiri. Jika proses perkembangan sosial remaja ini tidak terkelola dengan baik dan bijaksana, maka sangat mungkin mengakibatkan dampak-dampak negatif terhadap remaja. Kesalahan dalam membangun relasi sosial dapat menjerumuskan remaja pada perilaku-perilaku yang tidak diinginkan karena kemampuan kontrol diri remaja yang belum berkembang secara optimal [7]. Untuk dapat menekan prevalensi perilaku <italic id="_italic-42">bullying</italic> di kalangan remaja, maka diperlukan kontribusi remaja itu sendiri dalam menangani kasus <italic id="_italic-43">bullying</italic>. Salah satunya dengan menjadi konselor sebaya dalam menangani kasus-kasus <italic id="_italic-44">bullying</italic> di sekolah. Penelitian ini akan melihat sejauh mana pelatihan konselor sebaya untuk menangani kasus <italic id="_italic-45">bullying </italic>dapat berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan tentang <italic id="_italic-46">bullying</italic> dan perubahan sikap terhadap<italic id="_italic-47"> bullying</italic> oleh remaja. Dengan bertambahnya jumlah siswa yang terampil menjadi konselor sebaya untuk kasus-kasus <italic id="_italic-48">bullying</italic>, maka diharapkan mampu menekan prevalensi kasus <italic id="_italic-49">bullying</italic> di sekolah tersebut.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-8e0787673371319855d95818874ccb4a">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-26">Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan ditujukan untuk mengukur program pelatihan konselor sebaya untuk prevensi dan kurasi perilaku <italic id="_italic-51">bullying</italic> di kalangan remaja. Kegiatan pelatihan konselor sebaya itu sendiri terdiri dari beberapa metode meliputi (1) Pendidikan dan Pelatihan, (2) <italic id="_italic-52">Display</italic>, (3) <italic id="_italic-53">Roleplay</italic>, (4) <italic id="_italic-54">Focus Group Discussion</italic>, (5) Penugasan lapangan, (6) <italic id="_italic-55">Pre-test </italic>dan <italic id="_italic-56">post-test</italic>, dan (7) Diseminasi pengetahuan dan keterampilan pada siswa lain. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 26 orang (pria = 4, wanita = 22) yang berusia 15 hingga 18 tahun. Seluruh partisipan merupakan siswa SMA Negeri 1 Tanggul, Kabupaten Jember, Jawa Timur.</p>
      <p id="_paragraph-30">Penelitian ini melakukan pengukuran terhadap tingkat pengetahuan partisipan tentang <italic id="_italic-59">bullying</italic> dan sikap terhadap perilaku <italic id="_italic-60">bullying</italic>. Partisipan diberikan <italic id="_italic-61">pre-test </italic>dan <italic id="_italic-62">post-test</italic> untuk melihat perubahan pada tingkat pengetahuan dan sikap partisipan terhadap perilaku <italic id="_italic-63">bullying</italic>. Skala tes pengetahuan merupakan soal pilihan ganda yang disusun sesuai dengan materi yang disampaikan saat pelatihan. Sedangkan skala tes sikap menggunakan skala yang diadaptasi dari penelitian Rudi [5]. Skala sikap tersebut memiliki nilai <italic id="_italic-64">Cronbach Alpha</italic> sebesar 0.957 Hasil yang diperoleh dari <italic id="_italic-65">pre-test</italic> dan <italic id="_italic-66">post-test</italic> selanjutnya diolah dengan menggunakan program <italic id="_italic-67">SPSS ver. 26 for Windows</italic>. Analisis data untuk skala kognitif dan skala sikap menggunakan <italic id="_italic-69">Paired Sample Test</italic> program <italic id="_italic-70">SPSS ver. 26 for Windows</italic>.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-a75687ca948d3e78111c691b257a7640">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-34">Berdasarkan analisis yang dilakukan, terlihat bahwa pengetahuan partisipan tentang <italic id="_italic-71">bullying </italic>meningkat setelah diberikan pelatihan. Hal ini terlihat dari nilai <italic id="_italic-72">sig. (two-tailed) </italic>p &lt; 0.05. Hasil analisis data <italic id="_italic-73">pre-test </italic>dan <italic id="_italic-74">post-test</italic> pengetahuan dengan <italic id="_italic-75">Paired Sample Test </italic>program <italic id="_italic-76">SPSS ver. 26.00 for Windows</italic> adalah sebagai berikut:</p>
      <table-wrap id="_table-figure-1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>Paired Samples Test</title>
          <p id="_paragraph-35" />
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-fa735b96b565821921622551cbe6fa81">
              <td id="table-cell-0aa05ba1e68e3161dedffe0d20cc04c1" colspan="10">Paired Samples Test</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-2294ca4499c9154c96029ea3c5dc81f0">
              <td id="table-cell-bebc69aaf21c9dec2049c28f34296a83" rowspan="3" colspan="2" />
              <td id="table-cell-37b5891d8125dbdb02a4432a1da85dc1" colspan="5">Paired Differences</td>
              <td id="table-cell-da01e22ae27665a7363fdc16d7e6e48a" rowspan="3">t</td>
              <td id="table-cell-8502c7404eb1572ad8cbf7539636aa47">Df</td>
              <td id="table-cell-15dca6282a4b9f6c661dd32cb4162b1d">Sig. (2-tailed)</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-f4de8a6a39cda26e30205bfb4a0b2eb2">
              <td id="table-cell-cbabd2e0f92181a21b167096e70fa498" colspan="2" />
              <td id="table-cell-b1da733f92b1e14160690dbb9270e67a" rowspan="2">Mean</td>
              <td id="table-cell-3b00e2fbd5332392fc77725f762fc9b7" rowspan="2">Std. Deviation</td>
              <td id="table-cell-80519614c9b153e96f5b62d46909a09a">Std. Error Mean</td>
              <td id="table-cell-92a1b5d14ab4a270428a3052a8d90b7d" colspan="2">95% Confidence Interval of the Difference</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-79aa917e6d4b7c3cff90d90bc6165284">
              <td id="table-cell-f8f4b05901ddd50eca0ad0f4d871a37b" colspan="2" />
              <td id="table-cell-15261af9d3fa743cc0effa22bed890fa">Lower</td>
              <td id="table-cell-84a4f4c50080064e0f9c067731ed2e9f">Upper</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-868bd605b134feb477d636bf137ea60a">
              <td id="table-cell-c500bdd651eac8f02a06a631b9aff249">Pair 1</td>
              <td id="table-cell-52c0a04d10cbba2f16fdd633026c17cb">Pretest - Posttest</td>
              <td id="table-cell-815834db9cfa38b3c569d934f9b1f23e">-8,68182</td>
              <td id="table-cell-36e6690b1c33d44191e182cd52687094">11,96577</td>
              <td id="table-cell-e293e24b643486305f0ff9d7c256b8e5">2,55111</td>
              <td id="table-cell-2208ee7849be9b3d4fbe377e7592278b">-13,98714</td>
              <td id="table-cell-67a92558eab8f28a3d8c0375004afd75">-3,37649</td>
              <td id="table-cell-1518265a47c2b73cd2d2f110c06bd80b">-3,403</td>
              <td id="table-cell-64091d8a06a0fd8f579f61596f94c5b9">21</td>
              <td id="table-cell-5ec8159a433090e289507be0c661ad6c">,003</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-36">Sikap partisipan terhadap perilaku <italic id="_italic-77">bullying</italic> juga mengalami perubahan. Sikap partisipan terhadap <italic id="_italic-78">bullying</italic> menjadi lebih negatif setelah diberikan pelatihan. Hal ini terlihat dari nilai <italic id="_italic-79">sig. (two-tailed)</italic> p &lt; 0.05. Hasil analisis data <italic id="_italic-80">pre-test </italic>dan <italic id="_italic-81">post-test</italic> sikap terhadap perilaku <italic id="_italic-82">bullying</italic> dengan program <italic id="_italic-83">SPSS ver. 26.00 for Windows</italic> adalah sebagai berikut:</p>
      <table-wrap id="_table-figure-2">
        <label>Table 2</label>
        <caption>
          <title>Paired Samples Test</title>
          <p id="_paragraph-37" />
        </caption>
        <table id="_table-2">
          <tbody>
            <tr id="table-row-226b6cc3a7eba92138668b827e8a9efa">
              <td id="table-cell-9b5d77e56254dfe170db844d674970eb" colspan="10">Paired Samples Test</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-e2dff491d4932673adcd28e18f31d0f9">
              <td id="table-cell-cd5849ab5334a82c5ffd8e43545a35d9" rowspan="3" colspan="2" />
              <td id="table-cell-3b57a9f955af2de93245f2a2a4d33460" colspan="5">Paired Differences</td>
              <td id="table-cell-4141b5d56b8707a7b52750540e9d04b5" rowspan="3">t</td>
              <td id="table-cell-eae5f1ec0bd70870bb77c3ef491f5b50">Df</td>
              <td id="table-cell-911fde22269925cc3a2981165e31c0ea">Sig. (2-tailed)</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-9a61528efd312993ee9e2de9b7a35121">
              <td id="table-cell-fe110c9236b029c04f116806cd8ff48a" colspan="2" />
              <td id="table-cell-0307c7715cac7bdd2b0834b335688537" rowspan="2">Mean</td>
              <td id="table-cell-5a3983922b2664c02c3411a84b7b5a9e" rowspan="2">Std. Deviation</td>
              <td id="table-cell-64622470c1d42fce6db92a9e59a8efa9">Std. Error Mean</td>
              <td id="table-cell-f344460ca95eee3b23d19669381d505a" colspan="2">95% Confidence Interval of the Difference</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-86aa53e2da835e81fe0267d44173d945">
              <td id="table-cell-ab73d33d1ad6eb4b01dbfe77147deffd" colspan="2" />
              <td id="table-cell-e25cff9a038e99483e7c4e431e8de003">Lower</td>
              <td id="table-cell-7db8072472c8e795cffbb559523b26c3">Upper</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-1e3ec53540c8ee0fd5b8c9ff75bd1a05">
              <td id="table-cell-1d1a3f34c34fef2e0ee0110b1640513c">Pair 1</td>
              <td id="table-cell-5c4f1f4ad2467ab90378cb4d58143ab5">Pretest - Posttest</td>
              <td id="table-cell-3f2d349a8bddd093b5e8c06a97494946">13,34615</td>
              <td id="table-cell-155728f887a075b64e15a867bd29e4a2">8,51794</td>
              <td id="table-cell-ef3e97a134d3157b30451a01434ee281">1,67051</td>
              <td id="table-cell-c55174fe7b4e0374b0b0ee9f2758c1a7">9,90568</td>
              <td id="table-cell-841e0b865f4ed2769b5e7d93d99d21c9">16,78663</td>
              <td id="table-cell-a9c61a89e6f269c1aae1be6e660adf9d">7,989</td>
              <td id="table-cell-27fb1b28aa7b07468329f9423d1856a3">25</td>
              <td id="table-cell-293e4eda4eef1745fcb6bbbeb9d3cd4e">,000</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-38">Berdasarkan uji perbedaan nilai <italic id="_italic-84">pre-test</italic> dan <italic id="_italic-85">post-test</italic> pada pengetahuan partisipan, diketahui bahwa tingkat pengetahuan partisipan sebelum dan setelah diberikan pelatihan mengalami peningkatan. Hal ini dilihat melalui nilai <italic id="_italic-86">sig. (two-tailed) </italic>sebesar 0.003, dimana p &lt; 0.05. Artinya terdapat perubahan yang signifikan antara nilai sebelum diberikan pelatihan (<italic id="_italic-87">pre-test</italic>) dengan nilai setelah diberikan pelatihan (<italic id="_italic-88">post-test</italic>). Dapat disimpulkan bahwa pelatihan konselor sebaya untuk prevensi dan kurasi perilaku <italic id="_italic-89">bullying</italic> di kalangan remaja secara signifikan dapat meningkatkan pengetahuan partisipan tentang <italic id="_italic-90">bullying</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-39">Berdasarkan uji perbedaan nilai <italic id="_italic-91">pre-test</italic> dan <italic id="_italic-92">post-test</italic> pada sikap partisipan terhadap perilaku <italic id="_italic-93">bullying</italic>, diketahui bahwa sikap partisipan sebelum dan setelah diberikan pelatihan mengalami perubahan menjadi lebih negatif. Hal ini dilihat melalui nilai <italic id="_italic-94">sig. (two-tailed) </italic>sebesar 0.000, dimana p &lt; 0.05. Artinya terdapat perubahan yang signifikan antara nilai sebelum diberikan pelatihan (<italic id="_italic-95">pre-test</italic>) dengan nilai setelah diberikan pelatihan (<italic id="_italic-96">post-test</italic>). Dapat disimpulkan bahwa pelatihan konselor sebaya untuk prevensi dan kurasi perilaku <italic id="_italic-97">bullying</italic> di kalangan remaja secara signifikan dapat mengubah sikap partisipan terhadap perilaku <italic id="_italic-98">bullying</italic> menjadi lebih negatif.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-86a8ad979a30e863d9e0db2e7843edd0">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-41">Pelaksanaan program pelatihan konselor sebaya untuk prevensi dan kurasi perilaku <italic id="_italic-99">bullying</italic> di kalangan remaja telah terlaksana dengan baik dan dinamis. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan pengetahuan partisipan tentang <italic id="_italic-100">bullying </italic>dan perubahan sikap menjadi lebih negatif terhadap perilaku <italic id="_italic-101">bullying</italic>. Berdasarkan hasil tersebut, peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap terhadap <italic id="_italic-102">bullying</italic> dapat membantu partisipan menjadi konselor sebaya yang baik dan membantu pihak sekolah untuk memiliki agen perubahan agar prevalensi perilaku <italic id="_italic-103">bullying</italic> di sekolah dapat ditekan. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk menambah wawasan pembaca terkait efektivitas pelatihan konselor sebaya untuk prevensi dan kurasi perilaku <italic id="_italic-104">bullying</italic> di kalangan remaja. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat digunakan pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk membuat peraturan sebagai upaya menekan prevalensi kasus <italic id="_italic-105">bullying</italic> di Indonesia.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-362d4b3070dcdd99e54369e10fb2388d">
      <title>Ucapan Terimakasih</title>
      <p id="_paragraph-44">Kegiatan pelatihan konselor sebaya untuk prevensi dan kurasi perilaku <italic id="_italic-106">bullying</italic> di kalangan remaja ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa dukungan dan peran serta pihak terkait. Ucapan terima kasih penulis kepada: Universitas Airlangga, khususnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang telah memfasilitasi seluruh pelaksanaan kegiatan. Pemerintah Kabupaten Jember yang telah terbuka menjalin kerja sama dengan Universitas Airlangga sehingga kegiatan ini dapat terlaksana. SMA Negeri 1 Jember yang telah berpartisipasi dalam seluruh rangkaian kegiatan pelatihan. Narasumber dalam seluruh rangkaian kegiatan. Seluruh tim pelaksana kegiatan pelatihan yang membantu pelaksanaan kegiatan dari awal hingga akhir.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>